Istri Tawanan Tuan Arogan

Istri Tawanan Tuan Arogan
Chapter 60: Kembali


__ADS_3

Senja menyapa, langit berubah menjadi jingga. Saat di mana perubahan waktu terjadi dan panas terik matahari tak lagi menyinari bumi. Hanya menyisakan cahaya kemerahan menghangatkan sekaligus menawan.


Dua mobil mulai memasuki pelataran kediaman. Saat di mana pertempuran baru akan dimulai dan wajah penuh sandiwara kembali harus menyapa hari-hari mereka.


Kedua pria dan satu wanita melangkah pasti memasuki kediaman. Para pelayan menatap tercengang, mematung, dan seolah baru saja mendapatkan serangan jantung. Mulut mereka ternganga seakan tak percaya dengan pemandangan di depannya. Beberapa di antaranya hampir terjatuh, jika rekannya tak menahan.


Keluarga Wilson bahkan sudah melakukan upacara pemakaman untuk Argon. Akan tetapi, pria itu kini malah berdiri di depan mereka. Hantukah yang para pelayan saksikan saat ini. Tentu saja bukan.


"Tu–tuan Besar," ucap seorang pelayan terbata hampir saja terkencing di celana.


"Hei! Apa yang kalian la—" Belum sempat Lady memarahi para pelayan, ponsel di tangan langsung lolos begitu saja dari genggamannya. Tangan kiri wanita itu menutup mulut, tak percaya akan apa yang ada di depannya saat ini. "Sayang, benarkah ini kau?"


Argon melangkah mendekat, lantas membungkuk mengambil ponsel yang tergeletak di lantai dengan sebuah panggilan di layarnya. Namun, seketika dimatikan saat dia meraih benda pipih tersebut. Sebuah seringai terlukis di wajah Argon melihat nama yang tertera. Mau bermain sandiwara, dia siap melayani trik mereka saat ini.


Pria itu lantas berdiri dan Lady sontak memeluk erat. "Sayang, aku tidak sedang bermimpi 'kan?" tanyanya dengan air mata buaya yang mengalir begitu derasnya.

__ADS_1


Padahal dalam hati wanita itu siapa yang tahu. Dia bahkan sudah merencanakan cara untuk menguasa harta keluarga Wilson. Akan tetapi, kehadiran Argon di depannya saat ini sungguh menjadi pukulan telak baginya.


"Kenapa apa kau sedang menikmati masamu menjadi seorang Janda?" sindir Argon.


"Bukan begitu." Dengan segera Lady menyanggah, tetapi dari arah belakang, tabrakan antara cangkir terjatuh dengan lantai dan berakhir hancur berkeping-keping, menyebabkan semua orang menoleh ke sana.


"Argon, kau kah itu, Nak?" Nenek Elizabeth melajukan langkah, membiarkan pecahan gelas terinjak oleh kakinya yang beralas. Dia merengkuh tubuh sang putra karena memang merasakan kehilangan yang luar biasa.


Tanpa sadar cairan bening lolos begitu saja dari bendungan matanya. Kehadiran Argon di hadapannya sontak mengangkat kesedihan yang selama ini dia pendam. Yah, Nenek Elizabeth benar-benar merasakan kehilangan yang luar biasa. Kehilangan putranya Aragon sudah mengambil separuh jiwanya. Jika dia harus kembali kehilangan sosok Argon yang selama ini selalu menurut dan menjadi kebanggaan baginya. Tentu hal tersebut bukan sesuatu yang mudah bagi wanita tua itu.


"Tidak apa-apa, Nak. Terima kasih sudah kembali. Aku pikir sekarang aku benar-benar sebatang kara." Suara bergetar, hidung tersumbat, lengkap dengan isakan kecil lolos dari bibir tua Nenek Eli. Selama ini hanya Argon lah orang yang selalu menuruti kata-katanya dan tak pernah membantah, walau hal tersulit sekalipun. "Ke mana saja kau selama ini, hmm? Lihat wajahmu! Semakin kurus saja," ucap Nenek Eli membelai lembut wajah Argon yang kini pun tak lagi muda.


"Aku hanya pergi sebentar, Bu. Untungnya ada Laura di sana yang menyalamatkanku." Dengan sengaja Argon menjadikan Laura seolah pahlawan bagi hidupnya. Hanya dengan begini, Laura bisa hidup tenang dan tak dianggap sebagai pembawa sial. "Ada orang lain yang berniat jahat pada keluarga kita," kata Argon menyindir halus.


"Apa? Benarkah itu, Mich?" tanya Nenek Eli pada Cucunya.

__ADS_1


Michael mengangguk, inilah salah satu rencana ayah dan anak itu. Mereka bersatu untuk membongkar sedikit demi sedikit orang-orang yang terlibat dalam masalah mereka. Dengan begini, Lady akan gusar, dan mereka pun tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Namun, sebelum mereka berpikir melakukan serangan balik. Michael dan Laura akan bertindak terlebih dahulu nantinya.


"Ya sudah, yang penting semuanya selamat. Kalian pasti lelah. Bagaimana kalau beristirahat dulu? Aku akan meminta pelayan untuk menyiapkan makanan." Lady mencoba mengalihkan pembicaraan sebelum mereka membahas lebih jauh. Kedua tangannya bahkan bergetar hebat. Dia sungguh terpukul dengan kenyataan sore ini.


Baik Laura, Michael, atau pun Argon yang kini bersama Nenek Eli lantas naik ke atas untuk beristirahat maupun bercerita, sedangkan Lady. Wanita tersebut melangkah ke taman belakang, sesekali menoleh ke kanan dan kiri, memastikan tidak ada satu orang pun yang menguping pembicaraannya.


Dia menghubungi kontak yang sebelumnya dengan gelisah, satu kali dering tidak ada jawaban, dering ke dua barulah sambungan di telepon itu terhubung. "Argon ternyata masih hidup. Mereka sudah kembali, apa yang harus kita lakukan kali ini?"


"Kau tenang saja, aku akan mengatasinya. Lebih baik sekarang kau bersikap biasa saja, dan jangan menimbulkan kecurigaan sama sekali," ujar seorang pria di ujung panggilan.


"Baiklah." Lady mematikan sambungan telepon dan menggenggam erat ponsel tersebut di dadanya. "Semoga rencana kali ini berhasil," gumamnya seorang diri.


To Be Continue...

__ADS_1


__ADS_2