Istri Tawanan Tuan Arogan

Istri Tawanan Tuan Arogan
Chapter 23: Biar Kuberi Pelajaran


__ADS_3

Dapur acak-acakan, cipratan minyak merata, dan sang koki yang kini wajahnya tak cantik jelita hanya bisa mencebikkan bibir. Ternyata begini rasa diejek habis-habisan oleh seorang Michael Wilson. Meskipun tawa pria tersebut tampak begitu memesona, tetapi dengan segala upaya yang ada Laura mencoba menampik, perasaan bahagia di dalam hatinya saat ini.


Bukan saatnya dia terpesona pada pria di depannya dan tidak pula seperti ini rencananya. Michaellah yang seharusnya merasakan getaran itu. Namun, tentu saja Laura tidak akan bisa membaca bagaimana isi hati manusia.


"Lagian. Sudah tahu tidak bisa memasak kenapa tidak meminta pelayan dapur saja. Lihat apa yang sekarang kau perbuat! Hanya menambahkan beban pada pekerjaan mereka," ujar Michael melirik di mana posisi para pelayan masih mengintip.


Laura mengikuti arah isyarat Michael. Dia pun hanya bisa menghela napas panjang. "Mana aku tahu memasak akan sesulit ini. Aku hanya berniat membuatkanmu sarapan sebagai tebusan karena kemarin lukamu kembali terbuka karenaku."


Gadis tersebut lantas mengambil segelas susu di bagian lain dan mengulurkan pada Michael. "Nah, setidaknya susu kedelai buatanku lumayan bisa diminum. Kata orang kacang-kacangan membuat luka cepat kering."


Michael menerima gelas tersebut dan langsung menyeruputnya. "Lumayan. Sekarang duduklah! Biar aku yang membuat telur mata sapinya."

__ADS_1


Laura terkesiap di saat kedua tangan kekar Michael menyentuh pinggangnya dan meletakkan dirinya di meja dapur. Rasanya seperti deja vu, entah bagaimana penggambarannya. Tampaknya kali ini rencana Laura gagal total. Bukan dia yang menanamkan benih cinta pada Michael, tetapi malah sebaliknya.


Dengan lihai Mich melanjutkan apa yang dilakukan Laura. Sebagai seorang pria yang terbiasa hidup sendiri ketika berkuliah di luar negeri, tentu saja bukanlah hal yang sulit baginya untuk berteman dengan dapur.


Untuk sesaat waktu terasa begitu lambat di mata Laura. Telinganya seolah tuli dan tak dapat mendengar apa pun di sekitar. Hanya ada Michael di depan yang kini menjadi fokus perhatiannya.


"Kenapa kau tidak meminta pelayan saja yang menyiapkan sarapan? Mereka juga tidak akan marah jika kau katakan padaku itu masakanmu. Bukanlah hal itu lebih mudah dibandingkan harus bersusah payah seperti ini? Mungkin aku akan terpesona dan memuji masakanmu enak."


"Lalu? Apalagi? Tidak mungkin 'kan kau yang tinggal bersama pria tampan sepertiku akan tahan dan tidak terpesona akan karismaku? Oh, aku terlalu sempurna untuk diabaikan." Michael yang berbangga diri menyebabkan Laura semakin kesal saja. Memang pria tersebut cukup menawan di usianya yang terpaut sebelas tahun dengan Laura, tetapi tetap saja tingkat kepercayaan diri yang tinggi itu harus dipatahkan.


"Kau terlalu tua untuk membuatku terpesona." Dengan malas Laura turun dari posisinya. Dia hendak kembali ke kamarnya saja daripada harus berurusan dengan Michael.

__ADS_1


Sayangnya, dengan cepat tangan pria tersebut menghentikan langkahnya. Michael meletakkan kedua tangan di samping tubuh Laura yang terpojokkan. "Benarkah?" Tatapan lekat pertemuan keempat mata dari jarak yang begitu dekat, sangat mustahil tidak membuat Laura gugup.


Jantungnya seakan bersiap untuk melompat dari tempatnya. Perasaan aneh yang tak pernah Laura rasakan sebelumnya kini hadir perlahan tanpa disadari.


Waktu seolah berhenti di antara keduanya. Michael semakin mendekatkan wajah hingga memangkas jarak. Tanpa diduga Laura malah memejamkan mata di saat ujung-ujung jemarinya bergetar mencengkeram kuat meja yang di belakang menjadi sandaran.


Bibir Michael melengkung ke atas menikmati reaksi Laura saat ini. Namun, ketika embusan napas satu sama lain terasa semakin dekat, sebuah sandwich berisikan telur mata sapi mendarat tepat di mulut Laura. "Nah makan! Kau tidak mungkin kembali ke kamar dalam kondisi perut kosong 'kan?"


Tanpa perasaan, Michael lantas mengambil gelas susu kedelai yang diberikan Laura tadi. Pria tersebut berbalik dan melangkah kembali ke kamarnya sambil tersenyum bahagia di balik punggungnya setelah berhasil mengerjai Laura.


Sementara itu, Laura masih belum mengerti dengan situasi saat ini bahkan belum mengunyah roti yang kini menyumpal mulutnya. Tiba-tiba kedua kakinya terasa lemas, tetapi darah panas malah berdesir ke ubun-ubun. "Michael! Dasar sialan! Sini kau! Biar ku beri pelajaran!" teriak Laura murka berusaha mengejar pria di depannya.

__ADS_1


TO BE CONTINUE...


__ADS_2