Istri Tawanan Tuan Arogan

Istri Tawanan Tuan Arogan
Chapter 79


__ADS_3

Setelah semua persiapan selesai, Laura, Leo, dan yang lainnya pun memposisikan diri di tempat masing-masing guna mengamati situasi.


Laura yang berada di atap memegang sebuah teropong di tangan dan meletakkan di depan kedua matanya. Markas King Master cukup jauh dari pemukiman, harus melewati hutan demi mencapai pusat marlas. Tidak adanya gedung-gedung tinggi menyebabkan wanita itu semakin mudah mengawasi lokasi karena hanya terhalang pohon.


Suasana hening dan tenang membawa Laura hanyut di dalam menerawang, kepalanya bergerak ke kanan dan kiri mengedarkan pandangan, mana tahu di kejauhan mata-mata mereka bersembunyi di suatu tempat yang cukup dekat.


Sinar mentari mulai meninggi, hangatnya berubah seiring berjalannya waktu kala itu. Kicauan burung yang biasanya menjadi alunan penyambut pagi, sudah tak lagi terdengar. Hanya menyisakan kesepian serta ketegangan yang entah kapan menjadi pertarungan.


"Ish, apa firasatku salah? Kenapa mereka lama sekali tak datang-datang? Padahal aku sudah tidak sabar untuk bermain-main," gumam Laura seorang diri lalu menghela napas kasar. "Ternyata menunggu itu sangat membosankan. Lebih baik menyerang terlebih dahulu, baru bisa puas melakukan serangan. Dasar pria tua, bergerak saja lama sekali. Tidak tahu apa, aku kepanasan menunggunya sejak tadi."


Tak henti-hentinya Laura menggerutu seorang diri. Posisinya yang sendirian membuat wanita itu menunggu musuh datang sambil memakan roti kacang. Entah berapa banyak lapis roti yang sudah dia habiskan. Kalau tahu akan selama ini, seharusnya dia makan makanan berat dulu tadi. "Dasar Si John lambat."


Tak lama kemudian, seorang pria yang tadinya diikat oleh Laura di tiang mulai tersadar. Pria itu menggeliat layaknya cacing kepanasan. Selain tubuh yang nyaris telanjang, posisi terbalik pun membuatnya bergerak tak karuan. Sayangnya, mulut lelaki tersebut tertutup rapat oleh lakban, sehingga dia tidak bisa berteriak sama sekali.


"Ah, babiku sudah bangun." Senyum mengembang di wajah Laura. "Setidaknya ada sedikit obat karena sasaran utama tak kunjung datang."


Tanpa ragu-ragu Laura meletakkan teropong di tangannya. Dia mengubah posisi dan memegang salah satu senapan jarak jauh. Mata kiri Laura tertutup tatkala mencoba membidik tepat di tempat yang dia inginkan.


Tak butuh waktu lama, Laura menembakkan senapannya saat itu juga. Sangat cepat sebuah peluru melesat, suara desingan menembus angin yang tenang, hingga berakhir dengan bersarang di kepala sang pria yang langsung tewas seketika dengan darah menetes ke bawah.


Sontak hal tersebut membuat beberapa anak buah menoleh ke arahnya. "Apa yang terjadi?" Sebuah suara yang berasal dari Leo terdengar cukup jelas di telinga Laura.


"Bukan apa-apa. Hanya pemanasan," jawab Laura singkat. Wanita itu lantas meletakkan kembali senjata, dan meraih sesuatu di sakunya. Beberapa permen karet varian rasa dia buka lalu, di masukkan ke mulut dan mengunyah layaknya anak kecil.

__ADS_1


"Mulutku sampai terasa kecu menunggu mereka. Sudah seperti menunggu suamiku pulang bekerja saja. Menyebalkan." Padahal dia senang menjnggu pertempuran, seharusnya seseorang merasa takut atau gugup. Namun, tidak dengan Laura yang malah tak sabar untuk menunggu seolah itu adalah diskon di pusat perbelanjaan.


Sejenak Laura menghentikan kalimatnya dan mendongakkan kepala, menatap langit yang luas bahkan tak ada awan putih di sekitarnya. "Langit, bisakah kau lancarkan urusan suamiku. Aku rindu ingin segera bertemu."


Layaknya wanita yang tengah dimabuk asmara, sayangnya dia terlalu lama menyadari perasaan akan suaminya itu. Mengingat semua perhatian Michael membuat Laura menghela napas kasar. "Seandainya kau ada di sini, pasti menyenangkan bisa berkolaborasi."


Tak butuh waktu lama, suara sebuah ranjau darat meledak dari suatu tempat menyebabkan semua orang seketika bersiap siaga. Hari ini memang tidak diizinkan adanya orang yang berkeliaran di sekitar markas, sehingga bisa di pastikan jika itu adalah kedatangan orang yang mereka tunggu.


Masing-masing pemimpin kelompok mulai melihat ke arah ledakan menggunakan teropong. Beberapa mobil berlapis baja tampak melaju dengan sangat cepat menerobos gerbang markas.


Leo segera mengeluarkan para mata-mata yang berpenampilan tertutup layaknya pion pertama King Master. Benar saja, dengan cepat mereka tewas menjadi sasaran empuk beberapa orang dari pihak lawan yang melongok dari mobil dan menembak secara asal-asalan.


Namun, semakin dekat mereka bergerak, menyebabkan ranjau darat yang sudah di sebar mengelilingi markas dan pelataran pun mulai aktif dan saling bersahutan meledak di saat mobil mereka melintas.


Sementara itu, seorang pria di dalam mobil spesial lainnya sontak mengepalkan tangan dengan kuat. Dia tak mengira jika anak buah Michael bahkan berani melakukan serangan pembukaan sebelum dia mencoba bernegosiasi.


"Keluarkan penghancur dan perintahkan pada yang lainnya agar menyebar," ucap John memberikan perintah.


"Baik, Tuan."


Tidak menyangka jika kedatangannya akan di sambut dengan rencana yang cukup matang, menyebabkan John pun tak sabar untuk melalukan serangan balasan.


Sebuah tabung peluncur RPG-7 menggunakan baja smoothbore single shoot telah siap digunakan oleh anak buah John dengan cara dipanggul di bahu penembak. Dibagian ujung tabung terdapat tempat amunisi yang dapat meluncurkan berbagai tipe roket.

__ADS_1


Sebuah peluncuran roket dari jarak 200m di arahkan ke bangunan markas King Master. Dengan kecepatan mencapai 300 m per detik, roket itu melesat tepat di bagian depan bangunan.


"Berlindung!" teriak Leo pada anak buah yang lainnya ketika melihat benda penghancur itu menuju ke arah mereka.


Guncangan dan ledakan dahsyat menyebabkan beberapa bangunan sontak runtuh, kerusakan yang dihasilkan pun cukup tinggi, hingga beberapa orang yang masih dalam jangkuan serangan banyak terluka. Bahkan ada yang tewas saat itu.


Formasi yang diatur Leo pun berubah, dan mulai melakukan serangan jarak dekat karena pihak lawan mulai masuk dari segala arah. Namun, karena peluncur itu jugalah Laura mengetahui posisi penembak dari pihak lawan karena senjata itu menghasilkan suara, kilatan cahaya dan asap yang mencolok.


Tanpa banyak membuang waktu sebelum roket kedua kembali meluncur. Laura membidik sasarannya dengan titik tuju tepat di tengah dahi sang penembak dari pihak John.


"Jangan harap bisa lolos dariku!" Laura menekan pelatuk Havoc di tangannya tanpa banyak berpikir. Sebuah peluru berkaliber 50 BMG dengan akurasi 0,5 arcminutes dari atap pun melesat sangat cepat dan lagi-lagi bersarang di dahi penembak roket pihak lawan.


Pria itu sontak tergeletak tak bernyawa sebelum meluncurkan kembali roket penghancur kedua ke bangunan markas King Master.


"Satu kosong," ucap Laura menyeringai.


"Mereka memiliki sniper?" John yang saat itu masih berada di dalam mobil mengedarkan pandangan ke bagian atap bangunan. Sosok wanita yang menyeringai padanya di atas menyebabkan pria itu menyipitkan mata.


"Dia ternyata juga berbahaya. James, bodohnya kau mendidik seseorang yang akhirnya hanya akan melawanmu. Dan ternyata dia tidak sebodoh dirimu," gumam John mengepalkan kedua tangan, tetapi sebuah peluru tak diminta tanpa aba-aba melesat ke arahnya dan menembus kaca mobil, mendarat tepat di samping kursi tempat duduk John.


"Anda tidak apa-apa, Tuan?" tanya beberapa anak buah yang terkejut akan serangan tak terduga dari jauh itu.


"Dia milikku! Berani-beraninya gadis kemarin sore bermain-main dengan John. Sanca, kau melahirkan seorang iblis. Sayangnya, nasib anakmu tidak akan jauh berbeda dengan kau dan suamimu," batin John geram.

__ADS_1


To Be Continue...


__ADS_2