Istri Tawanan Tuan Arogan

Istri Tawanan Tuan Arogan
Chapter 61: Dasar Wanita


__ADS_3

Kehadiran Michael, Argon, dan Laura di sambut dengan baik oleh Nenek Elizabeth serta Lady. Meskipun sebenarnya Lady hanya berpura-pura, sedangkan perhatian Nenek Eli memang benar adanya. Dia yang sudah tua hidup sebatang kara, silih berganti ditinggalkan orang tercinta tanpa bisa berbuat apa-apa tentu saja menyebabkan wanita tua tersebut begitu menyayangi Argon. Sosok yang dia asuh lebih dari separuh hidupnya.


"Mich, kau yakin mereka akan bertindak, setelah kita kembali ke sini?" tanya Laura setelah mereka memasuki kamar yang kini menjadi milik keduanya berbagi suka maupun duka.


Michael mengangguk. "Wanita itu pasti sudah melaporkan apa yang terjadi dan mereka tidak akan menunda pergerakan. Begitu juga kita."


"Bagaimana kau tahu jika Lady tak berada di pihakmu?"


Hanya senyuman yang Michael berikan. Dia lantas mendekat dan membawa Laura untuk duduk di ranjang, tepat di sampingnya. "Aku bukanlah bocah berusia lima tahun, Sayang. Aku menyadari sejak kecil dia selalu berusaha menyingkirkan aku. Hidupku di keluarga ini juga tidak mudah, mungkin karena mereka mengira aku putra Argon, bukan Aragon. Maka dari itu, kehadiranku juga seolah menjadi ancaman. Hingga mereka berusaha mengekangku selama ini, termasuk urusan jodoh. Tapi, itu lebih baik. Mungkin bebanku akan semakin berat jika Nenek Elizabeth tahu aku adalah cucu kandungnya."


Tak memiliki garis pewaris asli, tentu saja membuat Nenek Elizabeth risau. Jika mereka membiarkan Michael begitu saja, maka pria tersebut tidak akan sadar posisinya. Di mana dia hanya dianggap putra yang memiliki ibu seorang gundik dan ayahnya hanyalah anak pungut. Namun, kalau mereka tahu fakta sesungguhnya, tentu saja akan memaksakan jalur masa depan yang sudah di tentukan di keluarga itu, dan Michael sama sekali tak berminat.


Berbeda dengan Nathan, yang lahir dari rahim Lady. Seorang putri dari keluarga berkelas yang tentunya tidak perlu diragukan garis keturunannya.


"Masih banyak fakta yang belum kau ketahui tentang keluarga ini. Jadi, sebaiknya kita meluangkan banyak waktu kalau kau ingin mendengarnya, Sayang? Haruskah aku bercerita sambil berkencan denganmu di taman?"


"Cih, sejak kapan mulut itu licin sekali mengucap kata sayang? Biasanya juga selalu ancaman yang keluar. Dasar pria." Meskipun belum bisa menerima sepenuhnya perhatian Michael, tetapi tujuan keduanya saat ini adalah sama. Mereka bergerak untuk membalas perbuatan orang-orang yang sudah mencelakai keluarga Laura maupun Michael.


Tangan Michael melingkar di perut Laura. Dia meletakkan kepala di lekuk leher sang istri sembari menghirup wangi yang menenangkan hati itu. "Aku menunggumu sejak lama. Tapi kau malah menyamar seperti bunglon. Tahukah kau, aku selalu menanti saat-saat di mana gadis kecil yang membantuku kembali tersenyum manis. Ku kira dia benar-benar telah tiada. Ternyata Tuhan masih berbaik hati padaku dan kau datang sendiri mencariku. Maaf saat hal buruk terjadi, aku tidak ada untukmu kala itu."

__ADS_1


Kata-kata manis yang keluar dari mulut Michael tentu saja melelehkan hati Laura. Wanita mana yang tidak merasa sejuk mendapat pengakuan seperti itu, tetapi lagi-lagi Laura mencoba untuk tidak larut dalam sebuah kebahagiaan. Dia tidak ingin terluka lebih dalam dan tak pula berniat membalas perasaan Michael. "Ekhem, gerah, Mich. Aku lupa tadi masih ada barang yang belum ku ambil di mobil."


Wanita tersebut lantas beranjak meninggalkan suaminya. Wajah merona bak tomat kematangan mengalahkan warna perona pipi buatan manusia, sedangkan sang suami yang ditinggalkan hanya bisa menggeleng kecil. "Dasar wanita! Selalu saja bisa mengalihkan pembicaraan."


Baru melangkahkan menuruni tangga, sebuah suara sindiran sudah terdengar dari seorang wanita yang kini duduk di ruang keluarga sambil mewarnai kukunya. "Hebat juga kau. Setelah berusaha membunuh Argon, sekarang malah kembali dan dinyatakan sebagai penyelamat."


Laura menghentikan kakinya, menoleh ke sumber suara yang tak lain adalah sang ibu mertua. Bukankah Michael sudah memberikan izin untuk memberikan wanita itu sedikit pelajaran. Tentu saja Laura tidak akan menyia-nyiakan kesempatan begitu saja.


"Maaf mengecewakan dirimu, Mama Mertua. Tapi, sepertinya aku dan Michael memang sudah berjodoh sejak awal." Laura mendekatkan diri hingga jarak keduanya terpangkas cukup banyak. "Jadi, lebih baik singkirkan niat burukmu untuk mengatur suamiku dan nikmati saja masa-masa terakhir bersama selingkuhanmu itu," bisik Laura.


Kedua bola mata Lady lantas membelalak lebar. Deru napas wanita itu seketika naik turun tak beraturan seiring dengan tangan yang terkepal kuat. Bibirnya berkedut, terlalu sulit mengeluarkan kalimat balasan.


"Nyonya, apa salahku? Apa, Nyonya begitu menginginkan Nathalie menjadi menantu keluarga ini, hingga kehadiranku sama sekali tak berarti." Cairan bening menggenang di bendungan mata Laura. Sebuah akting yang memukau karena sosok Nenek Elizabeth baru saja keluar dari kamarnya.


"Apa maksudmu?" Lady menautkan kedua alis memikirkan sandiwara apa yang tengah di mainkan wanita di depannya.


"Ada apa ini?" tanya Nenek Elizabeth menghampiri keduanya.


"Nyonya Besar," sapa Laura sambil berpura-pura mengusap air matanya.

__ADS_1


Kini Laura memahami, pemegang kekuasan tertinggi di kediaman ini bukanlah Argon maupun Lady, melainkan sosok wanita tua di depannya. Hanya dengan menarik simpati wanita itu, barulah Laura bisa menunjukkan siapa sosok Lady sebenarnya, sesuai dengan arahan Michael.


"Kenapa memanggilku Nyonya Besar?"


Laura mengusap ingus sambil menampakkan wajah memelas. "Maaf Nyonya Besar, tapi itu semua perintah Nyonya. Bagaimana bisa aku menolaknya? Kalau begitu, aku izin ke dapur dulu, Nyonya. Masakan yang Anda inginkan aku akan berusaha untuk membuatnya."


"Apa?" Lady sontak tersentak dengan fitnah yang baru saja Laura tamparkan padanya.


Sementara itu, Nenek Elizabeth menggeleng menatap tingkah menantunya yang selalu tak sabaran. "Kenapa kau harus memasak? Masih ada banyak pelayan di sini. Lagi pula kau ini istrinya Michael. Seharusnya kau memanggil kami Nenek dan Mama sebagaimana seharusnya."


Meskipun Nenek Elizabeth memiliki niat yang terkadang buruk, tetapi sebagai seorang wanita sisi baiknya pun masih ada. Lagi pula dia paling enggan dianggap wanita jahat secara terang-terangan dan memilih bertindak halus agar gelar Mimi Peri tak menghilang dari dirinya.


Karena itulah, dia tidak pernah buru-buru dalam bertindak dan seolah paling bijaksana serta dermawan di keluarga tersebut. Walaupun faktanya sosok Nenek Elizabeth adalah wanita keras kepala yang segala ucapannya adalah mutlak dan harus dipenuhi semua penghuni rumah.


"Baik, Nek."


"Ya sudah, pergilah! Layani saja suamimu daripada harus menjadi pembantu di sini," kata Nenek Eli lembut.


Laura mengangguk, dia lantas kembali melanjutkan niatnya ke garasi mobil untuk mengambil barang belanjaan sambil mengusap air mata buayanya. Dia menyeringai puas, ternyata memfitnah orang lain memberikan kepuasan tersendiri. Pantas saja manusia suka menjelek-jelekkan orang lain di belakang mereka.

__ADS_1


To Be Continue....


__ADS_2