Istri Tawanan Tuan Arogan

Istri Tawanan Tuan Arogan
Chapter 75


__ADS_3

Berbeda halnya dengan Laura yang tengah menikmati kebahagiaan meskipun tak tinggal di tempat yang mewah apalagi megah. Di kediaman Wilson, Nenek Elizabeth tampak berbeda dari biasanya. Wajah pucat dan tubuh lemah menyebabkan dia lebih banyak berada di atas ranjang.


Entah sudah berapa dokter yang memeriksanya beberapa kali, tetapi tetap saja mereka bilang tidak ada masalah akan kesehatannya dan menganggap semua itu hanyalah penyakit usia. Namun, Nenek Elizabeth tak percaya akan hal itu, sehingga dokter pun hanya memberikan vitamin untuknya.


Nenek Elizabeth terbangun dari tidur ayamnya, dengan napas yang terengah-engah dan terkadang batuk kering, wanita tua itu pun mencoba meraih gelas air di samping ranjangnya.


Tidak ada seorang pelayan pun yang berjaga di kamarnya, meskipun jelas-jelas dia dalam kondisi tidak fit. Semua itu dikarenakan keegoisannya yang tak mau dianggap sakit dan yakin akan segera kembali bugar lagi.


"Lady." Bukannya memanggil pelayan, Nenek Elizabeth malah memanggil menantunya karena air yang tersedia sudah habis. "Lady."


Satu kali panggil tidak ada sahutan sama sekali, dua kali pun masih tidak ada tanda-tanda orang datang. Perlahan Nenek Elizabeth melihat jam di dinding, ternyata waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam. Akan tetapi, dia yang terbiasa dilayani oleh menantunya lekas mencoba berdiri dengan susah payah dan merambat menuju kamar sang menantu yang memang berada tepat di sebelahnya.


Perlahan Nenek Elizabeth melangkah dengan hati-hati menuju kamar sebelah. Layaknya anak kecil yang baru belajar berjalan, dia menyusuri dinding di sebelah sebagai pegangan.


"Lady." Suara sayu wanita tua itu tak terdengar meskipun suasana di kediaman tersebut sangat sepi.


Tangan Nenek Eli lantar terulur hendak mengetuk pintu kamar Lady, tetapi sayup-sayup telinga tuanya menangkap aktivitas panas di dalam ruangan itu. "Lady, bukankah Argon belum kembali?" gumamnya lirih.


Rasa penasaran yang tinggi menyebabkan wanita tua itu lantas membuka pintu lebar-lebar. Betapa terkejutnya dia tatkala melihat dua sosok berbeda jenis kelamin saling melampiaskan hasrat di bawah remang lampu kamar.


"Lady, John! Apa yang kalian lakukan, hah?" Dengan keras Nenek Elizabeth berteriak, dia memegang dada yang terasa nyeri akibat perbuatan tidak senonoh menantu yang selama ini dibanggakan bersama pria yang tak lain juga merupakan salah satu anak angkatnya.

__ADS_1


"Ibu."


"Nyonya."


Kedua orang yang terkejut sontak menutup tubuh mereka dengan selimut. Namun, Nenek Elizabeth tampaknya tak habis pikir dengan jalan pikiran mereka saat ini. Dengan murka dia melangkah mendekati Lady dan langsung mendaratkan sebuah tamparan panas di pipi wanita itu.


"Berani-beraninya kalian berbuat seperti ini di belakang anakku!" teriak Nenek Eli murka.


Bukannya merasa bersalah, Lady malah tertawa sinis sambil memegang pipi yang terasa panas akibat tamparan wanita tua di hadapannya. Lagi pula di kediaman ini sudah tidak ada siapa pun lagi. Jadi untuk apa berpura-pura baik.


"Beraninya Nenek tua sepertimu menamparku, hah?" Tanpa tahu malu, Lady segera meraih pakaiannya yang tergeletak. "John, tutup pintunya! Lagi pula tidak ada lagi siapapun di rumah ini yang bisa membelanya."


"Selama ini aku sudah bersabar selalu menjadi budakmu. Sudah cukup bagi kami untuk mentolerir apa yang kau lakukan," kata Lady sambil melangkah maju dengan sebuah bantal di tangannya.


"Apa maksudmu? Selama ini aku menganggap kalian seperti anakku sendiri. Bagaimana bisa kalian berbuat seperti ini?" Meskipun memiliki status yang berbeda dengan Argon. Nyata John pun merupakan seorang anak jalanan yang diangkat menjadi keluarga oleh Elizabeth. Sayangnya, posisi mereka terlalu berbeda sebagai orang yang sama-sama sebenarnya berasal dari luar keluarga Wilson.


Tak hanya menempatkan John, sebagai tangan kanan Argon. Nenek Eli juga membedakan perhatiannya hanya karena Argon lebih cerdas dan sudah menunjukkan talenta sejak dulu. Hal yang tidak bisa John berikan untuk memuaskan hati seorang Elizabeth yang haus akan pujian.


"Anak sendiri kau bilang? Apa kau lupa bagaimana caramu memperlakukan aku selama ini? Mungkin statusku adalah menantumu. Tapi, kalian membuatku seolah budak yang tak berharga. Bahkan lebih rendah dari pelayan di kediaman ini." Semakin Lady mendekat, tangannya pun bergerak menunjuk-nunjuk dada Nenek Eli hingga wanita tua itu cukup terkejut dan terduduk di lantai. "Kau selalu mengagungkan kedudukan tinggi dan pujian dari orang lain, membuatku terlihat jahat di mata mereka, sedangkan engkau adalah malaikatnya. Tapi, sebenarnya kau bahkan tak pernah menghargai kami walau sedikit pun, dan hanya menjadikan kami pionmu selama bertahun-tahun."


"A—ku."

__ADS_1


"Kau pikir bagaimana bisa kau datang kemari alih-alih mencari pelayan?" Tangan Lady mencengkeram dagu Nenek Eli kuat-kuat seolah bersiap menerkamnya.


Memang benar status Lady adalah menantu, tetapi setiap hari Nenek Eli selalu bertindak semaunya. Hingga antara dia dan wanita itu tak ubah layaknya seorang majikan dengan pelayan.


"Kau pasti ingin memerintahkan sesuatu padaku lagi 'kan?" sinis Lady lantas berdecih. "Cih, kalian Ibu dan anak sama saja. Bahkan setelah puluhan tahun pernikahan kami, Argon sama sepertimu yang tak pernah menganggap kehadiranku ini ada."


Lady berbicara layaknya orang kesetanan. Tubuh Nenek Eli yang berada di lantai sontak bergetar hebat, sedangkan di sisi lainnya John hanya menyeringai. Tidak di duga ternyata dia selama ini memelihara dua orang monster berwajah manusia. "Kalian keterlaluan. Argon dan Michael pasti akan memberikan kalian pelajaran nanti!"


Bukannya takut, Lady malah tertawa bagaikan iblis yang keluar di pagi buta. Sorot mengerikan yang selama ini hanya dia tunjukkan pada orang yang tidak di sukanya. Kini pandangan itu pun menghunus tajam pada wanita tua yang lemah di depannya.


"Kau pikir setelah keluar dari rumah ini mereka masih hidup? Kuberi tahu satu rahasia di masa depan. Argon bahkan saat ini tengah menyeberangi alam baka, dan Michael? Dia pun akan segera menyusulnya tak lama lagi."


Mendengar apa yang diucapkan Lady, Nenek Eli sontak merasa semakin sesak. Jantungnya berpacu dengan cepat, seakan bersiap meledak dari tempatnya. Rasa sakit yang dia tahan sejak tadi, semakin menjadi-jadi, tetapi dua orang lainnya di sana tak peduli sama sekali.


"Kenapa? Apa rasanya begitu sakit? Atau kau lelah dengan semua sandiwara ini?" Perlahan tangan Lady meraih bantal yang tadi dibawanya. "Mama Mertuaku tersayang. Izinkanlah aku menantumu satu-satunya ini membantumu menemui malaikat kematian dan aku akan mengurus semua hartamu dengan baik setelah membereskan hama-hama yang kau sebut keluarga itu." Dengan tega, Lady membekap wajah Nenek Eli menggunakan bantal.


Wanita tua yang sejatinya sudah lemah meronta-ronta tak karuan. Namun, tampaknya setan dalam diri Lady sudah menyatu dalam dirinya dan mendarah daging tanpa diminta. "Mati sajalah! Mati!" geram Lady semakin menekan bantal itu, hingga pasokan udara pun tak lagi bisa didapatkan Nenek Eli dan akhirnya wanita tersebut terkulai lemah tak bernyawa.


Dengan puas Lady berdiri dari posisinya setelah dirasa Nenek Eli sudah tewas saat ini. Deru napasnya terengah-engah, tetapi kepuasan terpancar jelas di wajahnya. "Bereskan seperti biasa!" ucapnya melirik John yang hanya tersenyum sinis.


TO Be Continue...

__ADS_1


__ADS_2