
Setelah memakan perjalanan cukup lama, Michael serta Laura pun tiba di kediaman Wilson. Rumah itu tampak sepi karena memang hari masih terlalu pagi.
"Sayang, kau pergilah beristirahat terlebih dahulu! Aku mau langsung menemui Papa," ucap Michael pada sang istri setibanya mereka di bawah tangga.
Laura hanya mengangguk, memerhatikan punggung sang suami yang melangkah semakin jauh ke sisi lain sebuah ruangan. Mereka baru sejenak bersama layaknya pasangan pada umumnya. Akankah kembali terpisah karena keadaan?
Michael memasuki ruangan sang ayah setelah mengetuk dan menyapa, lantas mendapat jawaban. Dia melihat di mana pria paruh baya itu, sudah rapi dengan seragam lengkap melekat di tubuhnya.
"Papa, akan pergi sekarang?" tanya Michael tanpa basa-basi sambil melangkah mendekat.
"Kau sudah datang." Argon berbalik. Sebelumnya dia dikabarkan sudah meninggal, tetapi kembali dalam keadaan sehat. Tentu saja hal ini membuatnya mendapatkan tugas lainnya di militer. "Papa, harus pergi. Mereka mengirim Papa sebagai Hunter Killer."
Jika biasanya Argon bertugas sebagai pimpinan yang menjaga perbatasan. Berbeda dengan kali ini. Karena dia harus menjadi kapten bayangan para tim pelindung khusus untuk pemimpin negara. Hal ini dikarenakan kapten mereka menghilang entah ke mana, sehingga jalan satu-satunya hanyalah dengan mengutus Argon. Namun, keberadaan mereka haruslah seperti hantu. Bahkan pasukan itu tak memiliki identitas apa pun ketika sudah bertugas. Jadi jika mengalami nasib sial yang berujung pada kematian, tidak ada lagi orang yang mencari dan hanya akan mengikhlaskan sebab sebelum berangkat, para tim khusus itu juga sudah terikat dengan perjanjian.
"Papa, pergi sendirian?"
Argon mengangguk. "Tapi firasatku berkata buruk kali. Sepertinya akan ada guncangan besar dalam pemerintah. Kau harus siap siaga dengan caramu sendiri. Jangan sampai lengah! Mereka tidak akan mengulur waktu kali ini."
"Baik, Pa. Serahkan semuanya padaku."
"Satu lagi." Argon mengenakan topi sebelum melanjutkan kalimat. "Jaga Laura dengan baik. Papa menitipkan dia padamu. Semoga takdir kalian tidak serumit apa yang Papa alami. Genggam erat tangannya mengarungi kehidupan ini bersama. Papa percaya, kau akan selalu ada untuknya."
Michael mengerti akan apa yang dikatakan sang ayah. "Apa, Papa tidak ingin menemuinya sebelum pergi?"
Argon terdiam, ingin sekali rasanya memeluk Laura sebelum kepergiannya. Namun, apalah daya, rasa bersalah itu terlalu menyiksanya tanpa dia minta. "Papa titip ini untuk Laura. Serahkan padanya jika terjadi sesuatu dengan Papa."
__ADS_1
"Pa—"
"Papa pergi dulu." Argon menepuk bahu sang putra perlahan, sebelum berlalu pergi meninggalkan kediaman.
Sementara itu, setelah mengantar kepergian sang ayah, Michael pun juga kembali ke kamar. Dia melihat di mana sang istri tampak berdiri menghadap jendela luar. Perlahan Michael melingkarkan kedua tangan di perut Laura, begitu dekat hingga setiap embusan napasnya bisa dirasakan oleh istrinya.
"Dia pergi sendiri?" tanya Laura memecah keheningan.
Michael mengangguk, kepala pria itu menunduk menghirup aroma tubuh dari lekuk leher sang istri, sungguh sesuatu yang menenangkan. "Apa kau masih belum bisa memaafkannya?"
Suasana kembali hening. Tidak ada sepatah kata pun jawaban yang keluar dari mulut Laura, tetapi dalam hatinya cukup teriris dengan pertanyaan itu. Apa haknya tidak memaafkan Argon? Setidaknya pria itu tidak meninggalkan ibunya dengan hidup bahagia bersama wanita lain.
Bukan Argon yang tak pantas di maafkan, tetapi pantaskah Laura memberikan permintaan maaf itu? Seharusnya semua itu dilakukan oleh ibunya. Sayangnya nasi sudah menjadi bubur. Apa yang telah terjadi tidak akan bisa terulang kembali. Mungkin sudah takdirnya hidup sebatang kara sejak awal.
Tanpa sadar membayangkan semua itu, menyebabkan buliran hangat berkumpul di pelupuk mata Laura. Seolah mengerti apa yang tengah terjadi dengan istrinya, Michael memutar tubuh yang bergetar itu dan membawa ke dalam dekapan. Dia mengelus dengan lembut pucuk kepala sang istri, sedangkan satu tangan lagi mengusap punggung kecil itu.
Hanya anggukan yang bisa Laura berikan sebagai jawaban. Meskipun sulit menerima semua ini, tetapi dia akan berusaha menjadi kuat, dan membantu suami serta ayahnya, memusnahkan mereka yang telah berani mengusik kehidupannya untuk waktu yang cukup lama.
"Mich."
"Hmm."
"Apa kau juga akan menjalankan tugas lagi?"
"King Master sedang kosong pemimpin saat ini. Papa pergi, dan John. Kau tahu topengnya telah terbuka, tidak mungkin bagi kita memercayakan semua hal padanya. Setidaknya aku harus ke sana, demi merancang lagi rencana ke depannya."
__ADS_1
"Itu artinya kau akan pergi untuk waktu yang lama?"
Dengan berat hati, kepala Michael bergerak naik turun, membenarkan apa yang dikatakan sang istri karena memang begitulah faktanya.
"Kalau begitu aku ikut."
Kerutan di dahi Michael sontak menggabungkan kedua alisnya. "Sayang, kau yakin? Itu tempat yang berbahaya. Bukan taman bermain."
"Kau mau meremehkanku, dan ingin meninggalkan aku sendirian di sini? Bukankah tadi kau sendiri yang bilang jika dirimu akan selalu ada untukku? Cih, sepertinya semua itu tidak bisa dipercaya." Mengeluarkan mode merajuk, Laura melepaskan tangannya yang melingkar di tubuh sang suami dan berbalik arah layaknya seorang anak yang dilarang makan es krim.
"Sayang." Michael segera duduk di samping sang istri, tetapi Laura sepertinya tak berniat memalingkan wajahnya. Dengan berat, Michael menghela napas. "Baiklah, kau boleh ikut. Tapi ikuti apa yang aku katakan. Jangan bertindak sendiri seperti sebelumnya!"
"Benarkah?" Binar bahagia seketika mencuar di wajah Laura. Wanita tersebut langsung memeluk suaminya, dan meletakkan kedua tangan di pipi pria itu, serta memberikan hujaman kecupan di seluruh wajahnya. "Kau memang suami terbaik."
Untuk pertama kalinya Laura memuji Michael setelah apa yang dilakukan pria itu. Sebuah senyum kecil pun dia berikan sebagai balasan. "Wanita memang berbeda jika sudah mendapatkan apa yang mereka inginkan," gumam Michael.
"Tentu saja! Jangan harap wanita bisa menurut pada suami yang tidak mau mendengar permintaan istrinya! Apalagi kalau kau menjadi pelit. Oh tidak, membayangkannya saja aku enggan. Jangan! Jangan jadi seperti itu."
"Baiklah karena keinginanmu sudah terwujud bagaimana kalau kita lanjutkan apa yang tertunda. Setelah berada di markas aku pasti akan lebih sibuk dari biasanya." Perlahan Michael membawa tubuh sang istri, di bawah kungkungan Laura seolah tak kehabisan akal.
"Mich, apa kau tidak lelah. Bagaimana kalau kita istirahat saja atau mengemas barang? Nanti kau bisa terlambat pergi."
Dengan cepat Michael menggeleng. "Telinga anak kita tidak akan sempurna kalau tidak mencicilnya."
"Mich."
__ADS_1
Lagi-lagi pergumulan panas suami istri tersebut kembali terjadi. Cinta setelah pernikahan, akibat terlalu lama berpisah kini semakin diberi pupuk hingga subur. Meskipun tidak mengatakan cinta, tetapi mereka selalu membuktikan dengan tindakan. Impian di depan dengan harapan bisa hidup dalam damai menjadikan mereka lebih kompak daripada sebelumnya.
To Be Continue....