Istri Tawanan Tuan Arogan

Istri Tawanan Tuan Arogan
Chapter 45: Apa Kau Bodoh?


__ADS_3

Berbeda halnya dengan Michael yang mencari dengan sembunyi-sembunyi dan perencaan yang matang. Zack serta anak buahnya terus begerak terang-terangan. Bahkan tak jarang mereka mengacuakan sebuah daerah dan mengobrak-abriknya seperti sekelompok perampok.


Cathrine yang menyaksikan semua itu cukup terkejut karena memang sebelumnya dia tak pernah bertindak secara terang-terangan seperti ini.


"Tuan,'' seorang anak buah segera lari dengan terbirik-birit menuju Zack dan Cathrine. Wajahnya tampak begitu pucat pasi mengingat apa yang baru saja dia temukan.


"Ada apa?'' tanya Zack dingin.


"Salah satu anak buah kita yang menghilang beberapa hari yang lalu, di temukan tewas tak jauh dari sini.'' lapor anak buah tersebut dengan napas yang terengah-engah.


Sebuah senyum miring tersungging dari bibir Zack. "Laura, akhirnya aku menemukanmu," batinnya. "Kita ke sana."


Berbeda halnya dengan Zack, Cathrine malah tenggelam sendiri dalam lamunannya setelah mendengar laporan itu. "Tidak mungkin 'kan itu Laura. Jika memang benar itu dia, kenapa anak buah kami bukannya membawanya pulang, tetapi malah tewas. Atau jangan-jangan Laura bertemu dengan orang kanibal di sekitar sini," gumamnya seorang diri bergindik ngeri.


Membayangkan hal tersebut, Cathrine pun segera berlari mengejar kakaknya. Medan pencarian yang terjal dan cukup sulit menyebabkan mereka melakukan pencarian dengan menggunakan motor trail. Hal ini dilakukan karena banyaknya tempat yang harus mereka datangi dan tidak mungkin mencari dengan berjalan kaki. Namanya juga orang kaya.


Cukup lama mereka bergerak, hingga tak lama kemudian, sosok mayat yang dimaksudkan benar-benar ada dan masih utuh menggantung di sebuah pohong rindang dengan posisi tak mengenakan sehelai benang pun. Dia sangat mirip dengan ayam ingkung yang siap dipanggang kapan saja dengan bumbu kecap di atasnya. Namun, sayangnya tak cukup menggugah selera karena penampilannya.


"Apa yang terjadi padanya?'' tanya Cathrine. Dia seketika menutup matanya di kala tak menyaksikan tubuh mayat yang bergelantung tersebut ternyata tak lagi memiliki kelamin. Artinya, anak buah mereka dibunuh dengan sangat sadis saat menjalankan tugas.


Pelaku bukan hanya membunuh anak buah mereka dengan sangat kejam, tetapi juga memotong alat vital kebanggaan seorang pria. Seolah mereka benar-benar tak berharga.

__ADS_1


Beberapa anak buah yang menyaksikan hal tersebut sontak mengamankan kejantanan mereka dengan tangan. Sungguh malang nasib teman mereka, setelah beberapa waktu menghilang kini harus ditemukan dengan kondisi mengenaskan seperti itu. Bahkan lebih kejam dari pembunuhan mafia yang paling hanya di tembak atau mengalami luka senjata tajam.


"Siapa yang berani melakukan ini?'' geram Zack.


"Yang pasti bukan Laura, Kak. Dia tidak mungkin sanggup memegang sotong hanya untuk memotongnya. Pasti ada orang lain yang melakukannya," ucap Cathrine mencoba mengeluarkan pemikirannya.


Tentu saja bukan Laura. Bagaimana bisa seorang gadis yang tidak pernah berpacaran bisa sekejam itu. "Kakak, tidak akan terjadi sesuatu dengan Laura di sini 'kan? Kita harus cepat mencarinya, bagaimana kalau dia sampai mengalami hal yang sama dengan anak buah kita itu."


"Kau ini bisa diam tidak! Dasar cerewet! Apa kau tidak melihat aku sedang berpikir?" bentak Zack apada sang adik. "Inilah salah satu alasanku tidak mau membawamu sekali. Dasar wanita, hanya bisa menyusahkan saja," kesal Zack meluapkan segala amarahnya.


Bukan hanya tak kunjung menemukan Laura dan mengalami ancaman yang tegas dari sang ayah. Kini dia harus memikirkan hal apa yang mungkin terjadi dengan anak buahnya tersebut.


Mereka lantas bekerja sama menurunkan mayat itu. Tubuhnya membiru penuh dengan sayatan. Nyatanya tak hanya kejantanan yang di potong, melainkan lidahnya juga. Terlalu kejam memang.


Cukup lama Zack berpikir, hingga tak lama setelahnya seorang anak buah memberanikan diri untuk berbicara. "Tuan, tak jauh dari sini adalah Daerah Terlarang. Mungkinkah dia ditangkap oleh para wanita di sana?"


"Daerah Terlarang?" Zack mengernyit, selama ini memang di gunung Chameleon hanya daerah tersebut yang tak terjamah oleh kaumnya. Namun, jika benar seperti itu, bukankah besar juga kemungkinan Laura bersembunyi di sana. "Tunjukkan arah ke daerah itu."


"Tapi, Tuan—" Belum sempat sang anak buah memberikan penolakan, Zack sudah terlebih dulu berbalik dan membentaknya.


"Tapi apa? Jangan bilang kalian takut mengalami nasib yang sama dengannya!" tunjuk Zack pada mayat yang tergeletak di tanah.

__ADS_1


Takut? Tentu saja takut. Namun, apakah mereka berani mengungkapkan ketakutannya secara langsung pada singa yang tengah mengamuk itu. Tentu saja tidak. Bisa-bisa kematian mereka lebih cepat jika salah bicara.


"Tidak, Tuan. Hanya saja." Pria itu mencoba memutar otak untuk mencari alasan. "Menurut kabar yang beredar, belum pernah ada pria yang berhasil keluar dengan selamat dari daerah tersebut. Semuanya keluar hanya dengan membawa nama dan nisan saja."


"Kau pikir aku takut?" Dengan kuat Zack mencekik leher pria yang terus saja beralasan sejak tadi. "Itu hanya kabar burung yang belum pasti. Kau pikir kita ini siapa hingga harus takut pada para wanita tua itu, hah?" Secara kasar Zack mengempaskan cengkeramannya dan sang anak buah pun terbatuk beberapa kali.


"Pokoknya aku tidak mau tahu. Bagaimana pun caranya, kita harus masuk ke daerah itu dan menemukan Laura. Bila perlu ratakan desa kecil itu dengan api dan pastikan membawa mayat Laura kembali."


Kalimat yang dilontarkan Zack sontak mengejutkan Cathrine. Wanita tersebut lantas memutar bahu Zack yang membelakanginya dengan kasar. "Apa maksudmu, Kak?"


Zack tertawa sejenak, untuk sesaat dia lupa jika pencarian kali ini dia membawa adik tercintanya. "Apa kau juga bodoh? Tidakkah kau tahu kenapa aku harus susah payah mencari Laura seperti ini?" Zack berang, wajahnya berubah menjadi merah padam dengan urat leher yang hampir keluar dari tempatnya.


"Sadarlah! Ayah sudah tak lagi membutuhkannya dan dia menugaskanku untuk membunuh Laura atau aku yang akan mati di tangan Ayah." Tak ingin berdebat lebih jauh, Zack segera kembali ke motornya dan bergerak meninggalkan Cathrine seorang diri.


Terkejut dan kecewa, itulah yang saat ini Cathrine rasakan. Dia tidak mengira jika pencariannya saat ini bukanlah untuk menyelamatkan Laura. Melainkan sebaliknya. Jika tahu akan seperti ini jadinya, Cathrine pasti sudah mencari Laura sendiri sejak awal dan menyelamatkannya. Namun, sekarang apa yang harus dia lakukan.


Cathrine hanya berdiri sambil terdiam, menatap kepergian Zack yang semakin jauh meninggalkannya. "Aku tidak boleh membiarkan Laura celaka." Dengan segera Cathy menaiki kuda besinya dan bergerak melalui jalur lain.


Rasa persaudaraan pada Laura membuat naluri egoisnya menguar. Dia terlalu menyayangi gadis itu dan memilih untuk berusaha melindunginya secara diam-diam. Jangan sampai Zack tahu jika Laura masih hidup. Dia harus membawanya pergi dari daerah itu lebih cepat sebelum kelompok Zack tiba.


To Be Continue....

__ADS_1


__ADS_2