
Sinar mentari menyusup di antara celah tirai yang tidak tertutup rapat. Rasa hangatnya menerpa kulit Laura sehingga membangunkan raga yang sejak tadi malam terlelap dalam khayalan. Rasanya ingin sekali dia melanjutkan merajut mimpi, tetapi apalah daya. Kenyataan hidup sudah menanti di depan mata.
Dua mata dengan bulu mata lentik mengerjap lamban, lalu terbuka sepenuhnya setelah sekian detik terlewat. Laura tersadar. Satu tangannya meraba-raba samping tidur, tetapi tidak mendapati apa pun kecuali bantal, sedangkan guling hidupnya menghilang entah ke mana, mungkin tangan kekar itu sudah mulai pegal menyangga kepalanya yang besar setiap malam.
Sementara itu, selimut tebal masih membalut tubuhnya sebatas perut. Namun, Laura segera menyibaknya. Dia pun duduk di atas ranjang, sambil sesekali menggosok matanya yang tak berbelek seperti pembaca.
"Apa itu?" Pandangan Laura menangkap sesuatu di atas meja kecil di hadapannya. Bukan susu dan roti seperti biasa, melainkan sebuah amplop coklat tak bernama.
Rasa penasaran yang membuncah menuntun Laura untuk mengulurkan tangannya. Akan tetapi, tiba-tiba saja suara pintu dibuka menampakkan seorang pria gagah dengan tubuh basah berkeringat, menyebabkan Laura mengurungkan niat.
"Kau sudah bangun? Apa aku terlalu lama olahraga hari ini?" kata Michael sambil melirik sebuah jam yang tersedia di sana. "Tidak. Putri tidurku yang bangun lebih awal," lanjutnya menjawab sendiri.
"Ish, dasar menyebalkan," desis Laura mencebikkan bibir.
Tanpa tahu malu Michael membuka bajunya yang basah begitu saja di depan Laura. Tetesan keringat yang mengalir di melewati kulit di antara dada yang berbulu, menambahkan kesan eksotis dan menggoda pada pria itu.
Michael dengan kepercayaan diri tinggi menyugar rambut dari pangkal hingga ujung rambut menggunakan tangan, seolah adegan slow motion tengah di saksikan Laura saat ini. Dia bahkan tak segan-segan mengibaskan rambut layaknya iklan shampo Kao Feather—hanya emak-emak jaman dulu yang tahu.
Sebuah adegan cara memikat wanita yang Michael pelajari dari artikel semalam. Benar saja, ekspresi Laura menelan salivanya sendiri dengan susah payah menyebabkan Michael yakin, jika istrinya sudah tergoda saat ini.
"Mich."
"Iya, ada apa, Sayang?" tanya Michael dengan lembut.
"Apa kau tidak lihat keringatmu menyiprat ke mana-mana? Sudah tahu baru saja selesai olahraga, kenapa bukannya segera mandi malah beraksi di sini! Dasar menyebalkan! Menyebarkan virus dan bakteri saja." Laura lantas berdiri dari posisinya mendekati Michael. "Baumu bahkan asam sekali. Aku harus meminta pelayan mensterilkan kamar ini secepatnya, sebelum jamur-jamur tumbuh subur akibat keringatmu yang tak terukur."
__ADS_1
Tanpa melihat reaksi Michael, Laura berlalu begitu saja melewatinya. Sementara itu, tentu saja Michael tercengang dengan apa yang dikatakan istrinya. "Kenapa reaksinya tidak seperti yang diceritakan? Aku harus menuntut artikel itu, mereka membohongi publik dan menuliskan tutorial palsu," kesal Michael mengibaskan baju basahnya dan pergi ke kamar mandi untuk segera membersihkan diri.
Di sisi lain, setelah keluar dari kamar, Laura bukannya mencari pelayan seperti apa yang dia katakan kepada sang suami sebelumnya. Akan tetapi, hanya menutup pintu sambil mengibaskan tangan di depan wajahnya yang kini merah merona.
"Laura, kau demam?" tanya Argon yang baru saja naik ke atas dengan apron masih melekat di tubuhnya.
"Ah, tidak, Pa. Hanya saja haru ini panas sekali," ucap Laura beralasan, tetapi tanpa sadar memanggil Argon dengan sebutan Pa. Padahal sebelumnya keduanya tak pernah berbicara lagi setelah hari itu.
Tentu saja hal tersebut menumbuhkan rasa bahagia di hati Argon, meski dia tahu Laura sedang berbohong tetapi pria paruh baya itu memilih untuk diam dan tidak ikut campur. "Ya sudah kalau begitu. Papa tunggu di bawah. Sarapannya sudah siap."
Laura hanya mengangguk, lalu kembali ke kamarnya dengan hati-hati. Kepalanya melongok ke kanan dan kiri terlebih dahulu, memastikan jika Michael sudah pergi dari sana dan tak lagi bertingkah.
Perlahan Laura melangkah ke dalam, suara gemericik air mengalir seolah mengangkat beban di dadanya. Dia menghela napas panjang sambil mengusap dada. "Syukurlah dia segera mandi. Bisa-bisa aku jantungan dan mati muda kalau Michael bertingkah seperti gigolo yang haus akan belaian wanita tua seperti tadi," gumam Laura resah seorang diri.
Laura membuka amplop tersebut, satu per satu kertas dia amati. Tanpa melewatkan sepatah kata pun yang tertulis di sana. Semakin lama, gerak tangannya semakin cepat, dia mengalihkan pandangan pada satu per satu gambar yang tertera di sana. "Apa maksudnya ini?"
"Apalagi? Bukti jika Papa tidak bersalah dan kami tidak menipumu," ucap Michael tiba-tiba di samping Laura.
"Akh, Mich. Kau gila bagaimana kalau aku mati muda?" teriak Laura terkejut. Kertas di tangannya berhamburan entah ke mana, sedangkan pelaku utamanya malah tersenyum sambil menunjukkan senyum pongah.
Lagi-lagi Michael belum kehabisan ide. Dia keluar dengan hanya mengenakan sehelai handuk yang menutup bagian pinggang ke bawah.
Aroma sabun dan shampo serta wewangian lainnya yang digunakan pria tersebut menyatu menjadi satu kesatuan yang unik. Menambahkan kesan maskulin, di tambah tubuh atletik penuh bekas luka juga bulu halus yang menyesatkan mata, membuat sang istri tak mampu berkedip walaupun untuk sesaat.
"Kau tidak akan mati sebelum kita berhasil membalas mereka dengan setimpal, Sayang," ujar Michael. Dia yang awalnya membungkuk lantas berdiri dan mengeringkan rambut terlebih dahulu, alih-alih mengenakan pakaian seperti biasa.
__ADS_1
"Mich, kau sengaja menggodaku ya?" protes Laura.
"Apa kau tergoda, Sayang? Ah, aku tahu tidak mungkin ada wanita yang mampu menahan godaan tubuh pria setampan diriku," ujar Michael bangga.
"Dasar gila! Lalu, apa yang akan kau lakukan setelah menunjukkan semua ini?"
"Apalagi? Tentu saja melakukan serangan balik," jawab Michael sambil terus menyisir rambutnya yang kini sudah kering.
"Serangan balik?" pikir Laura sejenak.
"Serangan balik, seperti ini!" Michael menggoda Laura dengan melepaskan handuk yang melilit di depan sang istri.
Sontak Laura melemparkan bantal dan meneriaki Michael sambil menutup mata dengan tangannya yang sebelah. "Mich! Dasar pria mesum yang gila!"
"Kenapa harus malu? Aku ini 'kan suamimu," ucap Michael mendekatkan diri, meletakkan bantal di pangkuan Laura kembali. "Lagi pula, sebenarnya aku sudah memakai celana."
Suara tawa menggelegar begitu keras memenuhi ruangan. Akhirnya Michael bisa tertawa lepas melihat wajah malu bercampur marah istrinya pagi ini. Sebuah serangan balik agar wanita itu jatuh hati padanya setelah tadi membuatnya malu dengan mengatakan keringatnya bau. Akhirnya, kini Michael puas akan wajah merah padam Laura.
"Kau ini benar-benar!" Saking kesalnya Laura mengambil sebuah pistol yang ada di laci nakas. Dia menodongkan senjata itu pada sang suami yang seketika mengangkat tangannya.
"Sayang, letakkan benda itu! Aku hanya bercanda. Tidak baik bermain senjata pagi-pagi, kecuali senjataku," bujuk Michael.
"Kau yang membuatku marah! Mati saja sana!" teriak Laura sebelum jari telunjuknya menarik pelatuk.
To Be Continue...
__ADS_1