
Kepergian John untuk merebut anak buah King Master menyebabkan kegundahan dalam diri Lady. Entah mengapa perasaan buruk merasuk seiring waktu yang berlalu semenjak kekasih hatinya pergi meninggalkan tempatnya menuju markas mereka.
Di dalam kamar, perempuan berambut ikal karena belum sempat ke salon itu, terus mondar mandir tanpa arah layaknya setrika listrik yang tengah bekerja merapikan kain kusut dari jemuran.
Sesekali dia berhenti, lalu mendekati jendela dan menyibak tirai agar cahaya masuk. Dia berharap mobil yang dikemudikan John segera kembali memasuki pelataran, padahal jelas-jelas pria itu baru beberapa jam menghilang.
Langkah Lady pun bergerak ke samping beberapa kali, lantas ke sana ke mari sambil sesekali duduk di atas ranjang. Berulang kali dia melihat jam di dinding, waktu yang berlalu menunjukkan sudah lebih dari setengah hari, tetapi kabar tentang John belum juga sampai padanya. Akankah semua berjalan sesuai rencana?
Tampak beberapa kali Lady menggigit kukunya karena rasa stress yang melanda. Namun, semua yang dilakukan Lady belum juga membuat hatinya damai. Meskipun dia sudah berusaha menyibukkan diri dengan hal lain. Tetap saja hanya John yang dia pikirkan.
Detak jantung Lady bergerak lebih cepat daripada denting jam di dinding. Sebutir nasi, atau seteguk air seolah menolak masuk ke tenggorokan sebelum kabar baik tiba. Tidak biasanya John seperti ini ketika melakukan misi, menyebabkan rasa khawatirnya semakin menyiksa saja.
Suara ketukan di pintu membuyarkan lamunan Lady kala itu. "Masuk."
Pintu terbuka, wajah seorang pelayan wanita memenuhi retina mata Lady. Pelayan itu bergejalan masuk sambil menunduk, tak berani menatap majikannya. "Nyonya, ada paket untuk Anda," ucap sang pelayan.
Kemudian, Lady menurunkan pandangan pada tangan pelayan yang membawa kotak hitam ukuran cukup besar. "Paket?" Sejenak Lady mengerutkan dahi. "Siapa pengirimnya?"
__ADS_1
"Tidak ada namanya, Nyonya," jawab pelayan itu hati-hati.
Lady hanya mengangguk kecil, biasanya paket tanpa nama dikirimkan oleh John ketika pria itu bertugas di luar negeri. Tidak adanya nama pengirim hanya agar para penghuni lainnya tidak menaruh curiga, terutama Nenek Eli. "Taruh saja di sana!" tunjuknya pada sebuah meja.
Pelayan itu pun mengangguk patuh, dia lantas meletakkan benda yang cukup berat tersebut ke atas meja. Lalu bergegas permisi mengundurkan diri sebelum lagi-lagi mendapatkan amukan wanita di hadapannya, sedangkan Lady kembali di dalam kamar seorang diri bersama dengan kotak hitam entah siapa pengirimnya.
"Paket," gumam Lady mencoba mengingat apa yang dia pesan. Tidak mungkin bukan John mengirim hadiah di saat seperti ini?
Perlahan Lady beranjak dari posisinya, tangan wanita itu terulur menarik pita yang mengikat kotak hitam tersebut dengan pelan. Rasa ragu, penasaran, sekaligus takut tiba-tiba saja menghampirinya. Bagaimana kalau ternyata kotak itu berisikan bom?
Sejenak Lady mengurungkan niat untuk membuka kotak itu karena ponsel miliknya di atas nakas tiba-tiba saja berdering. Dengan perasaan lega Lady mengangkat benda pipih itu dan meletakkan di dekat telinganya.
"Kau sudah mendapatkan beritanya?" Suara bariton seorang pria di seberang panggilan membuat Lady mencebik malas.
"Belum." Karena bukan panggilan yang dia inginkan, Lady pun kembali melangkah ke kotak hitam tadi. "Apa dia sudah memberimu kabar?"
Tidak ada jawaban dari pria itu, Lady sudah menduga jika Bean hanya menghubungi untuk sebuah informasi. Jika bukan karena John, dia sendiri bahkan malas berurusan dengan pria licik seperti Bean.
__ADS_1
Tangan Lady lagi-lagi terulur membuka tutup kotak itu. Akan tetapi, dia sontak berteriak, hingga telepon di genggaman pun jatuh secara spontan. "Akh!" Dia terduduk di lantai dengan tubuh bergetar.
Kotak itu pun ikut jatuh ke lantai karenanya, sebuah kepala manusia tanpa tubuh, menggelinding dengan kedua kelopak mata tertutup tepat di depan Lady. Deru napas wanita tersebut langsung tak beraturan, kedua matanya membelalak lebar menyebabkan tubuhnya terasa tersengat listrik ratusan volt seketika. Apa yang terjadi? Dia sedang menunggu kabar bukannya hadiah mengerikan.
"Lady, Lady, Lady." Suara panggilan di ponsel yang belum di matikan sontak membuat tangan Lady bergetar segera bergerak meraih benda itu.
"Hallo," ucap Lady dengan suara bergetar.
"Apa yang terjadi?"
"Me—mereka. Mereka mengirim kepala John padaku. Katakan ini tidak benar! Dia tidak mungkin kalah 'kan!" kata Lady mencoba menyanggah kenyataan yang kini di depan matanya.
"Apa maksudmu? Katakan yang jelas!" Suara Lady yang bergetar menyebabkan kalimatnya terdengar tidak begitu jelas di telinga Bean.
Lady tak dapat lagi membendung rasa sakit sekaligus ngeri karena kehilangan kekasih hati. Buliran hangat sontak lolos begitu saja memenuhi retina matanya yang pedih. "Bean, John sudah tewas. Mereka hanya mengirimkan—" Dia terisak, dengan rasa sesak yang luar biasa hebat.
Kasih yang terjalin selama ini menyebabkan perasaan keduanya tumbuh terlalu dalam. Lady tak mampu melanjutkan kalimatnya. Kesedihan membuatnya seketika pingsan di tempat saat itu juga, tanpa memedulikan panggilan telepon di seberang.
__ADS_1
To Be Continue...
Mau ngetik tapi rasanya mata kelet sekali akibat sakit gigi. Sedikit curhat teman-teman.