Istri Tawanan Tuan Arogan

Istri Tawanan Tuan Arogan
Chapter 48: Pelarian


__ADS_3

Manusia sesungguhnya adalah satu-satunya makhluk hidup yang memiliki kesadaran moral. Hal ini menjadi pembatas yang menahan manusia agar tidak lepas kendali dan menjadi lebih kejam daripada hewan buas.


Namun kenyataannya ada beberapa tokoh yang sangat kejam. Menyiksa, memanipulasi, dan membunuh satu sama lain telah menjadi kesenangan tersendiri bagi mereka yang tinggal di kawasan Betharia.


Selain itu, para penduduk juga memiliki keyakinan yang lain daripada manusia pada umumnya. Mereka tidak memercayai adanya Tuhan dan malah mengagungkan sosok iblis.


Untuk memaksakan keyakinan para pengikut Betharia. Mereka di ajarkan bertindak kejam dan tak memiliki ampun pada para korban dikenakan hukuman mengerikan termasuk pencekikan, hukum pancung, atau diregangkan di atas rak dengan menyiksa kejahatan pria.


Elena adalah orang yang bertanggung jawab untuk mengatur kembali Inkuisisi dan memasukkan berbagai kejahatan seperti penistaan ​​agama, riba, bahkan sihir. Dia juga memerintahkan para wanita agar meninggalkan keyakinan mereka dan tidak lagi percaya adanya Tuhan, maupun Dewa, yang semuanya diyakini akan mencemari kemurnian spiritual Betharia.


Mereka yang masih memiliki keyakinan diizinkan untuk tetap tinggal, tetapi berisiko disiksa atau dieksekusi jika mereka mencoba mempraktikkan keyakinan mereka secara rahasia dan salah satu hukumannya adalah potong lidah.


Dalam berbagai macam aliran kepercayaan, sosok iblis atau setan adalah salah satu makhluk yang disebut-sebut sebagai musuh terbesar manusia. Karena iblis memiliki tugas utama sebagai penggoyah iman agar manusia terjerumus ke dalam kesesatan yang jauh dari jalan Tuhan.


Namun sayangnya, dari sekian banyak orang yang menganggap sebagai musuh sejati manusia, sebagian lainnya justru malah mengagungkan sosok setan dengan menjadi pemujanya dan masyarakat Betharia adalah para pengabdi setan itu.


Setelah menghabisi salah satu anak buah Zack, mereka lantas membawa Zack ke sebuah tempat yang sudah disediakan. Lagi-lagi pria tersebut hendak dilucuti pakaiannya. Namun, ketika tangan Elena hendak meraih baju yang dikenakan Zack. Sebuah asap tebal tiba-tiba saja muncul dan sepersekian detik selanjutnya persembahan utama mereka pun menghilang.


"Pergi cari dia sampai dapat!" teriak Betharia pada seluruh anak anak buah wanitanya yang langsung menyebar.


Di sisi lain, Nathan sulit untuk memejamkan mata. Dia bahkan memilih tidur di lantai agar selalu berada di dekat Laura. Firasatnya berkata buruk kali ini. "Kenapa Kakak tidak segera datang," gumamnya dengan tubuh bergetar.


Sedari tadi pria tersebut tak henti-hentinya mengucapkan doa dalam hati. Berharap untuk keluar dari tempat itu sesegera mungkin. Lantas, sinyal dari sang kakak yang mengetuk jendela langsung menyadarkan Nathan dari tidur ayam dan segera membukanya. "Akhirnya kau datang juga. Aku hampir mati di tempat ini."


"Waktu kita tidak banyak. Di mana Laura?" tanya Michael.


"Di sana."

__ADS_1


"Laura, Laura. Bangun." Dengan segera Michael menghampiri Laura mencoba membangunkan gadis tersebut dari tidurnya. Namun, sepertinya Laura tidak memiliki kesadaran sama sekali.


Michael lantas mengangkat tubuh itu ke gendongannya. "Ikuti aku!" ucapnya pada Nathan.


"Tapi, bagaimana dengan mereka?" tanya Nathan cemas.


"Zack dibawa lari oleh seorang wanita. Mereka sedang mengejarnya. Ini adalah kesempatan terbaik kita untuk melarikan diri," jelas Michael lantas bergerak keluar secepat kilat.


Nathan yang sejak awal sudah ketakutan di tempat tersebut tentu saja memilih langsung mengikuti sang kakak. Mereka bergerak sangat hati-hati dan sesekali bersembunyi di balik apapun yang ada.


Para penduduk Betharia sedang menyebar ke segala arah, tetapi jika mereka tidak segera keluar dari daerah tersebut bisa dipastikan korban selanjutnya adalah Nathan dan Laura.


"Bagaimana ini, Kak?" tanya Nathan cemas mendapati banyaknya orang yang menyebar di sekitar mereka.


"Kita lewat sana!" ucap Michael memberikan arahan.


"Ayo cepat!" teriak Michael.


Keduanya pun kembali melanjutkan langkah. Namun, ketakutan membuat Nathan sesekali menoleh ke belakang.


"Jangan lihat ke belakang!" teriak Michael menyadari apa yang dilakukan sang adik.


Mobil Jeep yang mereka gunakan sudah terlihat di depan mata. Sayangnya, para penduduk Betharia itu mulai melayangkan serangan demi serangan tembakan. Beruntung Michael dengan mudah menghindari meskipun membawa Laura di punggungnya. Namun, berbeda dengan Nathan yang seketika terjatuh karena sesuatu mengenai kakinya.


"Awh!" teriakan sang adik membuat Michael menoleh ke belakang. Tanpa banyak bertanya, dia langsung menarik tangan sang adik seolah Nathan adalah seekor rusa buruan yang terluka. Bahkan tak segan-segan berlari kencang meskipun Nathan kesakitan.


"Jangan pingsan dulu! Sebentar lagi kita sampai!" ucap Michael dengan susah payah membawa keduanya mendekati mobil.

__ADS_1


Beruntung mereka tiba tepat waktu sebelum para wanita itu mendekat. "Jalan cepat!" perintah Michael pada anak buahnya yang sudah bersiap di dalam mobil.


Tak lama berselang mobil yang mereka tumpangi melaju keluar dari hutan tersebut dengan brutal. Namun, suara seperti tembakan terus saja menghujam body mobil.


"Apapun yang terjadi jangan berhenti!" ucap Michael pada anak buahnya setelah melihat beberapa wanita tampak berniat menghalangi jalan.


Setelah melewati pelarian yang menegangkan akhirnya mereka pun berhasil keluar dari tempat itu. Namun, Nathan seketika tak sadarkan diri akibat efek obat tertancap di kakinya.


Berbeda halnya dengan Michael yang berhasil membawa adik dan istrinya keluar dari wilayah Betharia. Catherine yang seorang perempuan tentu saja kesulitan menyelamatkan Zack sendirian.


Dia berlari dan bersembunyi beberapa kali. "Kakak, sadarlah!" bisik Catherine bingung sekaligus takut untuk pertama kali.


Keduanya bersembunyi di balik sebuah batu besar, sedangkan para wanita itu mulai menyebar di berbagai tempat. Meskipun sebagian sudah pergi mengejar orang lain yang tak diketahuinya.


"Aku harus berbuat sesuatu," gumam Catherine menoleh ke kanan dan kiri.


Dia pun akhirnya memutuskan untuk menyembunyikan tubuh Zack di sudut batu dan menutupi dengan daun kering di sekitarnya hingga terbungkus semua. "Semoga mereka tidak menemukanmu."


Dengan segala keberanian yang ada, Catherine mencoba mengatur napas terlebih dahulu. Wanita tersebut lantas berlari ke arah lain seorang diri demi mengecoh para wanita.


Sesekali Catherine menoleh ke belakang dengan jantung yang berdegup kencang. Akan tetapi, ternyata langkahnya tak cukup untuk menyelamatkan diri, seorang wanita menarik rambutnya dari belakang.


"Awh," rintih Catherine kesakitan.


Tak ingin menyerah dengan mudah, Catherine segera memutar tubuhnya dan melayangkan sebuah tendangan pada wanita itu. Perkelahian sengit satu lawan satu pun tak bisa terelakkan. Cathrine berusaha mengeluarkan senjata api dari balik tubuhnya. Namun, sayang tanpa sadar seorang wanita lainnya sudah memposisikan diri di belakang dan langsung menancapkan sebuah suntikan ke lehernya. Tanpa sempat melawan, Catherine langsung kehilangan kesadaran dan berakhir pingsan.


To Be Continue...

__ADS_1


__ADS_2