
Kedatangan Catherine ke bangunan terbengkalai itu, tentu saja bukanlah suatu kebetulan. Sejak awal dia memang sudah mengikuti Laura dan mendengar seluruh percakapan mereka. Tangan Catherine terarah lurus ke depan dengan pistol di tangannya. Langkah wanita tersebut begitu pasti, tanpa keraguan sedikit pun, semakin kontras dengan wajah dinginnya saat ini.
"Siapa kau? Kenapa ikut campur dengan urusan kami?" tanya Nathan mulai gelagapan. Meskipun telah berubah sebagai seorang pria, tetapi satu hal yang pasti sejak awal. Dia tidak semumpuni Michael dalam hal bela diri. Bahkan bisa di bilang tak pernah melawan dengan tangannya sendiri. Karena itulah, dia pun berusaha bersembunyi di balik kebodohannya.
"Aku? Mereka memanggilku Paus." Catherine hendak menekan pelatuknya, tetapi dengan sisa kesadaran yang ada Laura memegang kaki wanita itu dan menggeleng kecil. Meskipun tak tahu apakah Catherine akan menurutinya atau tidak dan belum jelas pula akankah kedatangan Catherine guna membantunya atau malah sebaliknya. Namun, Laura berharap Catherine tidak seperti yang di bayangkan.
Alhasil, sebuah tembakan Catherine layangkan tepat di telapak kaki Nathan dan pria itu pun berteriak kesakitan, sebagai tanda peringatan. Lagi pula bukan kapasitasnya untuk memberikan hukuman pada Nathan. Semua itu hanyalah masalah dalam keluarga Wilson, sedangkan niatnya ke mari hanya untuk memastikan jika Laura diselamatkan di waktu yang tepat.
Catherine lantas mengalihkan pistol di tangannya pada Nathalie. Wanita itu sontak mengangkat tangan dengan tubuh bergetar hebat. "A–aku tidak tahu apa-apa," ucap Nathalie dengan sangat takut.
"Kaulah yang membantu memprovokasi mereka sejak awal." Tanpa berpikir panjang, Catherine kembali menembakkan peluru tepat di kepala Nathalie. Hingga dia pun tewas seketika. Sudah cukup baginya melihat seberapa kejam wanita itu. Bukan hanya menjadi orang yang merampas harta Laura beserta ibunya, tetapi masih mengusik kehidupannya saat ini seolah apa yang dimiliki tak cukup memuaskan keserakahan mereka.
"Jangan banyak bertanya dan ikutlah dengan kami kalau kau masih ingin hidup!" Ancam Catherine pada Nathan yang kesakitan saat itu sambil mencengkeram kuat lengannya. Dia lantas berbalik dan menoleh pada wanita paruh baya yang tak jauh dari posisinya. "Ibu, bantu aku membawanya ke rumah sakit," pinta Cathy menyerahkan Nathan.
Sementara itu, dengan susah payah Catherine mencoba menggendong tubuh Laura yang terkapar tak berdaya di punggungnya, sedangkan Elena membantu memapah Nathan bersama mereka, sebelum nyawa Laura berada dalam bahaya. Darah segar terus mengalir di sepanjang perjalanan mereka menyebabkan rasa khawatir dalam diri Cathy semakin menjadi.
Sudah cukup lama Catherine mengikuti Laura dan berusaha melindunginya tanpa di ketahui. Dia hanya ingin memastikan jika Laura baik-baik saja, karena perasaan bersalah pernah menempatkan Laura dalam bahaya di bawah tekanan James.
Lagi pula segala harta yang diurus Catherine saat ini masih atas nama Laura semua. Dia cukup tahu diri bagaimana perjuangan Laura selama ini berhasil menyentuh hatinya, hingga menganggap wanita itu sebagai adiknya sendiri, sampai saat ini.
Sayangnya, ternyata Laura tak henti-hentinya mendapatkan masalah dan serangan dari sekutu James. Hal itu pula yang menyebabkan Catherine dan Elena selalu berjaga dari kejauhan untuk memastikan Laura baik-baik saja.
Yah, salah keberuntungan bagi Catherine masuk ke daerah Betharia adalah bisa bertemu dengan ibu yang selama ini hampir dia lupakan. Elena yang tak lain adalah ibu kandungnya pun mengenal sang putri yang selama dua puluh tahun terakhir dirindukan dengan baik hanya dalam sekali lihat.
__ADS_1
Beruntung sebelum menjadi tumbal persembahan bagi pengikut Betharia, Catherine terlebih dulu dikenali oleh Elena. Hal itu pula yang menyelamatkannya dari maut karena keduanya lantas melarikan diri bersama.
Hal pertama yang mereka lakukan setelah keluar dari daerah terlarang dengan susah payah adalah mendatangi kediaman James. Orang yang tak hanya memanipulasi Laura, tetapi ternyata juga Catherine.
James bertindak seolah penyelamat yang baik dan ayah angkat budiman sejak Cathy kecil. Padahal pada kenyataannya, dulu pria itulah yang menculik Catherine dari sang ibu dan mencoba mencelakai Elena agar tindakannya tidak terbongkar.
Seorang bocah yang awalnya polos dia didik sedemikian rupa menjadi sosok yang hanya dianggapnya anjing peliharaan, sedangkan bagi Laura James adalah penyelamat. Karena pria itu tak pernah berkeluarga, sehingga hanya bisa memanipulasi orang lain.
Sayangnya, Elena masih hidup, meskipun harus menjadi pengikut Betharia selama dua puluh tahun lamanya. Akan tetapi, dia selalu berharap bisa bertemu dengan sang putri sebelum ajal menjemputnya nanti. Beruntungnya, karena Laura lah keduanya bisa dipertemukan kembali.
Elena dan Catherine segera membawa Laura ke rumah sakit bersama Nathan sekalian, meskipun heran dengan situasinya saat ini. Namun, Nathan yang tak pernah terluka sebelumnya dan merasa kesakitan, tentu hanya bisa ikut dengan mereka. Di mana yang dia tahu, Elena adalah orang yang menolongnya sekaligus Laura di daerah terlarang dulu, sedangkan wanita satunya, dia sama sekali tidak mengenalnya.
Kondisi kritis dan kehilangan darah cukup banyak menyebabkan dokter segera mengambil tindakan operasi pada Laura setibanya mereka di rumah sakit. Catherine tak segan-segan memborgol Nathan di ranjangnya setelah semua prosedur pengobatan di lakukan. Hanya Laura yang saat ini masih belum sadarkan diri dan terbaring dengan wajah pucat pasi.
Meskipun berhasil melalui masa kritis. Nyatanya tak membuat Laura lantas tersadar begitu saja. Dia masih terdiam di atas ranjang, sedangkan Catherine selalu menjaga bahkan menggenggam tangan Laura sejak tadi.
___________________
Keesokan harinya, Laura tersadar dari kondisinya dengan tubuh yang terasa remuk redam. Perlahan dia mengerjapkan mata dan hal pertama yang dilihat adalah seorang wanita tertidur dengan posisi duduk di hadapannya.
"Cathy," sapa Laura dengan lemas.
Sontak Catherine tersadar dari mimpinya. "Laura, kau sudah bangun?"
__ADS_1
"Apa ini bukan mimpi? Atau aku sudah berada di alam baka?" tanya Laura memastikan apa yang dia pikirkan.
Catherine lantas mencubit pipi Laura perlahan sambil tersenyum. "Sakit tidak?" tanyanya.
Perlahan Laura mengangguk, terluka di punggung menyebabkan dia harus tidur miring selama luka itu belum mengering. Namun, hal yang masih belum bisa dia percaya adalah sosok yang saat ini berada di hadapannya. Benarkah Catherine menyelamatkannya?
"Cathy, Zack—" Belum sempat Laura meminta maaf Catherine sudah terlebih dulu memotong kalimatnya.
"Sudah, jangan banyak bicara! Kau harus banyak beristirahat. Kenapa ceroboh sekali datang seorang diri ke tempat seperti itu? Apa yang akan kau lakukan kalau sampai keponakanku kenapa-napa."
Catherine bukannya tidak tahu apa yang sudah terjadi. Dia jelas paham, tetapi memilih untuk diam. Sakitnya pengkhianatan seperti yang dirasakan Laura, dia pun sama merasakannya. Sejak awal Zack tak pernah benar-benar menyukainya. Dia hanya menjadikan Catherine sebagai tameng yang selalu berkorban di kala pria itu terluka. Kisah cintanya, hanyalah suatu perasaan sepihak yang tak akan pernah terbalaskan. Bagi Zack, kekuasaan menggantikan James melebihi segalanya, bukan dia.
Lagi pula, setelah kembali dari Betharia, Catherine mengamati kediaman James terlebih dahulu. Faktanya ada atau tidaknya dirinya, mereka sama sekali tidak peduli, dan tak berniat mencari Catherine. Meskipun hanya seuil harapan, nyatanya semua itu hanyalah angannya semata. Dia sama-sama tak berharga seperti Laura setelah menjadi tak berguna dan dianggap remeh hanya karena seorang wanita.
Penyerangan yang dilakukan Laura, Catherine bahkan menyaksikan secara langsung bersama Elena di sisi lain. Akan tetapi, sejak awal keduanya memang tak berniat membantu, apalagi menyelamatkan mereka dari kemurkaan Laura. Mereka pantas mendapatkannya setelah apa yang terjadi, terutama James.
Sementara itu, Laura yang masih lemah menangkap satu kata Catherine yang tak dia mengerti. "Keponakan? Siapa?" tanya Laura dengan lirih.
Sontak hal tersebut membuat Catherine mengerutkan dahi. Wanita di depannya benar-benar polos atau pura-pura polos saja. "Jangan bilang kau tidak tahu kalau sedang hamil!"
"A—aku?" Laura berkata dengan terbata, tanpa sadar tangan terulur memegang perut begitu saja. Kehamilan serasa mustahil baginya. Dia bahkan lupa kapan terakhir kali berhubungan dengan Michael karena pria itu tak kunjung kembali. Jadi, benarkah dia hamil.
"Dua bulan. Dokter mengatakan bayimu baik-baik saja. Kau bisa memeriksanya melalui USG nanti setelah tubuhmu sudah lebih baik," ucap Catherine santai, tetapi tidak dengan Laura yang tercengang hingga kedua bola matanya hampir saja keluar dari tempatnya.
__ADS_1
"Cih, sepertinya Kak Michael menikahi gadis bodoh yang bahkan tak tahu jika dirinya tengah mengandung." Suara Nathan dari belakang, lagi-lagi menambah banyaknya lapisan kerutan di dahi Laura. Bukankah itu Nathan?
To Be Continue...