
Michael dan beberapa anak buahnya, telah sampai di rumah James. Rencana penyerangan hari ini tampaknya sudah didahului orang lain tanpa sepengetahuan mereka.
Dahi pria tersebut mengerut di kala mendapati kediaman lawannya itu sangat berantakan. Puing-puing bangunan berserakan di mana-mana, sebagian tempat pun tampak rusak parah. Mich terdiam sejenak, mencoba untuk berpikir siapa gerangan yang telah membuat kekacauan ini, sebelum dirinya.
"Apa perang dunia baru saja terjadi di sini? Atau setan alas yang menyerang mereka?" gumam seorang anak buah, sambil menodongkan senjata di setiap langkahnya untuk berhati-hati sambil sesekali mengambil langkah.
"Periksa apa yang terjadi dan cari tahu apa masih ada sisan manusia yang hidup?" perintah Michael.
Banyak mayat berserakan layaknya ayam mati terkena flu burung. Siap untuk dibakar kapan saja. Jika mereka tak terluka karena tertimpa puing bangunan, pasti beberapa peluru bersarang di tubuh masing-masing mayat itu. Bisa dipastikan, darah yang masih segar keluar dari tubuh mereka membuktikan jika penyerangan terjadi belum lama ini.
"Tidak ada orang lain lagi yang tersisa, Master," ucap salah satu bawahan Mich.
"Siapa yang sudah berbuat seperti ini?" Michael menyusuri setiap sudut ruang, mengikuti jejak setiap mayat yang ada. Hingga tak lama kemudian, di ambang pintu sebuah kamar, sosok yang sangat di kenalnya muncul dengan kondisi terluka.
"Sayang." Michael segera melangkah menghampiri Laura dengan wajah merah padam bercampur khawatir, sedangkan anak buah Michael saling melempar pandangan. Apa semua yang terjadi ini perbuatan Nyonya Muda Wilson seorang diri.
Sebelumnya Michael sudah memperingatkan sang istri agar duduk manis dan diam di rumah sambil menunggu kabar darinya. Ternyata istrinya itu sosok wanita yang benar-benar sulit untuk di atur. Bahkan mengambil inisiatif sendiri tanpa sepengetahuannya.
"Mampus aku!" Laura mencoba menutupi wajah dengan tangan dan hendak melarikan diri. Kesenangannya belum selesai, tetapi sang suami sudah lebih dulu datang dan menemukannya.
Namun, dengan cepat Michael meraih bahu sang istri yang hendak melarikan diri. "Kau mau ke mana, Sayang?" tanya Michael dengan nada mengintimidasi dan kedua bola mata hampir keluar dari tempatnya.
Laura hanya menyengir kuda, menunjukkan senyum terbaik yang dimiliki, tetapi malah tampak seperti mengejek Michael. Berharap dengan begini suaminya bisa luluh karena dia sendiri pun tak tahu bagaimana cara merayu pria yang sedang marah. "Aku hanya bermain-main tadi."
__ADS_1
Michael tidak menanggapi alasan istrinya. Dia fokus menatap wanita di depannya dari ujung kaki ke ujung kepala. Di mana sudut bibir Laura tampak lebam dan cairan merah mulai mengering di sana. Di tambah beberapa luka di bagian tubuh Laura yang tentu saja seketika menyebabkan emosi di dada Michael membuncah. Kenapa istrinya sulit sekali untuk diatur.
"Dasar wanita nakal! Sepertinya kau harus diberi pelajaran supaya lebih menurut dengan perintah suamimu, ya." Tanpa aba-aba Michael segera membopong tubuh sang istri untuk melangkah keluar. Namun, Laura terus saja memberontak dan tidak mau diam.
"Mich, turunkan aku! Semua ini belum selesai."
"Jadi, kau masih ingin bermain-main lagi?"
"Tentu saja iya. Aku belum mendapatkan James Whale sejak tadi. Rugi kedatanganku ke sini kalau tidak berhasil membabat habis mereka."
Mendengar ucapan sang istri Michael pun menghentikan langkah. Sejenak dia lupa akan tujuan utamanya mendatangi kediaman ini tadi. "Kau belum menemukan James?" tanya Michael memastikan.
Laura dengan cepat mengangguk. "Turunkan aku sebelum dia kabur! Sia-sia sudah apa yang kulakukan kalau sampai dia berhasil melarikan diri."
Dengan segera Laura turun dari gendongan Michael untuk membuktikan jika dirinya baik-baik saja. "Lihat! I'm okay."
"Baiklah. Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Michael akhirnya memilih mengalah dan mengikuti keinginan sang istri.
Garis melengkung terlukis indah menarik bibir Laura. Sebuah senyum menunjukkan binar kebahagiaan terpancar menghiasi wajah cantiknya. "Ikuti aku! Ini akan sangat menyenangkan."
Laura yang mengenal tempat tersebut langsung menuju ke ruang bawah tanah. Tempat di mana cukup banyak jeruji besi, berisikan hewan buas mematikan dan langka yang biasa James gunakan untuk menghilangkan jejak korbannya.
"Apa ini?" Sebagai seorang mafia, Michael mengerti betul bagaimana peranan hewan bagj kelompok seperti mereka. Namun, yang tak dia sangka hewan-hewan itu tampak sangat kurus. Mereka terlalu buas jika sampai terlepas karena kelaparan. Bisa-bisa manusia pun menjadi sasarannya.
__ADS_1
"Peliharaan kesayangan James, selain manusia." Laura melemparkan sepotong daging yang tersedia di sana pada seekor hyena, hewan buas yang kerap dipanggil anjing liar. Dengan rakus hewan itu pun memakan daging yang diberikan Laura sampai habis tak tersisa. "Aku akan memberikan dirimu makanan yang enak."
"Sebagian tunggulah di sini! Kau giring hewan itu menuju tempat lain. Jika saatnya sudah tiba, kalian buka kandangnya!" ucap Laura pada beberapa anak buah sang suami yang berada di sana.
Bukannya menjawab, mereka malah saling melirik dan menatap Michael. Pria itu mengangguk sebagai tanda agar anak buahnya mengikuti perintah sang istri.
"Tapi, bagaimana cara menggiringnya, Nyonya," tanya salah satu anak buah.
"Kau ikuti aku, bawa daging-daging itu!" Mereka pun kembali bergerak sambil meninggalkan jejak daging segar di setiap jalan yang dilalui.
Hyena termasuk hewan penjelajah yang tak kenal lelah, cerdas, dan juga pemburu yang mahir. Bermodalkan penglihatan, pendengaran, dan penciuman yang sangat baik, hyena bisa dengan mudah menemukan bangkai, dan mangsa-mangsanya.
Hyena juga mampu merampok toko makanan, mengonsumsi sampah di wilayah penduduk, hingga terkadang membunuh orang. Oleh sebab itu, hyena telah banyak diburu karena dianggap sebagai hama perusak. Akibat penindasan tersebut, kini beberapa populasi hyena hampir punah.
Mereka yang tak segan-segan memakan manusia, malah dimanfaatkan oleh James untuk menghilangkan jejak. Dengan tidak memberikan makan secara teratur, otomatis sifat buas dari hewan tersebut meningkat seiring dengan godaan atas kelaparannya.
Sesuai dengan perintah Laura, anak buah Michael menyusun beberapa potong daging di jalur mereka lalui. Laura mengisyaratkan pada setiap orang agar diam, lalu mengetuk sebuah dinding secara perlahan.
Awalnya tidak ada sahutan sama sekali dari dalam. Namun, sedetik kemudian James yang berada di dalam pun menyahut. "Zack, kau kah itu?"
Tidak ada jawaban dari luar, Laura pun segera memberitahu Michael agar anak buahnya membuka kandang hyena. Sedetik kemudian, dinding bergerak sendiri, menampakkan seorang pria di dalamnya.
"Apa kabar, Paman?" sapa Laura langsung melemparkan daging mentah ke tubuh James.
__ADS_1
To Be Continue...