
Ruang sempit dan pengap berukuran kurang lebih satu kali dua meter yang terbuat dari beton menjadi tempat di mana James bersembunyi. Jika tidak terpaksa, dia juga tidak mau melakukan hal itu. Namun, ke depannya tanpa dia sadar, di sana pula lah tempat peristirahatan terakhirnya.
Cukup lama dia berdiam diri sambil mengumpat dalam hati. Menebak-nebak siapakah gerangan orang yang berani mengacaukan tempatnya. Hingga tak lama kemudian, sebuah suara dari luar menyebabkan dia yang awalnya terdiam, mulai mengeluarkan suaranya dengan binar bahagia. "Zack, kau kah itu?"
Meskipun ragu, tetapi kemungkinan anak angkatnya itu menang tentu saja tinggi. Dia yakin, Zack bisa mengalahkan orang-orang yang menyerangnya secara diam-diam dengan mudah. Apalagi ini di kandang mereka sendiri.
Perlahan, James mengulurkan tangan, menekan sebuah tombol yang tersedia untuk dia keluar dari sana. Namun, alangkah terkejutnya pria itu ketika mendapati di hadapannya bukanlah Zack, melainkan Laura, Michael, dan beberapa orang lainnya yang tak dia kenal. Musnah sudah harapannya untuk selamat dari maut. Apa Zack sudah tewas hanya dalam waktu sekejap?
"Sial dasar anak tak berguna," umpat James dalam hati.
"Apa kabar, Paman?" Sebuah kalimat sapaan dari Laura sontak membuat James membelalak kan mata. Sepotong daging melayang ke arahnya dengan segera.
James menyingkirkan daging itu dari tubuhnya dan berusaha untuk berdiri dengan susah payah. Apa Laura pikir bersembunyi di sini sudah membuatnya kelaparan.
"Laura, jadi kau yang melakukan semua ini?"
"Iya, Paman. Bagaimana menurutmu? Apa aku sudah mengalami kemajuan? Selama ini kau selalu mengajarkan padaku untuk menyerang secara diam-diam dan mengambil keuntungan lengahnya lawan. Apakah rasanya menyenangkan mendapatkan serangan seperti ini, Paman?" ucap Laura tersenyum mengejek. "Terima kasih sudah melatihku menjadi seperti ini."
Sebuah tawa menggelegar memenuhi ruangan. James mengingat kembali bagaimana dia menggiring seseorang agar memusnahkan Sanca. Akan tetapi, dia tak menyangka, jika gadis lugu yang sengaja dibiarkan hidup akan berbalik dengan tidak tahu terima kasih dan malah menyerangnya. Padahal jelas-jelas dia sudah menyiapkan banyak rencana untuk memusnahkan Laura, setelah gadis itu tak berguna. Akan tetapi, tampaknya semua sia-sia karena gadis tersebut benar-benar memiliki sembilan nyawa.
"Kau benar-benar mirip dengan Argon. Sangat sulit untukku menyingkirkan kalian!" Sejenak James melirik Michael yang berdiri tak jauh dari Laura. "Kalian bisa datang bersama kemari, sepertinya ada rahasia lainnya yang tak ku ketahui di sini. Benar-benar licik."
__ADS_1
Laura melangkah mendekat. "Iya, seperti yang kau ketahui, Paman. Mereka adalah keluarga asliku dan dengan sengaja kau membuatku membenci mereka. Bahkan menggiring semua opini dengan baik. Tapi, sepertinya kalau salah informasi selama ini, karena dia bukanlah kakak kandungku, melainkan putra dari Aragon Bannerick."
Kata-kata terakhir Laura berhasil menyulut emosi dalam diri James. "Kalian benar-benar keluarga penipu. Mustahil Aragon masih memiliki keturunan. Aku sendiri yang membunuhnya saat itu dan dia tidak memiliki keluarga sama sekali."
"Kau!" Michael hendak mendekat, tetapi dengan cepat Laura menahannya.
"Jadi, setelah mengetahui semua itu. Kau pun ingin membunuhku? Ayo sini! Bunuh saja aku! Dasar wanita tidak tahu terima kasih. Kau pikir dengan kematianku semua ini akan berakhir? Tidak ini hanyalah sebuah permulaan."
Amarah dalam diri Laura membuatnya menutup mata, dia mengepalkan kedua tangan dengan cukup kuat. "Makan!" Hanya dalam satu kalimatnya, seekor hyena yang terlepas sontak berlari ke arah James yang sudah berbau daging segar.
Hewan yang kelaparan itu sontak menerkam tubuh James yang memang tak mampu bertarung. Suara teriakan kesakitan menggema memenuhi seluruh ruang. Melihat James yang hendak melepaskan diri dengan cepat Laura menutup kembali dinding rahasia itu. Hingga suara mereka pun hilang tertutup rapatnya dinding.
Kararakter kejam yang setara dengan pria. Bisa di pastikan Laura merupakan sosok perempuan idaman para pria pemimpin mafia. Bagaimana tidak, dunia mereka yang kejam membutuhkan dukungan dari wanita kuat pula. Jika hanya menjadi perempuan yang hanya bisa menangis, tentu akan menjadi kelemahan tersendiri bagi para pria yang bergelut di dunia hitam. Namun, Laura begitu tangguh, sangat cocok disandingkan dengan Michael.
Setelah memastikan semuanya beres, mereka pun memutuskan untuk kembali meninggalkan tempat tersebut. Namun, sebelum itu, Laura meminta kendaraan untuk berhenti sejenak. "Tunggu sebentar!"
Mereka berhenti, Laura masih memegang sesuatu di tangannya. Sejenak dia berpikir bagaimana nasib Catherine setelah kecelakaan hari itu. Apa mereka juga tidak berusaha menyelamatkannya. Entahlah Laura tidak tahu apa yang bisa terjadi ke depannya.
Dia menekan benda yang saat ini di genggam. Sedetik kemudian, suara ledakan hebat satu per satu mulai bersahutan memenuhi setiap sudut bangunan kediaman James Whale, hingga kini rumah kokoh yang pria itu banggakan sebelumnya rata dengan tanah dan hanya menyisakan puing-puing bak terguncang gempa yang hebat.
"Jalan."
__ADS_1
Di sisi lain, seorang pria duduk di kursi kebesarannya dengan banyak berkas di depannya. Perhatiannya teralihkan karena sebuah ketukan di pintu.
"Masuk." Seorang pria lain berpakaian rapi pun masuk dengan wajah pucat pasi. "Ada apa?"
"Tuan, terjadi sesuatu dengan kediaman James."
"Apa?" Keterkejutan menyebabkan pria itu terhenyak, dia berdiri dari posisinya dengan wajah merah padam. "Bagaimana kondisinya?"
Bawahannya hanya menggeleng kecil karena memang begitu kenyataannya.
Sebuah papan nama milik pria itu yang terbuat dari kaca di atas meja, sontak melayang nyaris mengenai anak buahnya hingga hancur berkeping-keping. "Argon!" Suara dengus kesalnya terdengar begitu jelas, layaknya banteng yang siap menyeruduk kain merah.
Dia pun segera meraih ponsel di depannya untuk menghubungi seseorang. "Jalankan misi kedua!" ucapnya sebelum panggilan terputus singkat. "Jika dia tidak mau bekerja sama denganku melalui jalur apapun. Jangan salahkan aku memilih jalur lain! Lagi pula tanpa dia, semua rencanaku berjalan lebih lancar."
Pria itu lantas berbalik dan menendang kursinya dengan amarah. Melihat anak buah masih berdiri di posisinya dengan tubuh bergetar dia pun berteriak. "Kenapa masih ada di sini. Pergi sana!"
Pria itu pun segera lari terbirik-birit sebelum semuanya terlambat. Dia tidak ingin menjadi samsak kemarahan bosnya yang arogan dan menyebalkan.
Sementara itu, pria yang kini sendirian di ruangannya melangkah ke tepian jendela. Dia menatap posisinya saat ini. Di mana pemandangan gedung-gedung tinggi di hadapannya seolah terlihat begitu kecil. "Argon, seandainya saja sejak awal kau berada di pihakku. Aku pasti tidak akan berbuat sampai sejauh ini."
To Be Continue...
__ADS_1