
Berita tentang Argon dan Laura yang masih hidup menyebabkan pihak James Whale mulai berunding untuk mengatasi masalah itu. Mereka berkumpul di sebuah ruangan, di kediaman James Whale.
Zack masih menempati posisinya sebagai orang kepercayaan James, setelah dia ditemukan di balik batu berkubur daun kering, tak jauh dari Daerah Betharia. Sementara itu, Catherine entah menghilang ke mana. Lagi pula James Whale tak terlalu membutuhkan anjing betina, tidak masalah jika wanita tersebut tiba-tiba menghilang.
Sambil menghirup aroma kopi panas di cangkir, James menikmati perbincangan anak buahnya dengan tenang. Namun, sedetik setelahnya dia mengangkat tangan sebagai tanda agar semuanya diam. Dia samar-samar mendengar desingan sesuatu bergerak cepat, semakin dekat, lebih dekat.
"Berlindung!" teriak James, di saat hanya dalam beberapa meter saja, sebuah roket bazooka melaju lurus ke arah mereka, meluncur menghantam bangunan tanpa aba-aba.
Roket yang diluncurkan bazooka ini berbahan bakar padat untuk meluncurkan hulu ledak yang ditujukan untuk menghancurkan kendaraan tempur lapis baja, rumah senapan mesin, dan bunker yang tidak bisa dijangkau granat atau ranjau.
Dengan fungsi sebesar itu, tentu saja benda tersebut langsung meledak hebat tepat di ruang pertemuan yang terbuka, hingga menyebabkan beberapa orang di sana terluka, terpental, dan beberapa yang tak sempat menghindar pun meninggal. Bangunan yang mereka tempati pun rusak total. Jika tak ada pilar-pilar kokoh penyangga bangunan, mungkin kediaman itu sudah rata hanya dalam sekali serangan.
"Ayah." Zack yang sempat menghindar dan tak sampai terkena puing-puing bangunan, lantas mengibaskan tangan, guna menghapus asap tebal yang menghalangi pandangan. Sambil terbatuk karena debu beterbangan Zack mencari sosok sang ayah.
"Ayah, Ayah. Sadarlah!" Zack segera berlari mendekat, mendapati James tergeletak pingsan di lantai. "Ayah."
James yang tersadar langsung menghirup udara panjang. Serangan tak terduga membuat pria tersebut syok sekaligus sedikit terluka. "Ayah, kau harus sembunyi!"
Secara bersusah payah, Zack mencoba membawa James melangkah ke ruangan lain yang memang dikhususkan sebagai tempat persembunyian. "Ayah, tunggu di sini! Aku akan menghubungimu jika situasi sudah aman."
"Berhati-hatilah!" James menerima sebuah telepon genggam yang diberikan Zack, dan langsung terduduk di lantai ruangan sempit itu dengan perasaan was-was, karena cukup pengap dan hanya berbahan beton seolah dinding dari luar dan bukan tempat persembunyian. "Beraninya mereka menyerang diam-diam."
Zack dan sebagian anak buahnya yang masih selamat mulai bergerak dengan langkah hati-hati. Masing-masing dari mereka membawa sebuah senjata api di tangannya. Setiap mata saling menyusuri sudut-sudut kediaman dengan langkah bayangan. Tidak ada tanda-tanda serbuan orang di sana. Jadi siapa yang tiba-tiba menyerang mereka?
__ADS_1
Sekilas Zack melihat sebuah bayangan di balik pilar besar. Dia memberikan isyarat pada anak buahnya untuk melemparkan granat ke posisi itu. Suara ledakan terdengar begitu keras, dengan hati-hati mereka pun bergerak mengepung pilar itu. Namun, ternyata tidak ada seorang pun di sana alias zonk.
"Apa kalian mencariku?" Suara seorang wanita sontak menyebabkan mereka menoleh dengan segera. Belum sempat orang-orang itu menekan pelatuknya, Laura di lantai dua, dengan senapan di kedua tangannya pun langsung menyerbu seolah sedang bermain game tiga dimensi.
Puluhan peluru melesat begitu saja tanpa permisi, bersarang di satu per satu anak buah Zack yang langsung tewas di tempat. Beberapa yang meleset meninggalkan lubang di dinding cukup jelas.
Peluru kedua senjata di tangan Laura habis, Zack memanfaatkan waktu itu untuk menyerang balik, tetapi tidak ada siapa pun lagi di sana.
Zack seketika memilih kembali bersembunyi. Ternyata yang mendatangi mereka adalah Laura. Akan tetapi, mustahil wanita itu datang seorang diri, nyalinya terlalu besar. Meskipun ini adalah tempat yang sangat dikenalnya, tetapi di sini jugalah tempat paling berbahaya.
"Kenapa bersembunyi, Zack? Bukankah kau merindukanku?" Suara Laura kembali menggelegar memenuhi ruangan, tetapi sosoknya entah berada di mana.
"Laura, jangan main-main!" teriak Zack mengamati setiap sudut ruang dan ternyata masih ada dua anak buahnya yang hidup. "Lindungi aku!"
Namun, setelah Zack berhasil masuk dan pintu ruangannya tertutup, suara tembakan kembali terdengar di luar. Bisa dipastikan Laura yang memang sejak awal lihai menyelinap berhasil menjatuhkan kedua anak buah Zack yang tersisa. "Sial!" umpat Zack.
Tak lama kemudian, puluhan peluru mulai menembus pintu kayu ruangan itu, sedangkan Zack sudah bersembunyi di balik dinding. sedikit banyak setelah melalui banyak pertempuran, tentu saja naluri bertahan hidup membuatnya memiliki sedikit pengalaman.
Laura menendang dengan keras ruangan tersebut dan melangkah masuk, tetapi dari belakang Zack seketika mengalungkan sebuah tali guna mencekiknya.
Tembakan tak beraturan lagi-lagi terdengar memenuhi ruangan, menghancurkan setiap benda yang ada di dalamnya hanya dalam hitungan detik. Laura melepaskan benda yang kini sudah habis peluru itu di saat menatap sebuah cermin dan memegang bahu Zack yang mencengkeram dari belakang. Dia lantas membanting tubuh Zack ke depan dan tali yang mencekiknya pun longgar.
"Kau berniat membunuhku berapa kali?" tanya Laura dengan sorot tajam membara. Bayangan di mana Zack berusaha membunuhnya tergambar jelas dalam benak wanita itu. Pengkhianatan adalah sesuatu yang tak pantas untuk di maafkan.
__ADS_1
"Dasar wanita tidak tahu diuntung! Apa kau tidak tahu? Jika bukan karenamu, aku tidak akan kehilangan Catherine." Zack mencoba memprovokasi Laura terlebih dahulu dengan menyebutkan nama Catherine. Dia cukup tahu hubungan keduanya begitu dekat bagaikan kertas lem lalat, susah untuk di lepaskan.
Benar saja, dahi Laura berkerut beberapa lapis di kala Zack membahas Catherine. Apa wanita itu tidak tahu ketika Zack berusaha membunuh Laura, rahasia apalagi yang tidak Laura ketahui. Entahlah, tetapi tidak ada maaf lagi untuk mereka.
Zack segera memanfaatkan kebimbangan wanita di depannya. Perkelahian dengan tangan kosong pun tak lagi terelakkan. Laura yang lengah berhasil di tindih Zack dan pria itu berusaha meninjunya cukup keras. Namun, Laura yang tak mau kalah berhasil menahan kepalan tangan Zack dan memuntirnya dengan kuat.
"Mati saja kau!"
Tenaga laki-laki dan perempuan tentu saja berbeda. Apalagi Zack merupakan salah satu orang yang mengajarkan Laura tentang sebuah pertarungan. Tentu saja dia lebih memahami bagaimana karakter serangan Laura dan di mana titik kelemahannya.
"Apa kau lupa siapa yang mengajarkan dirimu semua itu, hah? Beraninya kau menyerang kami sendirian. Apa kau sedang mengantarkan nyawa?" Zack menendang Laura hingga tersungkur di lantai cukup keras. "Seharusnya kau tetap bersembunyi dan jangan lagi menampakkan batang hidungmu lagi selagi kami berbaik hati. Dasar wanita, merepotkan!"
Dengan cukup kuat kaki Zack kembali menendang tubuh Laura, seolah wanita itu hanyalah sebuah bola baginya. "Sepertinya bersama Michael membuatmu semakin bodoh! Kau tidak mungkin bisa melawanku karena aku yang mengajarkan mu bagaimana caranya bertarung!" Tak cukup sekali Zack menjadikan tubuh Laura sebagai samsak tendangannya.
Tubuh yang baru saja pulih tentu saja kembali terluka, tetapi bukan Laura namanya jika tidak bisa memanfaatkan kesempatan. Ketika Zack menundukkan tubuhnya, sontak Laura langsung mengeluarkan sebuah belati lipat dan menancapkan tepat di mata kiri Zack.
Namun, tak cukup di sana karena Laura lagi-lagi mengoyak seluruh wajah pria yang mengaduh kesakitan itu tanpa ampun dan berakhir dengan sebuah garis vertikal di leher Zack.
Jeritan kesakitan di akhir hayat Zack akhirnya menghilang dengan tumbangnya pria tersebut dengan bersimbah darah dan wajah tak berbentuk.
Laura berdiri dari posisinya dengan napas terengah-engah sambil mengusap darah yang menyiprat ke wajahnya seolah tengah mencuci wajah. "Sepertinya kau juga lupa, jika julukan Orca yang kau berikan dikarenakan aku mampu melampauimu."
Tanpa perasaan, Laura melangkah keluar dengan menjadikan kepala Zack sebagai pijakan kaki, setelah berhasil berpesta peluru seorang diri sebelum suaminya tiba di lokasi. Jangan sebut dia Laura Orca jika menurut ketika diminta berdiam diri di rumah sambil menunggu kabar. Padahal pesta seperti ini sangatlah menyenangkan baginya.
__ADS_1
To Be Continue...