
Dengan sombong Zack dan beberapa anak buahnya masuk ke daerah Betharia. Deru bising motor trail saling bersahutan berhasil memekakkan telinga setiap orang yang awalnya berada di luar rumah. Mereka pun bergegas masuk, ketika menyadari ada pria yang memasuki kawasan tersebut.
"Apa ini yang disebut daerah terlarang? Cuih, hanya ada wanita tua di sini, mereka hanya menyebarkan rumor demi menguasi tempat ini." Zack meludahi tempat tersebut dan mencoba bergerak lebih dalam, sedangkan anak buahnya mulai was-was serta menoleh ke kanan kiri beberapa kari akibat takut sesuatu yang buruk akan terjadi.
Menurut kabar yang beredar, penduduk Betharia menculik para korban tanpa aba-aba. Mereka bergerak seperti angin, diam dan tak terlihat seolah hanya embusan yang terasa.
"Tuan, sebaiknya kita kembali saja. Firasatku berkata buruk kali ini," ajak seorang anak buah mencoba menghentikan Zack yang hendak semakin jauh.
"Dasar pengecut! Pergilah sendiri sana! Jelas-jelas tidak ada apapun di sini, apa yang perlu kau takutkan!" Zack turun dari motornya, tetapi benar saja peringatan sang anak buah. Baru satu langkah sebuah benda terasa menggigit lehernya seperti seekor nyamuk.
"Apa ini?" gumam Zack meraih benda yang terasa menyelekit di leher dan hanya dalam sepersekian detik, pria itu pun limbung di tanah.
Beberapa anak buah yang menyaksikan segera berbalik arah, tetapi hanya satu orang yang dibiarkan keluar dari tempat itu, sedangkan yang lainnya mengalami nasib sama dengan Zack. Tak sadarkan diri.
Tak lama kemudian, Elena keluar dari tempatnya dengan beberapa wanita lainnya. Dia memberikan isyarat agar membawa para pria itu ke bangunan utama untuk diserahkan pada Betharia.
Para wanita di Betharia memang dikenal dengan pembunuh bayaran paling senyap di negara tersebut. Mereka mampu membunuh tanpa meninggalkan jejak apalagi suara. Mereka bergerak secara diam-diam, tetapi sangat mematikan.
Sementara itu, Nathan yang mengintip apa yang terjadi di luar seolah kehilangan pasukan oksigen saat itu juga. Membayangkan Zack dan anak buahnya akan mengalami hal seperti yang diceritakan Laura seketika membuatnya ketakutan.
__ADS_1
Bayangan pria dihidangkan di sebuah meja makan untuk berpesta kembali berputar dalam benak Nathan. Pria tersebut segera berlari ke kamar Laura dan berusaha menggendongnya. "Kakak Ipar, kita harus pergi sekarang! Aku tidak mau menjadi santapan makan malam mereka."
"Hei! Apa yang kau lakukan?"
"Kita harus pergi!"
"Apa kau bodoh? Kalau kita keluar malam ini yang ada kau akan dijadikan sajian penutup nanti. Keamanan akan lebih diperketat setelah ada penyusup atau pria yang tertangkap. Mereka akan memastikan korbannya tidak bisa melarikan diri dari sini. Kau pikir jika kita keluar sekarang apa yang bisa terjadi?"
Nathan sontak melepaskan tangannya dan mengurungkan niat untuk membawa Laura pergi. Dia terduduk di lantai dengan tubuh lemas lunglai dan tak lagi berdaya. "Lalu, apa yang bisa kita lakukan? Aku tidak ingin mati muda di sini?" gumam Nathan menatap entah ke mana.
"Diam dan beristirahatlah terlebih dahulu untuk hari ini. Kita cari kesempatan terbaik untuk pergi besok. Lagi pula kau tahu sendiri jika aku keluar seperti ini hanya akan merepotkanmu nantinya."
Tidak ada yang bisa Nathan lakukan kali ini. Dia pun memilih pasrah dan mengikuti apa yang dikatakan Laura. Meskipun dia tidak akan bisa tidur nyenyak malam ini karena takut tidak akan terbangun lagi keesokan harinya.
Secara sembunyi-sembunyi wanita tersebut mengikuti pergerakan penduduk desa yang semuanya adalah perempuan. Mereka membawa para pria layaknya berburu babi, mengikat kaki dan tangan serta memikul menuju sebuah tempat yang tampak seperti bangunan utama di daerah itu.
Setibanya di bangunan tersebut, Cathrine mengintip apa yang terjadi di dalamnya dari sebuah celah di bagian atas. Kedua bola mata wanita itu langsung terbelalak tatkala menyaksikan dengan matanya kepalanya sendiri apa yang ada di bangunan luas itu.
Dia membekap mulut rapat-rapat agar keterkejutannya tak terdengar dari luar. "Apa mereka masih manusia?" batin Catherine.
__ADS_1
Beberapa penggalan kepala pria tampak diawetkan menghiasi ruangan tersebut. Seolah mereka adalah hewan buruan yang pantas untuk dijadikan pajangan. Jumlahnya tak hanya satu atau dua, tetapi ada banyak bahkan mungkin mencapai ratusan karena selurug sisi dinding dipenuhi dengan semua itu.
Meskipun mencekam, tetapi suasana di sana tampak sepi. Tidak ada satu pun percakapan yang terjadi di antara para wanita. Mereka hanya saling memberikan isyarat dan yang lainnya sudah memahami apa yang harus dikerjakan selanjutnya.
Seorang wanita menuruni anak tangga, wajah cantik dan usia yang tak pasti menggambarkan sosoknya adalah pemimpin di sana. Dari cara berjanlannya yang anggun ,tetapi tetap tegas menunjukkan posisinya yang tinggi dan tampak terdidik selayaknya seorang bangsawan. Dia duduk di ujung meja panjang dan mengisyaratkan bahasa yang hanya dipahami wanita lainnya.
Seorang wanita yang mendapatkan komando lantas melepaskan busana salah satu anak buah Zack dan mengikatnya di sebuah tempat yang telah disediakan. Mereka menyiram pria itu dengan air dingin hingga tersadar dan gelagapan.
"Siapa kalian di mana aku? Aku mohon lepaskan aku dan aku berjanji tidak akan menerobos daerah ini," ujar sang pria setelah tersadar. Seharusnya dia tidak menuruti Zack tadi dan memilih melarikan diri. Sekarang mereka harus menanggung akibatnya dengan menjadi korban para penduduk Betharia.
Setelah melihat korbannya sadar, lagi-lagi wanita pemimpin yang tak lain adalah Betharia lantas berdiri dari posisinya. Dia mengambil sebuah pisau kecil, lalu melangkah mendekati sang pria.
"Apa yang ingin kalian lakukan? Aku mohon bebaskan aku!" Dengan putus asa pria tersebut mencoba melepaskan diri. Namun sayangnya tali yang mengikat kedua tangan dan kakinya seolah benar-benar menganggap dia adalah ayam panggang.
Tanpa menjawab pertanyaan pria itu, Betharia lantas memotong kejantanan sang pria tanpa berkedip dan anak buahnya segera menadahkan darah yang mengalir ke sebuah mangkok.
"Akh!" Suara teriakan menyakitkan menggema memenuhi seisi ruang. Namun, para wanita itu sangat santai seolah tak terjadi apa pun.
Teteas demi tetes darah yang mengalir berkumpul di sebuah mangkok keramik itu. Setelah penuh, seorang wanita membawanya ke hadapan Betharia dan dengan santainya dia mencelupkan roti tawar seolah itu adalah susu segar yang baru saja di perah dari sapinya.
__ADS_1
Catherine yang menyaksikan semua itu hampir saja pingsan. Untuk pertama kalinya sebagai seorang mafia dia menyaksikan secara langsung pembunuhan sekejam ini. Pantas saja disebut daerah telarang. Terlalu berbahaya jika berani mengusik mereka. Lalu bagaimana nasib Zack sekarang? Apa yang bisa Catherine lakukan?
To Be Continue...