Istri Tawanan Tuan Arogan

Istri Tawanan Tuan Arogan
Chapter 96


__ADS_3

Terik mentari tidak menyurutkan niat seorang pria menjemput kekasihnya. Taman kota, kini menjadi tujuan pria bermata setajam elang itu. Dia lajukan mobil dengan kecepatan sedang dan ikut membaur dengan dengan kendaraan lain di jalan raya.


Beberapa kali dia menengok jam di pergelangan tangan setiap pemberhentian lampu lalu lintas. Dia berharap sang kekasih tidak menunggunya terlalu lama, karena tadi dia harus menyelesaikan urusan di hotel terlebih dahulu.


Waktu tempuh tidak memakan sampai satu jam. Taman yang penuh pepohonan dan bermacam bunga sudah tampak dari jarak bbrpa kilometer. Tinggal melewati satu lagi lampu merah, pria itu sampai tujuan.


Akan tetapi, pandangannya seketika terpaku pada sesosok wanita di dekat danau taman yang sepi. Tampak tak ada siapa pun melintas area itu, dan wanita itu terlihat bersimpuh menahan sakitnya seorang diri.


Sisi kemanusiaan pria tersebut tergugah untuk membantu. Dia segera menghentikan kendaraan dan berlari menuju wanita yang hampir saja pingsan itu. "Nyonya, Anda baik-baik saja?" tanyanya merangkul tubuh lemas wanita yang ternyata hamil besar dengan tubuh bersimbah darah memegang perutnya.


"Astaga, Anda terluka." Tanpa membuang waktu, pria itu segera melepas jas di tubuhnya guna menutupi luka wanita itu. Dia pun bergegas membawanya ke bagian belakang mobil dan melaju dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit terdekat.

__ADS_1


Sementara itu, Laura yang hampir kehilangan kesadaran merasakan samar-samar sosok yang dikenal kini tengah bersamanya. "Apa aku akan segera mati dan menyusul Michael?" batin Laura mencoba melihat ke depan. Namun, sedetik kemudian kesadaran benar-benar hilang dari dalam dirinya.


Setibanya di rumah sakit, pria yang membantu Laura segera memanggil tenaga medis. Melihat kondisi Laura saat ini, mereka pun bergegas membawanya ke ruang operasi.


"Melihat kondisi pasien sudah tidak mungkin menunggu penanganan lebih lama lagi. Mohon kerjasama Tuan untuk melengkapi dan menandatangani berkas tindakan operasi. Kami akan melakukan yang terbaik untuk istri Anda dan bayi yang ada dalam kandungan."


"Tapi—"


Dengan ragu pria itu membubuhkan tinta di atas kertas. Dia bukan suami wanita itu, bagaimana jika nanti suami aslinya marah-marah. Akan tetapi, biarkanlah. Lagipula dia hanya berniat membantu bukan mempersulit, jika nanti suami aslinya tidak terima. Maka berarti, bukan pria yang tahu terima kasih.


Setelah menyelesaikan semua berkas-berkas. Pria itu lantas kembali ke depan ruang operasi. Tubuhnya kini dipenuhi dengan darah yang mengering dari wanita tadi. "Malang sekali nasibnya. Ke mana perginya suami atau keluarganya di saat seperti ini?" batinnya berjalan ke sana ke mari di depan ruangan yang tak kunjung menunjukkan tanda-tanda operasi segera berakhir.

__ADS_1


Dia bahkan lupa memberikan kabar pada kekasihnya sendiri. Entah berapa banyak panggilan yang tidak terjawab, karena ponselnya tertinggal di mobil, sedangkan dia terlalu fokus pada nasib wanita di balik ruangan itu.


"Bagaimana kondisinya, Dok?" tanya pria itu secepat mungkin pada tenaga medis yang keluar.


"Syukurlah kondisi anak dan istri Anda baik-baik saja, Tuan. Anda bisa menemui putra Anda sebentar lagi. Harap bersabar! Saya permisi dulu." Dokter lantas melangkah pergi meninggalkan pria itu seorang diri.


Entah mengapa perasaan lega seketika merasuk dalam diri pria itu saat ini, seolah beban berat baru saja di angkat dari dadanya. Dia dengan sabar menunggu, hingga setelah beberapa saat perawat memberitahukan jika dia sudah bisa melihat anak wanita tersebut di ruangan bayi, sedangkan untuk ibunya dibawa ke ruang perawatan dan masih belum sadarkan diri.


Senyum mengembang di wajah pria itu, tatkala melihat sosok mungil menggeliat dengan sedikit menjulurkan lidah di ruang perinatologi. Dia tidak berani mendekat dan hanya melihat dari cermin pembatas ruang. Beruntung posisi bayi itu sangat jelas dalam pandangan matanya. "Lucu sekali," gumamnya.


Dia pun meraba kantong celananya, mencari ponsel untuk memotret sosok kecil yang baru saja berhasil memikatnya itu. Namun, sayangnya benda pipih tersebut tidak ada di sakunya. Hingga dia pun menyadari jika terlupa akan urusannya sendiri karena membantu wanita tadi. "Astaga, aku lupa harus menjemput Sarah."

__ADS_1


To Be Continue..


__ADS_2