
Dengan langkah seribu bayangan Laura mendekati target yang tampak tengah meletakkan sesuatu di sebuah pot besar sudut ruangan. Dari belakang gadis itu langsung melingkarkan tangan di leher dan memutar kepala pria tersebut ke belakang sampai pingsan.
"Berani-beraninya kau berniat mengacaukan tempat ini." Laura mengambil apa yang hendak disimpan sang mata-mata. Setelah memastikan pria itu tidak bergerak sama sekali, Laura dengan susah payah menyeretnya ke halaman depan. "Sialan! Dasar babi! Kami memberimu makan banyak sampai-sampai kau gemuk seperti ini. Tapi ternyata malah berkhianat dan berniat mengacaukan markas Michael. Awas saja kau! Akan kuberikan kau pelajaran dan kujadikan manusia panggang!"
Perlahan dengan tega Laura melepaskan pakaian yang melekat di tubuh pria itu hingga menyisakan pakaian dalamnya saja. Dia lantas mengikat tangan dan kaki pria tersebut, lalu menarik ke sebuah tiang dan mengereknya ke atas dengan tubuh terbalik.
Walaupun sangat sulit dan berat karena memang Laura melakukannya seorang diri. Namun, karena tekad kuat membuatnya berhasil menjadikan pria itu sebagai salah satu pengganti bendera yang berkibar setengah tiang.
Karena hari masih terlalu gelap, tidak mungkin bagi Laura untuk bertindak hingga membangunkan yang lainnya. Namun, ternyata dari belakang Leo yang sudah bangun segera melangkah mendekati Laura.
"Kakak Ipar, apa yang kau lakukan?" tanya Leo sontak mengejutkan Laura.
"Sialan kau! Kenapa datang tiba-tiba seperti setan?" umpat Laura kesal sambil mengingat simpul tali di depannya agar sang bendera manusia tidak merosot.
Leo mendongakkan kepala, melihat di mana seorang pria hampir telanjang berada di tengah-tengah tiang besar itu. Sontak dia pun membelalak sambil menutup mulutnya. "Kakak Ipar, apa kau baru saja berselingkuh dari Master dan memperkosa pria itu?"
"Sembarangan kalau bicara. Ngomong-ngomong kau mengenalnya?"
Leo mencoba menerawang wajah pria yang kini di gantung itu. Di mana dia pernah melihatnya. "Aa, dia salah satu koki yang ada di markas."
"Koki?" Dahi Laura mengkerut, gadis itu segera bergerak menuju dapur diikuti oleh Leo.
"Kakak Ipar, apa terjadi sesuatu?"
__ADS_1
Untuk sejenak Laura terdiam, orang di belakangnya apakah bisa dipercaya. Namun, demi melindungi tempat ini, Laura tidak mungkin melakukan semuanya sendiri. Dia pun berbalik dan menatap Leo dengan seksama. Sikap ketidaksukaan pria itu padanya sejak awal menunjukkan jika Leo memang benar-benar anak buah Michael. Bukan orang yang menjilat informasi dan memanfaatkannya.
"Bagaimana menurutmu kalau tempat ini diserang?" tanya Laura penuh penekanan.
Ekspresi Leo seketika berubah detik itu juga. Jika biasanya setelah akrab dengan Laura dia berubah menjadi konyol seperti wanita itu. Kini wajahnya kembali berubah datar layaknya telenan.
Dia adalah orang yang beruntung bisa bertemu dengan Michael dan dibawa ke tempat ini. Nyawa yang Leo miliki sejak awal sudah membuatnya bersumpah untuk menjadi salah satu bawahan Mich yang setia.
Sejak Michael menyelamatkannya dari maut, Leo bahkan tak berniat menginjakkan kakinya di tempat lain, kecuali mengikuti sang penyelamat. Hal itu pula lah yang mendasari awal Leo tidak menyukai Laura, karena beranggapan dengan adanya wanita Michael akan berubah dan mengesampingkan urusan di markas.
"Apa mereka berniat menyerang di saat Master tidak ada?" tanya Leo datar. Tidak ada lagi ekspresi bersahabat yang dia tunjukkan. Pria itu kembali menjadi dingin dan tampak bengis seperti halnya awal Laura mengenal Leo.
Hanya anggukan kecil yang Laura berikan sebagai jawaban. Pria di hadapannya saat ini bahkan tak berkedip sama sekali dan berubah menjadi serius.
Leo membuka sebuah pintu, berniat memasukkan Laura ke dalamnya. Namun, sayangnya sebuah pistol sudah terlebih dulu melekat di kepala bagian belakang Leo.
"Siapa sebenarnya dirimu? Dan apa yang ingin kau lakukan?" Tidak ada nada ramah tamah seperti sebelumnya yang keluar dari mulut Laura. Hanya ada suara dingin dan ujung senjata yang melekat semakin dekat dengan sasarannya.
Melihat betapa hati-hatinya Laura bertindak, Leo hanya tersenyum menyeringai. Dengan keyakinan pria itu berbalik dan ujung pistol pun kini melekat di dahinya. "Awalnya, Master meminta kelompokku untuk menjagamu ketika dia membawamu ke sini. Hal itu pula yang membuatku membencimu. Kenapa seorang mafia harus menjaga gadis ingusan? Merepotkan saja. Tapi, kini aku mengerti. Kau tidak mudah untuk dibodohi. Cukup mengesankan."
"Katakan lebih jelas! Aku tidak butuh omong kosongmu!" tegas Laura semakin mendorong tangannya.
Tidak ada ketakutan terlihat di wajah Leo. Ternyata Michael memiliki seorang istri yang cukup tangguh, meskipun bertubuh mungil karena masih dalam masa pertumbuhan.
__ADS_1
"Master memintaku untuk melindungimu ketika dia tidak ada dan jika penyerangan itu benar-benar terjadi. Ruangan ini adalah jalur satu-satunya untuk melarikan diri kalau sampai kami tidak bisa mempertahankan tempat ini."
"Michael sudah memprediksi apa yang akan terjadi?" Dahi Laura mengkerut. "Dan kau berniat mengurungku?"
Leo menggeleng kecil. "Pilihan ada di tanganmu, Nona. Aku tahu mungkin kali ini akan mendapat hukuman karena melanggar tugas dari Master untuk menjagamu. Tapi, melihat kemampuanmu, aku hanya ingin memberikan dua pilihan. Kalau kau ikut kami bertempur jangan merepotkan aku karena kami tidak bisa melindungimu kapan saja dalam situasi terburuk. Apalagi kalau sampai kau merengek layaknya anak kecil. Maka lebih baik kau diam dan sembunyi di sini. Keluarlah jika kami menang, dan pergilah kalau sampai tempat ini hancur," ucap Leo memperingatkan.
Ekspresi serius Leo mampu meyakinkan Laura. Ternyata Michael pun sudah menduga hal seperti ini akan segera terjadi cepat atau lambat. Laura pun menurunkan senjata dengan perlahan. "Kau terlalu banyak bicara! Ayo bergerak! Sebelum mereka tiba di sini!"
Laura melangkah pergi ke satu sisi dengan segera, Leo hanya tersenyum kecil melihatnya. "Kau salah jalan! Seharusnya lewat sini."
Dengan kesal Laura mencebik dan berbalik. "Kenapa tidak bilang dari tadi? Dasar kalian para pria menyebalkan!"
Padahal usianya keduanya terpaut begitu jauh, tetapi Laura tidak segan-segan mengumpat di depan Leo, sedangkan pria itu kini semakin mengagumi sosok wanita yang dibawa tuannya itu.
Salah satu tugas Leo dan kelompoknya adalah mengawasi anak buah lainnya, dan memastikan tidak ada masalah dari luar yang bisa mengganggu kelangsungan markas ketika sang master tidak ada. Setiap anak buah Michael memiliki tugas rahasia masing-masing, sehingga meskipun mereka terlihat menganggur, faktanya hanya ditugaskan untuk tujuan berbeda.
Leo bukannya tidak tahu jika pria yang diseret Laura tadi adalah mata-mata. Namun, tidak menduga mereka akan melakukan serangan dari belakang di saat sang master benar-benar tidak di tempatnya. Namun, sebelum pergi Michael selalu memperingatkannya untuk berhati-hati karena itulah Leo pun sudah terbangun di pagi buta seperti ini.
Dia layaknya seorang kamera pengintai berwujud manusia. Tidak ada satu pun orang yang lepas dari pandangannya. Termasuk para mata-mata. Hanya saja sesuai perintah Michael, mereka diizinkan bertindak di waktu yang tepat agar pihak lawan tidak curiga dan semakin banyak mengirim mata-mata lainnya serta memberikan tindakan tidak terduga.
Secara tidak langsung, Michael hanya berpura-pura tidak tahu jika ada mata-mata. Faktanya King Master bisa bertahan sampai sejauh ini bukan hanya karena kebengisan mereka, tetapi juga sikap hati-hati dalam bertindak.
To Be Continue...
__ADS_1