
Ruang makan dengan meja panjang dan enam kursi menjadi tempat tiga orang duduk bersama untuk pertama kali. Aneka lauk tersaji di atas piring dan mangkuk berbahan keramik.
Laura, perempuan yang biasa enggan duduk satu tempat bersama Argon, kini turut hadir makan bersama pagi itu. Mich yang biasa membawakan makanannya ke kamar, pagi ini tidak melakukan itu, lantaran kerasnya hati sang istri yang memilih berpuasa jika harus berada satu ruang bersama Argon.
Suasana makan begitu hening. Pita suara masing-masing orang seolah putus sehingga tak ada yang bicara. Fokus mereka hanya pada makanan.
Denting sendok yang kadang terdengar kala tak sengaja menyenggol piring, tak lantas membuat satu dari mereka mengalihkan perhatian. Kebisuan menyergap. Sunyi, senyap layaknya rumah kosong tanpa penghuni.
Sebelumnya setiap pagi Argon memang memasak, demi menunjukkan permintaan maaf pada sang putri. Namun, baru kali ini Laura bersedia menyentuh masakannya, sehingga tak berakhir dengan kekecewaan, seperti hari-hari yang lalu.
Dia tersenyum lembut, menatap putri di sampingnya yang sedari tadi sedikit menunduk. "Bagaimana rasanya, Laura?" tanya Argon.
"Ah, enak." Laura sontak mengangkat wajahnya. Dia memang melahap habis makanan itu karena memiliki rasa seperti masakan sang ibu dulu.
Sayangnya, karena mengangkat wajah dan bersitatap dengan Michael. Dia tidak lagi terfokus pada cita rasa masakan itu, melainkan melirik bibir Michael yang tengah mengunyah makanan dan baru saja mencuri ciumannya.
"Oh, ****. Dia terlalu menggoda untuk kuabaikan," batin Laura kesulitan menelan salivanya sendiri, mengingat manisnya ciuman mereka tadi.
Michael bukannya tidak sadar jika sang istri tengah memerhatikan. Bukannya memahami apa yang saat ini tengah di tahan sang istri, dia malah dengan sengaja menggigit bibirnya sedikit akibat saus yang meluber agar semakin menggoda.
Sudah cukup, Laura tak tahan akan apa yang dilakukan Michael. Dia meletakkan alat makannya dan segera berdiri. "Aku sudah kenyang. Aku pergi dulu!" Tanpa menunggu jawaban dari kedua pria di depannya, Laura berlalu begitu saja meninggalkan ruang makan tersebut.
Dia melangkah sambil mengibaskan tangan ke wajah. Hawa panas seketika menyeruak naik ke ubun-ubun membakar otaknya. "Sialan! Pikiran kecilku terkontaminasi oleh pria mesum itu," gumam Laura segera membuka pintu kamar dan menyalakan pendingin ruangan sedingin mungkin.
__ADS_1
Sekuat tenaga Laura mencoba lebih relaks dan menjauhkan hal kotor dari pikirannya. Sayangnya, lagi-lagi bayangan bibir Michael yang menggoda terus saja terngiang dalam benak kecilnya. Ingin rasanya mengulang kembali kecupan manis seorang pria yang kini berstatus suaminya itu. Namun, tidak mungkin dia melemparkan diri begitu saja sebagai seorang wanita.
"Aku harus melakukan serangan balik setelah ini. Kita lihat saja, Mich. Siapa yang akan menang nantinya?" gumam Laura menyeringai memikirkan rencana dia bertahan selanjutnya.
Suara pintu terbuka membuyarkan lamunan Laura kala itu. Sosok pria yang tadi ada dalam pikirannya, kini perlahan melangkah mendekat. "Kita harus bicara."
Laura hanya mengangguk kecil, dengan sengaja wanita tersebut malah menbuang wajah ke arah lain karena tak ingin fokusnya kembali terganggu. Jangan-jangan Michael hanya ingin menggodanya lagi kali ini.
"Tak bisakah kau melihat wajah orang yang mengajakmu berbicara, Sayang?" tegas Michael memutar kepala Laura dan memaksa untuk melihatnya.
"Bicara ya tinggal bicara. Kau terlalu banyak menuntut. Lagi pula telingaku tidak tuli hanya untuk mendengar ucapanmu yang sedekat ini," ketus Laura lagi-lagi berniat membuang wajah, tetapi dengan cepat ditahan Michael.
"Kenapa mulutmu ini ketika berbicara tidak semanis rasa memakannya?" Michael memicing, dua garis alis menyatu menambahkan kesan tampan semakin melekat melelehkan hati Laura kala itu juga.
Laura berdeham sejenak karena tak ingin salah tingkah. Wanita mana pun pasti akan gerogi berada di situasi secangggung ini. Jika saja tidak ada orang lain di sini, dia pasti sudah bersorak ria. Akan tetapi, Laura tetap saja menjaga egonya. "Katakan apa yang ingin kau bicarakan! Jangan banyak basa-basi!"
"Tidak," jawab Laura cepat. Ternyata Michael hanya berniat menghancurkan suasana hatinya pagi ini, menyebalkan.
"Laura!" bentak Michael.
Akan tetapi, Laura juga tak ingin kalah. Dia menjawab dnegan suara yang lebih keras daripada sebelumnya. "Kau pikir aku ini apa bisa mengerti isi hati manusia? Meskipun saat ini kau dan Papa terlihat begitu tulus padaku, tidak ada satu pun di dunia ini yang tahu niat kalian di belakangku! Aku, sama sekali tidak mengenal seperti apa kalian, apalagi menebak bagaimana kau berniat memanfaatkan aku nanti."
"La—" Belum sempat Michael mencoba menyanggah apa yang dikatakan Laura, wanita itu sudah terlebih dahulu menunjukkan jarinya pada Michael.
__ADS_1
"Jangan bertingkah seolah-olah kau tahu segala tentangku, Tuan Michael yang terhormat!" Laura semakin menatap tajam Michael, sebuah pandangan kemarahan yang tentunya lebih dalam dibandingkan siapa pun saat ini.
Perasaan dikecewakan membuat Laura memilih untuk tidak terlalu percaya akan manusia. Karen hati mereka bisa berubah kapan saja.
"Laura, meskipun kau tidak percaya pada apa yang aku lakukan. Tapi, aku berjanji, tidak akan mengkhianatimu atau pun meninggalkanmu?" ucap Michael memegang kedua bahu sang istri.
"Kenapa?" Laura melepaskan salah satu tangan Michael di bahunya. "Karena aku putri Argon yang terbuang? Jadi kau merasa iba padaku? Atau karena kau merasa bersalah karena pria tua itu lebih memilihmu di bandingkan aku dan ibuku. Simpan semua simpati itu untuk dirimu sendiri. Aku tidak butuh semua itu," tegas Laura sambil menunjuk-nunjuk dada Michael dan segera hendak melangkah pergi.
"Bagaimana kalau kami buktikan semua keseriusan ini?"
"Simpan untuk dirimu sendiri!" Laura membuka pintu. Di mana ternyata Argon sudah ada di sana. Laura hanya melirik sekilas lalu melangkah pergi menuju taman belakang.
Sementara itu, Argon masuk ke ruangan di mana sang putra berada. Michael mengusap kasar wajah, dan duduk di atas ranjang. "Maafkan Papa, Mich. Gara-gara Papa hubungan kalian yang baru dimulai renggang lagi."
Michael menggeleng kecil. "Ini bukan salah, Papa. Cepat atau lambat, Laura harus siap menghadapi mereka. Kita tidak bisa menunda apapun untuk saat ini, Pa."
Argon paham maksud putranya. "Jadi, apa rencanamu selanjutnya?"
"Kita kembali ke kediaman dan membalas satu per satu dari mereka yang sudah bertindak kejam."
"Mich, Papa bukannya tidak mau. Tapi, Nathan juga adikmu. Papa harap kalian tidak akan berselisih karena semua ini."
Lady adalah ibu kandung Nathan, memang suatu hal yang mustahil bagi mereka untuk memberikan pelajaran bagi wanita itu. Nathan memiliki sifat yang berlainan dan lebih mengalah seperti Argon. Namun, bukan hanya Lady yang akan Michael beri pelajaran, melainkan seluruh keluarga Wilson. Dia sendiri yang akan mengubah aturan dalam keluarga itu agar Nenek Elizabeth tak semena-mena lagi terhadap keturunannya.
__ADS_1
"Aku tahu apa yang aku lakukan, Pa. Papa jangan khawatir!" ucap Michael menenangkan.
To Be Continue...