
Dengan menggunakan wajah polos, Nathalie melangkah menuju taman membawa sebuah nampan berisikan tiga cangkir teh. Menurut Lady, Michael jika sudah berbincang dengan sang ayah pasti membicarakan masalah serius yang pastinya akan selesai larut malam. Namun, dia juga sudah merencanakan hal lainnya untuk mengatasi semua itu tepat waktu. Pastinya, akan ada kejutan di pagi hari di keluarga Wilson nantinya yang akan membuat heboh seisi kediaman.
"Apa yang kalian bicarakan? Sepertinya asyik sekali. Bolehkah aku bergabung?" Setibanya di taman, Nathalie langsung duduk di kursi yang juga tersedia di taman itu begitu saja dan meletakkan nampan bawaannya.
"Ada urusan apa kau ke sini?" tanya Nathan datar. Entah mengapa dia sangat membenci sosok berwajah dua seperti Nathalie. Meskipun dia masih pria muda yang lebih polos dibandingkan Michael, tetapi dia sangat tidak menyukai wanita yang sejenis dengan ibunya. Memuakkan dan serakah.
"Ah, aku hanya kesepian di rumah ini sendirian. Lagi pula Nenek Eli dan Aunty Lady sudah tidur. Tadi tak sengaja aku melihat kalian masih bercengkrama di sini. Ini aku bawakan teh dan makanan ringan untuk menemani malam kita." Menggunakan wajah tembok Nathalie berusaha akrab dengan Nathan dan Laura
"Kalau kesepian seharusnya kau pulang saja, kenapa malah menginap di rumah orang lain," sindir Nathan pedas.
__ADS_1
Nathalie mengabaikan sindiran Nathan. Seolah telinganya tersumbat kotoran seribu tahun dan menganggap ucapan pria itu tak pernah terdengar. "Oh, iya. Aku minta maaf padamu untuk kejadian sebelumnya. Kau pasti merasa tidak nyaman dengan kehadiranku di sini. Apalagi masalah pertunangan sebelumnya di mana seharusnya akulah yang jadi peran utama. Tapi, aku dan Aunty Lady memang sudah seperti ibu dan anak, tidak mudah bermusuhan hanya karena masalah sepele seperti itu. Ditambah kami sangat cocok jika berbelanja bersama. Jadi, aku harap kita bisa lebih akrab, walaupun posisi kita berbeda."
Laura hanya bisa menyeringai dalam hatinya. Apa yang dikatakan Nathalie ibarat angin lalu tak bertalu. Seperti apa watak aslinya, Laura lebih memahaminya dari siapa pun.
"Oh, iya. Kita belum kenalan. Aku Nathalie," ujar Nathalie sambil mengulurkan tangan.
"Haruskah aku bermain-main denganmu juga," batin Laura menerima uluran tangan itu. "Laura."
"Senang berkenalan denganmu. Sebagai tanda perkenalan kita, bagaimana kalau kita minum teh buatanku. Tadinya aku ingin membuat minuman dingin. Tapi angin malam ini terlalu sejuk. Nanti kita masuk angin." Nathalie menyerahkan satu per satu cangkir ke pada Nathan dan Laura.
__ADS_1
Laura menerima, tetapi tatapan tajam seketika dia layangkan ke pada Nathalie. "Apa yang kau rencanakan kali ini," batinnya.
"Kenapa? Apa kalian mengira aku memberikan racun ke situ? Kalau begitu mari kita bertukar cangkir." Dengan perilaku yang meyakinkan, Nathalie menukar cangkir-cangkir itu. Karena memang pada dasarnya semua cangkir sudah berisikan obat, sedangkan dia hanya perlu pura-pura meminumnya sedikit dan tersenyum pada keduanya seolah memang semuanya normal. "Pas sekali dengan suasana malam ini."
Nathan dan Laura pun meminum teh di cangkir mereka sedikit. Namun, yang tak keduanya tahu di sana Nathalie telah memberikan dosis lebih dan menandai cangkirnya karena sudah menduga keduanya akan curiga. Senyum pun terukir lepas di wajah Nathalie menatap langit. Bukan disebabkan hawa menyejukkan malam ini, tetapi lebih pada rencananya yang berjalan lancar.
Ketiganya pun terdiam dan tampak tak saling mengucapkan sepatah kata pun. Hingga sedetik kemudian, ponsel Nathalie pun berdering. "Maaf sepertinya aku harus masuk dulu. Ibuku menghubungiku."
Tanpa membuang waktu, Nathalie melangkah pergi meninggalkan Nathan dan Laura. Sebelum reaksi dari obat yang diberikannya menimbulkan hasil. "Kita lihat saja nanti! Siapa yang akan menjadi Nyonya Wilson," batinnya bersorak ria.
__ADS_1
To Be Continue..