Istri Tawanan Tuan Arogan

Istri Tawanan Tuan Arogan
Chapter 88


__ADS_3

"Jangan membunuhnya secepat itu! Kita masih membutuhkan dia."


Kalimat yang keluar dari mulut Nathan sontak membuat Laura tertawa kecil. Dia tidak mengira jika adik Michael mampu melakukan pengkhianatan seperti ini. Laura terjatuh bersimpuh di depan keduanya karena rasa sakit yang melanda, tak mampu lagi dia topang.


"Kenapa kau melakukan semua ini? Jadi, kau tidak benar-benar diculik olehnya?" tanya Laura sinis.


"Diculik? Permainan penculikan memang terasa sangat menyenangkan. Tapi, permainan menipu orang yang merasa jenius seperti kalian ternyata rasanya lebih menyenangkan." Nada sombong dan angkuh seakan menunjukkan siapa Nathan sesungguhnya.


Laura lantas kembali tertawa kecil. Jenius, apa dia sedang membual dan berada di bawah pengaruh obat. Miris sekali sosok polos itu berubah dalam sekejap mata menjadi seorang yang berbeda.


Membayangkan betapa Michael dan Argon begitu menyayangi Nathan, menyebabkan rasa kecewa di hati Laura semakin dalam. Tatkala ternyata orang yang mereka cintai hanyalah memasang topeng polos belaka dan menusuk dari belakang di saat mereka tidak ada. "Padahal Papa dan Kakakmu menaruh harapan besar padamu?" ucap Laura dengan deru napas yang cukup sulit karena harus menahan rasa sakit.


"Harapan?" Sejenak Nathan berpikir layaknya orang yang mempermainkan kalimatnya. Dia lantas melangkah mendekat pada Laura, dan berjongkok di depannya. "Menurutmu harapan itu apa? Akankah ia benar-benar ada? Bullshit!" ujar Nathan dengan sebuah senyum Chukky yang mengerikan mengembang begitu saja.


Nathan yang ceria dan polos seperti biasanya tak lagi terlihat dalam raut wajah itu. Dia seperti berubah menjadi orang lain. Akankah selama ini senuanya hanyalah tipuan belaka, sedangkan sejujurnya dia sama-sama serakah seperti ibunya. Padahal kedekatan antara dia dan Michael serta Argon terlihat begitu nyata seolah bukan sandiwara. Akan tetapi, mengapa semuanya berubah dalam sekejap mata?


Laura tidak menjawab sepatah kata pun. Rasa sakit yang mendera membuatnya enggan melayani orang-orang gila sepertinya mereka berdua. Sebaliknya, dia harus berpikir cepat. Bagaimana caranya bisa melarikan diri dari kedua orang yang ternyata bekerja sama untuk menjebaknya datang ke tempat ini. Dia tak memiliki banyak waktu jika harus menunggu kedatangan Leo.


"Harapan. Dulu aku berpikir selama kita berusaha memang benar harapan itu ada. Tapi, ternyata semua hanyalah omong kosong belaka. Tekanan demi tekanan semakin mencekikku setiap harinya. Memaksaku menjalani kehidupan yang sama sekali tidak aku inginkan."


Sejenak Nathan menghentikan kalimatnya. "Haruskah aku menceritakan apa yang aku rasakan padamu, Kakak Ipar?" Nathan bergerak membelai pipi Laura dengan begitu menjijikkan, membuat Laura membuang wajah karena muak akan sikap para pengkhianat sepertinya. "Tapi berjanjilah untuk tidak mati sebelum mengantarkan aku ke markas King Master dan menggantikanmu memimpin mereka."


Sontak Laura membelalak, kedua matanya terbuka lebar mencerna setiap kalimat yang dilontarkan Nathan. "Apa maksudmu?" tanya Laura dingin.


"Ah, aku lupa. Kau mungkin belum mendengar kabarnya. Suamimu, Kakak tercintaku. Dia adalah seorang heroik yang rela berkorban menjadikan dirinya sendiri sebagai perisai untuk melindungi Papa dan Presiden, hingga bisa melarikan diri dari rencana kudeta. Tapi, semua itu pun tak menjamin keselamatan mereka, karena Papa akan terus dikejar hingga titik darah penghabisan dan mereka hanya akan kembali dalam bentuk peti seperti yang kau terima sebelumnya." Jelas Nathan sambil berdiri bangga layaknya seorang psychopath yang menikmati siksaan korbannya.

__ADS_1


"Kudeta? Michael? Papa. Jadi kalian semua bekerja sama? Kau bahkan membunuh Nenek Eli?"


"Anggap saja begitu." Nathan beralih ke suatu sisi, menarik sebuah tong kecil yang kemudian dia gunakan sebagai tempat duduk. "Tapi, maaf membuatmu kecewa karena bukan aku yang membunuh Nenek Eli. Aku hanya menggali kuburnya dan mengirimkan padamu setelah itu, sedangkan dia? Anggap saja tewas karena termakan usia. Lagi pula dia sudah terlalu lama berkuasa."


Bukannya takut mendengar ucapan Nathan, meskipun hati Laura teriris, tetapi dia berusaha meremehkan orang-orang di depannya itu. "Menjijikkan! Kau tak hanya berkhianat pada orang-orang yang menyayangimu. Tapi juga bekerja sama dengan sampah masyarakat. Cih, kini dirimu tak lebih baik dari binatang liar di luaran sana." Laura membuang ludahnya yang bercampur darah, seakan benar-benar jijik pada tindakan Nathan.


Nathan sontak berdiri dengan raut wajah merah padam dan segera mencengkeram dagu Laura. "Menjijikkan kau bilang! Lebih menjijikkan mana, antara apa yang ku lakukan dengan perlakuan mereka padaku?"


"Apa maksudmu? Tidakkah kau melihat betapa Papa begitu menyayangimu? Dia berusaha melindungimu apa pun yang terjadi, memberikan segala kasih sayang yang bahkan tak pernah aku rasakan selama ini hanya kepadamu! Dia membebaskan dirimu berbuat apa pun dengan jalur yang kau pilih. Tapi ini kah balasan yang kau berikan!" ucap Laura dengan suara tak kalah kerasnya. Akibat emosi itu pula, dia semakin kesakitan hingga terbatuk beberapa kali dan mengeluarkan darah dari mulutnya. Perasaan menyakitkan benar-benar menjalar dan tak mampu lagi dia tahan. Namun, lagi-lagi Laura berusaha untuk kuat dan menahan diri. Tak ingin terlihat lemah di hadapan kedua orang ini.


"Jangan berbicara seolah kau mengetahui segalanya, Kakak Ipar!" bentak Nathan dengan deru napas memburu dan air bening yang berkumpul di pelupuk matanya.


"Tunggu! Dia ingin menangis? Seorang pria yang mudah menangis?" batin Laura mengamati setiap perubahan ekspresi dan emosi yang terjadi dalam diri Nathan.


"Kau tahu aturan keluarga Wilson yang dibuat Nenek Eli?"


"Nenek Eli hanya menginginkan keturunan pria di keluarga Wilson. Kau tahu kenapa Michael diterima olehnya meskipun mereka mengira dia anak seorang gundik? Semua karena dia adalah pria, sedangkan wanita? Tidak ada tempat bagi mereka menjadi untuk menjadi keluarga Wilson," jelas Nathan.


"Maksudmu?"


"Anggap saja aku sedang berbaik hati padamu saat ini, Kakak Ipar. Maka akan aku ceritakan semua rahasia kelam keluarga Wilson di mana hanya sebagian orang yang mengetahuinya." Nathan lantas kembali duduk di atas tong. "Aku terlahir kembar. Kami adalah sepasang anak laki-laki dan perempuan. Namun, Nenek Eli memerintahkan Jhon untuk membunuh sang putri setelah kami di lahirkan. Padahal saat itu kami masih dalam kandungan."


Sebagai seorang anak buah, tentu saja Jhon hanya bisa menuruti perintah atasannya. Apalagi dia hanyalah seseorang yang juga dipungut dari jalanan. Namun, ternyata takdir berkata lain, sang putralah yang tidak selamat karena mengalami asfiksia selama proses persalinan.


Asfiksia itu disebabkan karena bayinya sudah hampir keluar, tetapi terhambat di tengah jalan. Hal itulah yang menyebabkan kondisi bayi kekurangan oksigen sebelum atau selama proses lahiran, hingga berakhir dengan kulit bayi yang membiru, sesak napas, detak jantung menurun, dan lemah otot, serta berujung pada kematian.

__ADS_1


Hal itu tentu saja menjadi pukulan tersendiri bagi Lady, sedangkan Jhon yang notabene sudah menjadi kekasih gelapnya tentu saja tidak akan membiarkan sang wanita merasa tersiksa.


Jhon dengan tega menukar bayi laki-laki yang meninggal pada hari itu, dengan seorang bayi perempuan lain yang lahir di hari yang sama. Sayangnya, hanya putranyalah yang meninggal selama proses persalinan, sehingga tidak ada lagi pilihan selain membunuh bayi tak berdosa yang di tukar itu.


Mereka lantas memberi tahukan pada Nenek Eli, jika bayi perempuan sudah meninggal karena masalah persalinan, sedangkan putri kandung yang masih hidup dianggap sebagai seorang bayi laki-laki. Keduanya menutupi segala kenyataan itu dari siapa pun. Bahkan Jhon tak segan-segan menyingkirkan pengasuh yang berniat membocorkan jika bayi mereka adalah perempuan.


Beruntung saat itu Argon masih bertugas di perbatasan, sehingga dia tidak menaruh curiga sama sekali. Lagi pula sejak awal dia memang tidak memedulikan masalah Lady.


Meskipun bernama Nathan, nyatanya dia adalah seorang yang terlahir sebagai perempuan. Namun, takdir yang kejam memaksanya menggunakan identitas pria di dalam kesehariannya.


"Pernahkah kau mengalami sakitnya pisau bedah operasi di saat buah dadamu mulai tumbuh?" Nada sendu dan putus asa terdengar begitu jelas dari raut wajah Nathan.


Demi menyembunyikan identitasnya di bawah tekanan Jhon dan Lady, Nathan menjalani banyak operasi di usia yang bisa di bilang masih terlalu muda. Dengan alasan bersekolah di luar negeri agar mandiri, sebenarnya Nathan menjalani banyak pemulihan pasca operasi. Bukan hanya harus menyingkirkan segala keinginan wanitanya. Dia juga harus mengubah kelamin karena paksaan dari sang ibu.


Di bawah tekanan dan mental yang goyah, Nathan tentu saja ingin memberontak. Akan tetapi, apalah daya. Di saat dia melihat sendiri bagaimana kejamnya Nenek Eli di balik kebaikannya. Nathan hanya bisa menuruti permintaan sang ibu demi bertahan hidup di keluarga Wilson.


Dia yang awalnya hanya bersikap seperti pria. Harus benar-benar mengubah fisik menjadi layaknya seorang pria. Banyak operasi yang harus dijalani Nathan, mulai dari prosedur menghilangkan kedua payudara, pengangkatan rahim, ovarium, dan tuba fallopi.


Selain itu dia harus mengalami sakit dalam masa pembentukan kejantanan, skrotum, serta implan testis. Untuk memastikan jika dia berubah menjadi pria seutuhnya, Nathan pun masih harus menjalani beberapa operasi tambahan agar semuanya bisa berfungsi dengan baik.


"Kau tidak akan pernah tahu bagaimana rasa sakitnya semua itu, Kakak Ipar. Karena kau masih cukup beruntung dibawa pergi oleh ibumu. Tapi, aku? Siapa yang peduli dengan keinginanku? Merekalah yang membentukku menjadi seperti sekarang."


Antara miris dan kasihan, sesungguhnya dalam hati terkecil Laura menyayangkan apa yang terjadi pada Nathan. Dia hanyalah korban sejak awal, menjadi transgender tanpa menginginkan hal itu membuatnya bertindak kejam.


"Dan sekarang kau menginginkan posisi pemimpin di King Master yang seharusnya menjadi takdir Kakakmu?"

__ADS_1


"Iya, dengan menjadi penguasa mereka. Tentu saja tidak akan ada lagi yang meremehkanku sebagai pria gemulai. Lagi pula Jhon dengan bodohnya gagal mengambil hati dan kalah olehmu. Kakak juga Papa tidak akan kembali. Maka posisi itu hanya aku yang pantas mendudukinya, bukan dirimu," sinis Nathan menatap Laura.


To Be Continue...


__ADS_2