Istri Tawanan Tuan Arogan

Istri Tawanan Tuan Arogan
Chapter 86


__ADS_3

Lain halnya dengan Laura, setelah menempuh perjalanan mengarungi lautan dalam, Michael, Argon, serta beberapa orang lainnya pun tiba di tempat yang mereka tuju. Di mana mereka harus menemukan Pemimpin Negara yang disekap oleh Menteri Kemiliteran New Era.


Dengan alasan membahas suatu masalah, Menteri Kemiliteran mengundang Presiden ke lokasi. Namun, akhirnya beberapa pengawal presiden ternyata sudah bersekutu dengannya, hingga dengan mulus rencana itu pun terlaksana, sedangkan yang tidak mengetahui tujuan utama pertemuan itu tewas di bunuh seketika.


Kalah dalam pemilihan umum membuat sang menteri tidak terima dengan posisinya saat ini. Di tambah kebijakan-kebijakan yang ditetap sang presiden menyebabkan pergerakan bisnis ilegalnya pun terhambat. Meskipun telah menjadi seorang menteri, nyatanya tak membuat pria itu puas begitu saja.


Dia bahkan memprovokasi beberapa pejabat lainnya karena menilai kinerja sang pemimpin tak sesuai dengan ekspektasi negara, sehingga menyeret mereka agar mendukungnya dalam rencana menggulingkan sang presiden dengan cara paksa.


Sayangnya, tawaran itu tentu saja di tolak mentah-mentah oleh seorang Argon. Meskipun posisinya di bawah menteri, tetapi kemampuannya dalam mempertahankan keamanan negara tak perlu diragukan lagi. Hal itu pula lah yang menyebabkan mereka memilih menyingkirkan Argon terlebih dahulu agar sayap kanan presiden patah.


Maka dari itulah, sang menteri bekerja sama dengan James, Bean, dan Jhon serta beberapa pejabat lainnya yang saling terikat dengan simbiosis mutualisme. Di mana dengan kematian Argon menyebabkan sang menteri diuntungkan karena tak adanya pendukung terkuat presiden dan bisa mengambil alih kendali pasukan bersenjata, polisi, dan elemen militer lainnya yang kehilangan arah sebab pemimpin mereka telah tiada.


Sementara itu, bagi James tentu saja poin utamanya adalah keuntungan balas dendam. Selain itu, dengan tidak adanya Argon akan membuat bisnisnya untuk memasuki New Era lebih mudah dengan bantuan sang menteri, dan statusnya sebagai buronan di New Era tentu akan dihapuskan sehingga dia kembali bebas keluar masuk negara tersebut tanpa perlu lagi bersembunyi seperti biasa, sedangkan Bean?


Awalnya dia enggan untuk bergabung, tetapi melihat kearoganan Argon serta kejujuran pria itu. Ditambah kegagalan keduanya menjadi besan membuatnya bergabung dengan Jhon dan James yang memang sudah bekerja sama sejak awal. Sebagai seorang yang hanya mencari keuntungan, tentu dia perlu berpindah haluan dan menjalankan rencana cadangan jika memang niat awal tidak dapat dia capai karena Argon tidak seperti yang di harapkan.


Akan tetapi, sayangnya satu per satu sekutu mereka tewas di tangan anggota Argon, meskipun Jhon yang bergerak sebagai mata-mata sudah memperingatkan, bahkan menyiapkan berbagai serangan untuk melawan Michael yang menjalankan tugas. Rencana mereka selalu saja di kacaukan oleh Michael yang diam-diam menghanyutkan dengan kelompok mafianya atau putri Argon—Laura—yang sama-sama berbahaya, menyebabkan tindakan nekat mengkudeta itu tidak dapat ditunda lagi dan berakhir dengan penyekapan presiden saat ini. Mereka memanfaatkan waktu karena mengira Argon sudah tewas dan sang menteri bisa mengambil alih pasukan.


"Kita tidak bisa menyelinapkan banyak orang ke sana. Tidak semua orang memiliki kemampuan seperti kalian," ucap sang kapten kapal setelah mereka tiba di lokasi.


"Tenang saja, hanya kami bertiga yang akan pergi," kata Argon menenangkan dan mulai menggunakan peralatan penyelaman yang disediakan.


"Semoga berhasil. Kami akan menunggu kalian di sini. Tetap kabari kami jika terjadi sesuatu." Sang kapten berpesan sebelum melepaskan Argon, Michael, dan satu orang lainnya untuk misi penyelamatan.

__ADS_1


Mereka pun bergegas memasuki jalur keluar dan menyelam secara manual untuk menuju ke daratan. Waktu mereka tidak banyak, karena kapal selam yang digunakan bisa dalam bahaya kalau sampai ketahuan oleh pusat komando militer di sana.


Ketiganya pun bergerak dengan cepat, dan segera melepaskan alat penyelam setelah sampai di permukaan. "Semoga Tuhan memberkati apa yang kita lakukan," kata Argon memberikan semangat pada putra dan satu anak buahnya sebelumnya mereka bergerak.


Ketiganya pun mengangguk dengan yakin. Mereka lantas diam-diam mengendap menuju pusat di mana kemungkinan sang presiden di sekap karena memang hanya terdapat satu pusat komando di sana.


Berbeda dengan sang Menteri Kemiliteran yang bekerja sama dengan mafia untuk kepentingan pribadi dan merugikan negara. Meskipun Argon juga memiliki kelompok mafia sendiri, tetapi dia menggunakan semua itu untuk kepentingan rakyat dan membantu pemerintah menangkap para penjahat berdasi tak terdeteksi, dengan cara mereka sendiri.


Hasil kegiatan ilegal yang dilakuan Argon tak hanya digunakan untuk menumpuk kekayaan, melainkan membagikannya pada daerah-daerah terpencil minim bantuan dan tak tersentuh pemerintah sebab bantuan tak habis di jalan dan tak pernah tersalurkan pada mereka.


Hari yang masih cukup gelap dan suasana sepi menyebabkan mereka mudah untuk melewati jalur-jalur terbuka. Ketiganya bergerak dengan sangat hati-hati. Sesekali senapan di tangan mereka mengarah ke arah lain untuk berjaga-jaga, tetapi masih berusaha untuk tidak menggunakannya karena bisa memicu kebisingan.


Sesekali mereka bersembunyi di saat orang-orang yang berpatroli lewat. Tak hanya mendebarkan, misi tersebut juga cukup mengancam nyawa mereka, tetapi lebih ke stabilitas negara kalau sampai sang menteri berhasil menjalankan rencananya.


"Kau baik-baik saja?" tanya Argon pada pria yang napasnya sudah tinggal seuntai benang sambil memegang luka di dadanya.


"Presiden ... dia ... berada di ruangan paling ujung," tunjuknya pada sebuah jalur. "Kalian harus menyelamatkannya. Sekarang aku bisa mati dengan tenang," ucap pria itu menggenggam erat tangan Argon, sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhirnya.


Banyaknya luka dan pendarahan tak ada henti menyebabkan pria itu pun tewas. Argon tak memiliki banyak waktu jika ingin membawanya pergi sekali, dia terpaksa hanya membiarkan mayat tersebut tergeletak di sana dan segera bergerak menuju tempat yang dimaksudkan.


"Ayo cepat!" Ketiganya pun bergegas menuju tempat yang dimaksudkan. Bukan hal yang mudah karena ternyata ruangan itu juga di kunci. Dengan terpaksa, Argon merusak gagang pintu tersebut agar terbuka. Memang apa yang dia lakukan berhasil, tetapi menyebabkan suara bisingnya memancing musuh mengetahui keberadaan mereka saat ini.


"Cepat, Pa! Aku akan melindungi kalian dari sini!" kata Michael meyakinkan.

__ADS_1


Argon pun segera masuk, sedangkan Michael dan satu orang lainnya berjaga di luar untuk pengamanan. Tak lama kemudian, dari sisi lain lorong beberapa pria berseragam militer berlari ke arah mereka. Namun, dengan cepat Michael menembakkan senapannya.


Tak butuh waktu lama, Argon berhasil membawa sang pemimpin negara bersamanya. Namun, kondisi fisik yang lemah menyebabkan pria itu harus di papah. Alhasil Argon pun keluar sambil memapah bersama satu anak buah lainnya, sedangkan satu tangan yang masih memegang senjata sesekali mengarah ke depan di mana musuh menghadang.


Argon yang menyerang orang-orang di depan, sedangkan Michael menghabisi mereka dari belakang, membuat mereka dengan mudah bergerak keluar dari tempat itu.


Namun, misi penyelamatan itu tentu saja terdengar sampai telinga Menteri Kemiliteran di mana Argon berhasil membebaskan Presiden. Hal tersebut sontak membuat mereka diburu, para personil militer mulai bergerak mengikuti arah perginya sang tawanan.


"Kejar mereka! Jangan sampai lepas! Bila perlu bunuh mereka semua sekali!" perintah Menteri pada anak buahnya.


Aksi kejar-kejaran pun tak terelakkan, padahal posisi mereka sudah hampir tiba di tepian laut. Michael terus memberikan serangan, dan bergerak mundur sambil menembak apa yang ada di depannya.


Tanpa sengaja Michael terkena satu tembakan menyebabkan Argon menghentikan langkahnya. "Michael."


"Cepat pergi!" Tak ingin misi mereka gagal, Michael menyuruh Argon agar cepat bergerak. Bagian atas kapal selam sudah muncul ke permukaan, dan menunjukkan posisinya membuat ketika orang segera bergerak ke sana, sedangkan Michael masih menjadi tameng untuk melindungi mereka.


"Michael. Ayo cepat!"


"Papa, harus selamat. Sampaikan salamku pada Laura! Katakan padanya, aku sangat mencintainya." Banyaknya pemburu yang mengejar mereka menyebabkan Michael tidak bisa berhenti untuk menembak, sedangkan jika dia lengah sedikit saja maka misi mereka yang tinggal di depan mata akan gagal.


Kondisi itu bahkan tidak mengizinkan Argon untuk berpikir karena desingan peluru yang ditujukan ke Presiden semakin banyak. Dengan terpaksa ketiga orang meninggal Michael untuk menyelam ke dalam air demi nyawa sang presiden karena beliau juga sudah terluka karena luka tembak.


Sementara itu, Michael terus menembak ke depan. Luka di tubuh yang menyakitkan tak memiliki waktu untuknya merintih. Dia harus memastikan jika ayahnya selamat terlebih dahulu karena pihak musuh sudah mulai mengeluarkan torpedo darat yang nantinya bisa menghancurkan kapal selam yang mereka gunakan untuk melarikan diri.

__ADS_1


To Be Continue...


__ADS_2