Istri Tawanan Tuan Arogan

Istri Tawanan Tuan Arogan
Chapter 67: Hubungan Tersembunyi


__ADS_3

Di kamar sebuah hotel berbintang, seorang wanita terengah-engah dan merasa lelah setelah tubuhnya di babat habis oleh pria yang kini menindihnya. Keduanya saling berpeluh ria di bawah remang cahaya ruangan. Buliran keringat, serta hawa panas yang tercipta seolah menjadi saksi aksi pergumulan panas mereka.


Deru napas tak beraturan setelah hasrat terpendam lama kini terpuaskan, terdengar cukup jelas dari keduanya. Seorang pria menggulingkan tubuh, hingga kini posisinya berada di samping sang wanita.


Sambil memejamkan mata, pria tersebut merentangkan kedua tangan. Sensasi melayang karena menumpahkan segala hasrat menyebabkan tenaganya seolah terkuras habis saat itu juga. Andai usianya masih muda, mungkin dia akan bermain lebih lama lagi. Tidak seperti sekarang, di mana dia harus terkalahkan dengan sakit pinggang.


Sang wanita di samping pun beralih posisi menjadi miring. Walau tanpa sehelai benang pun, dia tetap memiliki kepercayaan diri yang tinggi dan tidak merasa malu berhadapan dengan pria itu. Bahkan jemarinya dengan nakal memainkan bulu halus di dada pria tersebut tanpa ragu.


"Daddy, sampai kapan aku harus mendekati keluarga Wilson? Rasanya melelahkan sekali selalu diabaikan seperti ini. Aku bahkan tidak pernah melihat Michael sama sekali, sekalinya lihat, pria itu sangat dingin. Aku bahkan gagal menjebaknya dan malah terjerat dengan adiknya."


Pria itu lantas mengulurkan tangannya, meletakkan kepala sang wanita di lengan dan membawa kembali ke dalam dekapan. "Tenanglah, Sayang! Bersabarlah sebentar lagi. Rencana kita berubah. Setelah semuanya selesai, kau tidak perlu untuk berpura-pura pada keluarga itu. Mereka sudah menolak kita sejak awal, maka tidak akan kubiarkan keluarga Wilson selamanya di atas awan," ucapnya sambil mengecup sejenak dahi sang wanita agar tak terlalu merisaukan permasalahan yang ada.


"Hanya wanita serakah itu yang selalu di pihakku. Bahkan nenek tua bau tanah itu, sekarang mulai meremehkan aku setelah kejadian hari itu. Kenapa dia tidak segera mati saja?" rutuk wanita yang tak lain adalah Nathalie.


Semenjak kejadian antara dirinya dan Nathan, dukungan dari pihak Nenek Elizabeth pun menghilang. Hanya menyisakan Lady seorang diri karena pada dasarnya dia memang komplotan mereka. Saat itu Argon memaksa putranya–Nathan–untuk bertanggungjawab. Namun, baik Nathalie maupun Lady menolak perintah itu dan menganggap semuanya hanyalah sebuah kesalahan dan kekhilafan anak muda yang patut di maklumi.


Dari sanalah Nathalie kehilangan kepercayaan atas Nenek Elizabeth. Perempuan tua yang menjunjung tinggi harkat dan martabatnya, apalagi melihat sendiri apa yang terjadi hari itu. Tentu dia tidak akan membiarkan Nathalie menginginkan Michael. Namun, tidak dengan Lady yang tetap mendukung Nathalie.


"Sabarlah, Sayang. Tidak lama lagi semuanya akan berakhir. Dan kita tidak perlu merisaukan kehadiran mereka lagi. Lagi pula, posisi Daddy sudah cukup kuat saat ini."

__ADS_1


Daddy yang dipanggil oleh Nathalie tak lain merupakan ayah sambungnya—Bean—. Pria yang belum lama menikah dengan sang ibu. Sebelumnya, Nathalie hanyalah seorang sugar baby dari seorang pria tua berstatus duda yang usianya bahkan dua kali lipat dari dirinya.


Hanya saja, pria tersebut selalu menuruti keinginannya, sehingga Nathalie pun merasa nyaman. Namun, karena tidak mungkin bagi Bean menikahi gadis dengan usia yang terpaut cukup jauh karena bisa mencoreng nama naiknya yang terkenal setia dengan sang mendiang istri. Dia akhirnya memutuskan untuk menikahi Ibu dari Nathalie. Hanya dengan cara itulah kini keduanya bisa bebas bertemu sesuka hati tanpa harus memikirkan pendapat orang lain. Karena bagi orang yang melihat kedekatan keduanya, kini hanya beranggapan jika itu merupakan suatu hal yang wajar antara ayah dan anak.


Padahal faktanha Nathalie sendiri tak berniat untuk benar-benar mencintai Bean. Tentu saja dia hanya menyukai uangnya, apalagi pria tersebut merupakan orang yang cukup royal. Dia juga bisa malu kalau sampai teman-temannya tahu, seorang Nathalie merupakan simpanan pria tua. Bahkan sang ibu juga tidak menyadari jika sudah dimanfaatkan oleh putrinya sendiri.


Karena itulah, Nathalie langsung menyetujui di saat Bean berusaha menjodohkannya dengan Michael. Sosok pria tampan idaman wanita yang pastinya berkantong tebal dan pantas dipamerkan ke undangan, dengan bibit, bobot, bebet, dan babat yang sangat memuaskan. Namun, lagi-lagi semua harapan sirna sudah di saat pria itu memilih wanita lainnya yang tak selevel dengannya.


Berulang kali, Nathalie mencari cara untuk memusnahkan wanita itu. Namun, orang sewaannya bahkan mundur sebelum melakukan tugas.


Dering ponsel di atas meja kecil membangunkan Bean dari tidur ayam malam itu. Dia menarik tangan yang menjadi bantal Nathalie dan meraih benda pipih di atas nakas dengan malas.


"Daddy, akan pergi?" tanya Nathalie ikut terbangun.


"Ada hal lain yang harus Daddy kerjakan," ucapnya sambil mengenakan pakaian bersih yang sudah dia bawa sebelumnya. "Gunakan untuk bersenang-senang! Jangan terlalu memikirkan keluarga Wilson lagi! Biar Daddy yang mengurusnya. Kau cukup dapatkan informasi sebanyak mungkin dari Lady karena kita masih membutuhkannya."


Bunyi notifikasi sejumlah uang dalam jumlah yang cukup banyak masuk ke rekeningnya, membuat senyum di wajah Nathalie sontak riang gembira. Wanita mana yang tak menyukai uang. Dengan uang, segala hal di dunia akan menjadi lebih mudah tentunya. "Baiklah, Dad. Serahkan semuanya padaku!"


Tanpa malu, seolah keduanya adalah pasangan suami istri yang sah, Bean dan Nathalie saling berpangutan, sebelum akhirnya pria tersebut pergi meninggalkan ruangan itu. Sementara itu, Nathalie yang ditinggalkan seorang diri sontak menghubungi teman-teman untuk berpesta ria, dengan uang yang baru saja Bean berikan tentunya.

__ADS_1


Di sisi lain, seorang pria dan wanita yang tengah terlelap di bawah selimut tebal juga terbangun akibat dering telepon yang berbunyi. Michael mendapatkan kabar dari sang ayah jika dia harus segera kembali.


"Baiklah, Pa. Aku akan pulang," kata Michael sebelum akhirnya mematikan sambungan telepon.


"Apa terjadi sesuatu, Mich?" tanya Laura.


Michael sontak mengangguk, dia masih sangat mengantuk, tetapi sepertinya waktu tidurnya harus kembali berkurang. "Maaf, Sayang. Kita harus pulang sekarang. Lain kali, kita akan berbulan madu lebih lama sesuai dengan keinginanmu."


"Bukan masalah. Kalau begitu aku akan bersiap-siap."


Keduanya pun lantas membersihkan diri. Waktu menunjukkan pukul dua dini hari, tetapi mereka harus menempuh perjalanan jauh untuk kembali ke Negara New Era. Entah hal darurat apalagi yang terjadi saat ini, padahal Argon baru kembali satu hari dan tampaknya masalah besar benar-benar menghampiri mereka saat ini.


"Mich," panggil Laura di saat keduanya mulai bergerak kembali.


"Iya, Sayang."


"Apa kali ini kau akan pergi lagi?" tanya Laura spontan, dia mengingat kembali saat terakhir sang suami harus pergi sebelumnya. Entah kapan dia akan kembali, tetapi tubuhnya pasti terluka. Akankah hari ini sama?


"Entahlah. Aku akan melihat situasinya dulu. Bisa jadi Papa sendiri yang pergi, tapi bisa juga aku ikut bersamanya," jawab Michael seolah memahami apa yang dikhawatirkan sang istri.

__ADS_1


To Be Continue....


__ADS_2