
Di negara lain, seorang pria yang duduk di kursi roda tertawa lepas melihat berita yang muncul di televisi hari itu. Bukan hanya pesta pernikahan yang hancur, tetapi dua orang dinyatakan tewas menjadi korban atas kejadian tersebut. Yaitu sosok Argon Wilson dan menantunya Laura Orca. Keduanya tewas karena kebakaran dalam sebuah pesta pernikahan yang seharusnya menjadi momen bahagia bagi keluarga Wilson.
Tawa sang pria terdengar menggelegar memenuhi ruangan pagi itu. Cerutu yang ada di tangan dia sesap dengan perlahan, asap tebal keluar dari mulutnya dan mengepul ke udara. Senyum sinis terdapat pada wajah laki-laki tua itu.
"Lihat, aku menang!" Tunjuknya ke arah layar pada laki-laki yang berdiri di belakangnya dan tertawa penuh kemenangan.
"Memang gadis itu sangat bisa sekali diandalkan." Tawa kembali menggelegar di sana dari bibirnya. "Argon mungkin mati terpanggang dengan rasa sakit yang terpendam. Tapi, Michael akan menderita seumur hidupnya melebihi pria itu."
"Benar, Tuan. Tinggal selangkah lagi kita bisa menguasai pasar legal maupun ilegal."
"Di mana mereka sekarang?"
"Dalam perjalanan ke mari, Tuan. Mungkin sebentar lagi sampai."
Benar saja, tak lama setelah perbincangan keduanya sebuah mobil mulai memasuki pelataran kediaman. Dengan didorong oleh anak buahnya, pria tersebut mulai bergerak menyambut kedua orang yang datang.
"Kalian sudah kembali," sapa pria itu pada kedua gadis.
__ADS_1
"Paman."
"Ayah," sapa Catherine dan Laura bersamaan.
"Selamat datang," sambut pria itu. "Kalian pasti lelah setelah perjalanan jauh. Ayo masuk!" Mereka lantas memasuki kediaman tersebut layaknya sebuah keluarga. Bahkan kamar untuk Laura dan Catherine pun juga tersedia di kediaman itu.
Laura dan Catherine memasuki kamar mereka guna meletakkan barang bawaan. Akan tetapi, di sana Laura merasa hampa. Dia merebahkan diri ke atas ranjang dengan kedua tangan disatukan menyangga pipinya. "Cathy."
"Hmm, kenapa? Apa kau lelah?"
Hanya anggukan yang bisa Laura berikan sebagai jawaban. Dia lantas mengubah posisi menjadi duduk dan menatap Catherine yang tengah menata pakaian. "Terima kasih. Terima kasih sudah membantuku selama ini."
Keduanya berpelukan untuk sejenak. Hingga sebuah ketukan di pintu menghentikan suasana haru kedua wanita itu. "Masuk," ucap Catherine.
"Nona, Tuan menunggu Anda di ruanganan," kata seorang pelayan.
"Baiklah. Aku akan segera ke sana," jawab Catherine. Dia lantas menoleh pada Laura sejenak. "Beristirahat lah dulu. Kau pasti lelah setelah perjalanan jauh. Aku akan menemui ayah sebentar."
__ADS_1
Catherine beranjak pergi mengikuti pelayan yang memanggilnya, sedangkan Laura yang ditinggalkan seorang diri lantas berdiri dari posisinya. Dia melangkah ke balkon kamar, melihat pemandangan di depan kamar yang cerah sembari menutup mata.
Ingatan Laura kembali akan lima tahun yang lalu. Saat di mana dia berjalan pontang panting sendiri di jalanan akibat diusir oleh bibinya. Entah apa jadinya jika malam itu dia tidak bertemu dengan Catherine dan ayahnya.
Mereka membawa Laura pulang dan menganggap seperti keluarga sendiri. Namun, setelah Laura bangkit dari lukanya dan menerima pelatihan dari James Whale. Gadis tersebut memilih hidup sendiri setelah mengetahui bibinya banyak mencari tahu tentang hidupnya. Hingga akhirnya Laura pun menjadi seorang penyapu jalanan saat itu.
Bukan hal yang mudah bagi Laura melalui setiap pelatihan sebelum akhirnya mandiri. Namun, James Whale berhasil memprovokasi setiap kalimat hingga Laura pun tidak mudah untuk menyerah. Meskipun sangat sulit dan menyakitkan, tetapi mereka benar-benar berhasil mengubah gadis ceria yang awalnya lemah lembut menjadi sosok pendendam juga licik.
"Oh iya, aku lupa ingin memberikan sesuatu untuk paman setelah misiku berhasil." Laura lantas membuka koper yang belum disentuhnya. Dia mengeluarkan sebuah kotak berisikan hadiah untuk James dan dengan ceria melangkah menuju ruangan pria itu.
Namun, tangan Laura yang telah memegang gagang pintu pun terhenti karena mendengar percakapan di dalam antara James dan Catherine. "Kau sudah memastikan Argon tewas di sana?"
"Sudah, Ayah. Bahkan Laura ada di depannya saat itu."
"Bagus. Pastinya sangat menyakitkan bagi pria itu. Setelah mencari bertahun-tahun, akhirnya dia malah mati di tangan putrinya sendiri."
"Apa maksudnya itu?" batin Laura tercengang akan setiap kalimat yang masuk ke telinganya. Dia langsung mengurungkan niat untuk masuk ke ruangan tersebut. Tubuhnya bergetar hebat dengan kenyataan yang baru didengarnya. Otaknya tak mampu berpikir guna mencerna ucapan James. Akan tetapi, semua itu bagaikan sambaran petir yang seketika menghancurkannya saat itu juga.
__ADS_1
To Be Continue…