
Di suatu hutan yang lebat, hampir menjelang malam. Udara semakin dingin, langit pun menggelap. Seorang wanita bisu itu kini tengah berjalan ke arah pulang.
Dia berhenti sejenak saat melihat punggung seseorang yang cukup asing baginya di kejauhan. Dengan rambut acak-acakan yang tergerai panjang, juga tangisan lirih yang tak umum. Tidak mungkin kan setan sudah berkeliaran di waktu seperti ini di bawah sebuah pohong rindang.
Dia perlahan mencoba mendekat, memastikan penglihatannya tidaklah salah dengan jantung berdebar. Rasa lega seketika merasuk, ketika dia melihat hanya seorang wanita yang terduduk di sana sambil menangis, menutupi wajahnya dengan telapak tangan.
Terlihat pakaiannya compang camping, tangannya yang putih terdapat garis merah bekas luka memanjang seperti pecutan. Wanita bisu itu perlahan mengulurkan tangannya menyentuh bahu perempuan di depannya. Hal tersebut sontak mengejutkan sang wanita yang benar memang masih muda dan langsung menoleh ke arahnya dengan tubuh bergetar.
"S–siapa Anda?" tanya wanita muda dengan takut. Dia beringsut menjauh dari wanita bisu itu, seluruh tubuhnya bergetar seolah baru saja mengalami nasib buruk. Sungguh akting yang memukau.
Wanita bisu pun merasa bingung, jelas dia tidak bisa berkata, hanya membuka mulut dan mengeluarkan suara tak jelas. Tangannya bergerak, mencoba untuk bertanya dengan gerakan tangan itu.
Gadis muda hanya diam, menatap gerakan tangan wanita itu berkali-kali dengan gerakan yang sama dan wajah yang terlihat khawatir. Hingga akhirnya wanita paruh baya itu menyerah dan mengeluarkan buku catatan di sakunya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Tulisnya di kertas tersebut.
"Aku–aku tersesat. Me–mereka sedang mengejarku dan mencoba memperkosaku. Karena itulah aku kehilangan arah dan sampai di sini. Aku tidak tahu harus bagaimana. Kumohon, Nyonya. Tolong bantu aku!" ujar wanita muda itu lirih. Dia langsung menggenggam erat tangan wanita paruh baya itu sambil menoleh ke kanan dan kiri. Raut ketakutan tergambar jelas di wajahnya dan ditangkap oleh wanita bisu di depannya, bahkan getaran di tangannya bisa dirasakan.
Awalnya, wanita bisu tersebut memindai seluruh tubuh wanita di depannya. Sudut bibirnya lebam membiru, kancing bajunya pun hilang seakan dilepas secara paksa. Sangat mirip dengan korban pemerkosaan yang disiksa. Bahkan darah kering masih melekat di lengannya yang terluka.
"Ikuti aku! Kau aman di sini!" Tulis wanita bisu itu lagi setelah memastikan tidak ada yang mencurigakan dari wanita di hadapannya.
__ADS_1
Dengan segera wanita itu mengangguk patuh dan mengikuti langkah ke mana wanita paruh baya itu pergi. Dia mengisyaratkan bahwa rencana mereka telah berhasil pada sang kakak di balik tangannya.
Ya, wanita muda tersebut sebenarnya adalah Nathan. Namun, mereka tidak mungkin masuk ke desa itu begitu saja. Selain mengubah penampilan menjadi seorang wanita dan mengenakan wig panjang, Michael pun dengan tega menyiksa adiknya tersebih dahulu sebelum menuju ke lokasi. Tak hanya menampar pipi, Nathan bahkan harus merasakan pecutan dari kakaknya demi mencapai sandiwara terbaik serta meyakinkan layaknya korban pemerkosaan sungguhan.
Beruntungnya rencana mereka berhasil dan Nathan dibawa masuk ke daerah itu. Jika saja gagal, sia-sia sudah pengorbanan Nathan yang harus menerima siksaan dari sang kakak hari ini. Jangan tanya balasan apa yang akan diminta Nathan jika misinya berhasil kali ini. Pastinya sebuah bayaran mahal karena harus bersandiwara layaknya seorang aktor yang baru naik daun. Patut untuk diberi penghargaan tinggi bahkan debut saat itu juga.
Keduanya lantas bergerak menuju sebuah pedesaan. Suasana berbeda jelas terasa di daerah itu. Nathan semakin mengeratkan pegangannya pada wanita paruh baya di sampingnya. Dia merasa seperti dengan sengaja masuk ke kandang singa kali ini. "Sial, menakutkan sekali di sini," batin Nathan.
Bagaimana tidak, setiap kakinya melangkah, banyak wanita memicing menatap ke arahnya. Kebanyakan dari mereka berkulit hitam atau sawo terlalu matang, sedangkan Nathan sendiri merupakan kaum kulit putih, bersih, dan bersinar. Tapi jangan membayangkan Cha Eun Woo. Karena kurang lebih sama.
Wanita paruh baya itu memberi isyarat padanya agar diam. Nathan pun mengangguk patuh dan keduanya pun mulai memasuki sebuah rumah yang berukuran kecil. "Tunggu di sini sebentar! Aku akan mengambil obat dan pakaian ganti untukmu," tulis wanita tersebut di atas kertas dan menunjukkannya pada Nathan.
Nathan mengangguk patuh, pandangannya mengitari ruangan tersebut dengan seksama. Sebuah tempat tinggal sederhana yang bisa di bilang bersih meskipun dengan perabotan terbatas.
Namun, tak lama kemudian suara gelas terjatuh menyebabkan wanita bisu itu segera beranjak menuju ke sebuah kamar.
Nathan yang merasa penasaran pun mengikuti langkah kaki wanita tersebut. Kedua bola matanya seketika membulat sempurna akibat rasa bahagia. Akhirnya di saat mendebarkan dia bisa melihat sosok yang dicari sang kakak yang ternyata benar-benar ada di tempat ini.
"Laura." Tanpa sadar Nathan memanggil nama kakak iparnya itu dan hendak mendekatinya. Namun, dengan cepat wanita bisu itu menahannya dan sebilah pisau pun melekat di leher Nathan.
Awalnya Laura mengernyitkan dahi dengan wanita di depannya. Selama ini memang banyak orang yang mengejarnya, tetapi berkat bantuan Elena—wanita bisu. Dia bisa bersembunyi dengan baik di tempat ini.
__ADS_1
Laura memindai setiap inci bagian tubuh wanita yang memanggilnya itu. "Di mana aku pernah melihatnya," batin Laura.
Gadis tersebut membulatkan mata dan hampir melepaskan tawa mengingat siapa orang di hadapannya saat ini. "Lepaskan dia, Bibi Elena. Aku mengenalnya," ujar Laura setelah menyadari jika sosok di depannya adalah Nathan.
Awalnya Elena ragu untuk melepaskan wanita di tangannya. Entah sudah berapa banyak orang yang harus dia singkirkan selama beberapa waktu ini demi keselamatan Laura. Dia hanya tidak ingin kecolongan dan berakhir fatal.
"Tidak, apa-apa. Dia saudaraku, kau bisa melepaskannya," ucap Laura meyakinkan.
Setelah terlepas, Nathan segera mendekat ke pada Laura. "Syukurlah kau masih selamat. Kami mencarimu selama ini. Apa yang terjadi padamu, Laura," ucap Nathan dengan suara wanita.
Bukannya menjawab, Laura malah menoleh pada wanita paruh baya di hadapannya saat ini. "Bibi Elena, bisakah kau meninggalkan kami berdua dulu. Ada yang ingin aku bicarakan dengannya."
Dengan berat hati, Elena melangkah keluar. Namun, sebelum itu dia kembali menatap tajam pada Nathan dan mengisyaratkan jika dia mengawasi dengan menunjukkan jari tengah dan telunjuk tangannya.
"Bagaimana kau bisa berakhir di ini?" tanya Laura dingin setelah kepergian Elena.
"Kak Mich mengirimku ke mari. Dia sangat mengkhawatirkanmu."
"Setelah apa yang aku lakukan? Kau pikir aku akan percaya?" ucap Laura sedikit menekankan setiap kalimatnya yang bernada rendah. Bahkan Nathan berbicara layaknya berbisik agar tidak ketahuan oleh mereka.
"Terserah kau mau percaya atau tidak. Tapi memang begitu kenyataannya. Bahkan Papa sangat mengkhawatirkan dirimu saat ini. Jika bukan karena mereka, aku tidak mungkin menyamar seperti ini demi mencarimu di desa yang seharusnya tak pernah ada pria." Nathan mendengus, ekspresi kesal tergambar jelas di wajahnya karena pengorbanannya tak terlihat oleh Laura. "Seharusnya kau tahu. Aku seperti sedang mengantarkan nyawaku sendiri dengan datang kemari. Hanya demi mencari informasi tentangmu."
__ADS_1
To Be Continue...