
"Apa yang kau makan ini?" Catherine melangkah menuju meja Laura dengan sebuah paper bag di tangannya. Lagi-lagi dia hanya melihat Laura memakan rumput tetangga, sangat hijau dan tak seimbang.
"Salad, apalagi," jawab Laura santai sambil terus memerhatikan laporan di depannya.
"Lagi-lagi kau makan makanan kambing. Nah makan, setidaknya kau harus bertenaga untuk pura-pura bahagia. Jangan sampai kau lemas gara-gara kekurangan gizi!" Tanpa melihat ekspresi Laura saat ini, Catherine menyingkirkan dokumen yang tadinya menjadi fokus Laura. Dia menata beberapa bekas makanan di meja, sedangkan Laura hanya menghela napas berat karenanya.
"Bukankah kau tahu aku sedang diet? Makanan yang kau bawakan ini hanya akan membuat semua usahaku sia-sia saja. Bukannya langsing, aku malah semakin terlihat seperti babi." Laura mencoba menyingkirkan bekas makanan itu dari mejanya. Setelah keluar dari rumah sakit, dia memang sangat menjaga berat badannya.
Kehamilan menyebabkan tubuh cantiknya berubah. Ada banyak lemak menumpuk yang membuatnya semakin gemuk, sedangkan saingannya saat ini merupakan sosok wanita cantik yang tak lain adalah Sarah. Dia tidak ingin Michael enggan meliriknya karena tubuh yang tak lagi menarik. Sebagai pelakor profesional, setidaknya Laura harus berusaha semaksimal mungkin.
"Jangan banyak berpikir! Cepat makan makananmu atau aku tidak sudi membantumu merebut pria itu!" ancam Catherine lantas menyuapkan satu potong daging berbalut bumbu ke mulut Laura dengan paksa. "Setidaknya ingatlah! Kau masih punya Nicholas yang harus kau susui. Kalau kau hanya makan makanan kambing, dia akan tumbuh menjadi anak sapi nanti."
__ADS_1
Laura mencebik, kalah susah setiap kalimatnya jika Catherine sudah berbicara tentang Nicholas. Seolah tahu apa yang tengah di hadapi ibunya, bayi mungil itu selalu saja bisa diajak bekerja sama. Diam ketika Laura sendirian, dan menangis keras agar mendapat perhatian Michael.
"Apa kau sudah melakukan apa yang aku minta?" tanya Laura di sela mengunyah makanan.
"Tenang saja. Apa yang kau inginkan sudah aku lakukan. Papamu juga membantu kami. Tidak akan ada satu pun pebisnis yang berani berinvestasi ke tempat itu nantinya."
Laura mengangguk paham. "Bagus. Biarkan dia datang sendiri kemari padaku. Aku penasaran dengan cerita apa yang akan mereka bawa nantinya."
Benar saja, tak perlu waktu lama orang yang dimaksudkan datang ke perusahaan. Setelah mendapat izin dari Laura, barulah pria itu memasuki ruangannya.
Dia lantas memberikan isyarat pada Catherine agar membereskan makan siangnya. Kenyang seketika memenuhi perutnya di kala melihat rencananya tampak berjalan dengan mulus.
__ADS_1
"Terima kasih, Nyonya."
"Ada perlu apa Anda kemari?" Dengan anggun bak seorang pemimpin pada umumnya, Laura duduk di kursi. Pria itu lantas mengeluarkan berkas pengajuan miliknya dengan hati-hati.
"Saya kemari karena ingin mencari investor, Nyonya. Semoga Anda berminat bekerja sama dengan kami. Kami—" Belum sempat pria itu mengeluarkan penawarannya. Laura sudah terlebih dahulu memotong kalimatnya.
"Apa hotelmu sudah bangkrut? Kau ingin aku berinvestasi di tempat yang seharusnya ditutup itu?"
Pria itu menghela napas berat. Memang hotelnya kini masih berjalan, tetapi tidak semenguntungkan sebelumnya. Bukan hanya sepi, tetapi arus kas dan beban hutang yang besar untuk tetap beroperasi membuatnya kewalahan. Terlebih lagu tidak ada satu pun investor yang tertarik.
"Tapi, Nyonya. Kami—" Lagi-lagi Laura menghentikan kalimat pria itu.
__ADS_1
"Bukankah rasanya sangat melelahkan berpura-pura baik-baik saja di depan Sarah, Tuan?"
"Ma—maksudmu?"