
Demi mencapai misinya kali ini, Laura pun bertekad untuk membuat Michael jatuh hati padanya. Pagi-pagi sekali dia sudah bangun untuk mencoba membuatkan sarapan pria itu. Dia berharap dengan masakannya dapat membuat Michael terkesan dan menyukainya.
Menurut artikel yang Laura baca sebelumnya, cara membuat pria jatuh cinta paling mudah adalah dengan menyelesaikan masalah perutnya. Ketika perut mereka kenyang, maka hatinya juga senang.
"Oh, aku akan menciptakan rekor hari ini. Seharusnya dia bersyukur bisa mencicipi masakan pertama Laura yang spesial. Seperti kata pepatah, dari mata turun ke mulut, dari mulut turun lagi ke perut. Perut kenyang hati pun senang," ucap Laura riang selesai mengoleskan mentega ke roti tawar.
Meskipun faktanya dia sendiri sangat jarang dan hampir tidak pernah berkutat di dapur. Dulu, ibunya selalu menyiapkan segala keperluannya dengan baik dan tidak pernah memaksakan apa yang tidak Laura suka. Sayangnya, kematian sang ibu bukan hanya memaksa Laura hidup sendiri, tetapi juga membuatnya tak pernah memasuki dapur sebab trauma akan kebakaran sebelumnya.
Namun, sekuat tenaga Laura berusaha menciptakan hidangan terbaiknya untuk pertama kali. Padahal dia memiliki dia memiliki ketakutan tersendiri akan api, tetapi gadis tersebut mencoba melawannya dengan berani.
"Kalau tahu memasak akan sesulit ini, aku pasti sudah minta diajari sejak lahir saat Ibu masih ada," gerutu Laura mencoba menyalakan kompor dengan susah payah. Dia lantas memecahkan telur ke atas penggorengan setelah itu. Namun, karena minyaknya terlalu panas letupannya pun memercik ke tubuhnya seketika tanpa aba-aba membuatnya mendesis.
Para pelayan hanya bisa mengintip dari luar. Akan tetapi, cara Laura memasak menyebabkan mereka khawatir akan nasib pekerjaan ini. Asap hitam dan suara Laura yang mengadu kesakitan akibat percikan minyak, semakin membuat mereka takut. Bagaimana jika Michael mengamuk dan berakhir dengan memecat mereka semua. Bisa-bisa kesempatan berkarir di kastil ini hilang dalam sekejap mata. Namun, mau bagaimana lagi, gadis tersebut terlalu keras kepala dan menolak tawaran mereka dalam membantunya.
__ADS_1
Benar saja, baru memikirkan sambil berbisik-bisik pada rekannya, suara bariton Michael di belakang sontak mengejutkan mereka semua. "Sedang apa kalian?" tanyanya ikut mengintip di balik dinding apa yang menjadi pusat perhatian kali ini.
"Master." Seluruh pelayan menunduk membungkuk hormat pada Michael. Mereka saling menyenggol rekan agar menjelaskan pada tuannya. Hingga akhirnya salah satu pelayan pun menceritakan apa yang terjadi. "Itu, Master. Nona Laura memaksakan diri menyiapkan sarapannya sendiri pagi ini."
Michael mengerutkan dahi, tetapi tidak berlapis coklat. "Laura? Memasak?" tanyanya memastikan dan kembali melongok ke arah dapur.
Para pelayan serentak mengangguk. Dalam hati mereka berharap sang tuan tidak marah kali ini. Sepertinya, nasib baik pun berpihak pada mereka karena Michael hanya mengibaskan tangan sebagai isyarat agar para pelayan membubarkan diri.
Dengan langkah bayang dan tak menimbulkan suara, Michael semakin dekat melangkahkan kakinya. "Apa yang kau buat?" bisik Mich di telinga Laura.
Michael hanya tersenyum kecil mengintip penampakan telur yang dibuat Laura. "Apa itu gosong?" ejeknya.
"Ini bukan gosong," sanggah Laura memutar otak sambil mengangkat telur itu dari penggorengan. "Ini hanya terlalu matang dan hitam-hitam itu adalah—" Pandangan Laura mengedar ke segala arah mencari alasan. "Kecap, iya kecap," ucapnya beralasan dan segera meletakkan telur buatannya ke atas roti.
__ADS_1
Sikap Laura tentu saja menghadirkan suasana pagi yang lain bagi Michael. Tampaknya hari ini giliran dirinya yang tak dapat lagi menahan tawa. Laura benar-benar pembohong ulung, bagaimana kehitaman yang jelas-jelas itu gosong dikatakan kecap. Pria tersebut tertawa terbahak-bahak menatap penampakan makanan yang dibuat Laura pagi ini.
"Jelas-jelas itu gosong. Bagaimana bisa kau mengatakan kecap? Kasihan kecap menjadi korban fitnahmu." Michael tak hentinya tertawa kali ini. Belum lagi tubuh Laura yang kotor dan penuh dengan noda makanan. Sungguh hanya dalam sekali lihat dia seharusnya sadar jika dapur saat ini sudah menjadi medan pertempuran baginya.
Tanpa mereka sadari, apa yang dilakukan pasangan tersebut masih disaksikan para pelayan di balik tembok. "Benarkah itu, Master?"
"Iya, aku tidak akan percaya jika tidak melihatnya sendiri. Dia tertawa pagi ini?" ujar pelayan lainnya tak percaya.
"Hei, Sam! Kau sudah boleh mati setelah ini. Master sepertinya telah menemukan belahan jiwanya," ucap seorang pelayan lagi.
Sam hanya mengangguk setuju. Senyum Michael adalah sesuatu yang mustahil mereka lihat selama bekerja di kastil ini. Namun, hari ini pria tersebut benar-benar tertawa lebar karena masakan gosong dan tingkah seorang gadis.
"Mereka pasangan yang serasi," gumam Sam melihat lurus di mana Michael mengusap pipi Laura yang penuh dengan noda hitam dan wajah penuh kekesalan.
__ADS_1
To Be Continue...