
Aroma busuk khas bangkai yang menguar menyebabkan banyak orang mual, tak sedikit yang sampai muntah parah seperti halnya Laura saat ini. Entah berapa banyak isi perutnya yang keluar tanpa di minta. Untung saja organ dalamnya tak ikut sekali keluar bersama dengan cairan tak menyenangkan itu. Namun, rasa penasaran membuatnya mendekati kotak itu setelah apa yang dia rasakan mereda.
Perasaan sedikit lega seketika mengangkat beban di dada Laura, tatkala melihat mayat yang terdapat di dalamnya ternyata bukan sang suami. "Nenek Elizabeth," gumam Laura tak mengira jika Nathalie mengirim mayat sesepuh keluarga Wilson itu.
Seorang mayat dengan tubuh terbujur kaku hampir membusuk berada di dalam peti itu. Lalat bahkan tak tahan untuk segera mengerumuni bau menyengat indra penciuman itu. Bisa di pastikan jika Nenek Elizabeth sudah meninggal cukup lama, tetapi mengapa mereka dengan tega tidak memberinya pemakaman yang layak.
Apa sebenarnya yang terjadi di kediaman Wilson, bukankah wanita tua itu dan Lady adalah keluarga yang sangat akrab. Tidak mungkin bukan, jika dia membiarkan Nenek Elizabeth mengalami nasib seperti ini.
"Apa yang terjadi dengan kediaman Wilson?" tanya Laura langsung menatap tajam ke arah Leo.
Setelah meninggalkan kediaman itu, dan mengikuti suaminya. Laura memang tidak pernah lagi mendengar kabar tentang orang-orang yang tinggal di sana. Dia juga tidak seakrab itu untuk mengunjungi mereka. Lagi pula bukankah banyak pelayan yang tinggal di sana? Kenapa kabar tentang kematian Nenek Elizabeth pun tidak sampai ke media, padahal mereka merupakan keluarga yang cukup ternama. Artinya, masih ada konspirasi yang belum terpecahkan.
Tentu saja di antara anak buah Michael tidak ada yang bisa menjawab karena mereka memang tidak pernah mengamati kediaman Wilson tanpa perintah dari atasan.
Melihat keheningan dari para anak buah yang saling memandang satu sama lain, Laura sontak paham dengan situasi mereka. Bukan ranah mereka untuk ikut campur privasi keluarga sang pemimpin. Lagi pula mereka sendiri baru saja mendapat serangan di markas, tak menutup kemungkinan kediaman Wilson juga di serang. Mengingat di mana Jhon pernah memperingatkan jika dia akan kehilang orang-orang yang dicintainya. Lantas bagaimana dengan Lady dan Nathan, bukankah pria itu sangat mencintai Lady? Lalu di mana pula Michael yang masih belum memberikan kabar sampai sekarang?
Laura lantas mengusap keningnya yang terasa pening. Mencoba menerka-nerka apa yang terjadi ternyata cukup membuat otaknya panas. Bagaimana caranya agar dia tahu Nathan dan sang suami yang tak di sampingnya sekarang tengah berada di mana? Akankah mereka baik-baik saja?Jangan-jangan mereka juga mengalami serangan yang sama.
"Makamkan Nenek Elizabeth di tempat terbaik sebagaimana seharusnya. Dan cari tahu apa yang terjadi dengan kediaman Wilson. Kabari aku jika kalian mendapat berita tentang Michael atau siapa pun itu!"
"Baiklah," jawab Leo.
Entah bagaimana Laura harus bertindak saat ini. Namun, tidak mungkin dia membiarkan mayat yang sudah hampir membusuk tetap seperti itu. Bisa-bisa selain aroma khas menguar, belatung datang, dihinggapi lalat, dan arwah pun menjadi tidak tenang. Lebih baik segera memakamkannya terlebih dahulu. Urusan upacara pemakaman, di pikir nanti saja kalau situasinya sudah jelas seperti apa.
Mungkin kelak dia harus menjelaskan pada Argon dan Michael, jika Nenek Elizabeth telah berpulang dan menjadi gundukan tanah. Saat ini, Laura hanya bisa berharap jika mereka pun sama halnya sepertinya yang tengah baik-baik saja dan tidak mengalami masalah yang serius.
__ADS_1
Merasa tubuhnya sedikit lemas karena penampakan yang baru saja dilihat dan banyaknya masalah yang berkecamuk dalam pikirannya. Laura memilih meninggalkan halaman untuk kembali ke kamar, dia melangkah dengan sedikit gontai akibat rasa pusing sekaligus mual yang melanda.
Sesekali Laura berpegangan pada railling tangga, atau benda apa pun yang mampu menahannya. "Apa yang terjadi denganku?" gumamnya.
Tidak biasanya Laura merasa seperti ini. Bukan hanya karena aroma mayat yang membuatnya mual, melainkan kondisi itu sudah dia rasakan sejak beberapa hari ini. Akankah semua itu terjadi karena dia merindukan masakan Michael yang biasa dia makan. Menyebalkan sekali jika memang benar begitu kenyataannya, bisa-bisa dia mati kelaparan sebelum melihat suaminya kembali. Belum lagi kalau sampai apa yang dikhawatirkan sungguh terjadi. Mungkinkah dia harus benar-benar di kubur dalam peti yang sama seperti keinginan suaminya sebelumnya.
Laura menggeleng kecil, dia tidak ingin hal buruk terjadi. Hanya bisa berharap agar Michael kembali padanya dengan selamat.
Tak selang beberapa lama beristirahat, ponsel Laura kembali berdering. Dia segera meraih benda pipih itu dengan mata yang terbuka lebar, mencoba mengalahkan segala rasa tak karuan yang melanda.
Namun, kali ini bukan panggilan telepon suara, melainkan sebuah panggilan video dari Nathalie. Dengan was-was Laura menggeser bulatan hijau. Gambar seorang wanita yang dikenalnya tampak begitu jelas memenuhi layarnya.
"Hai-hai adikku tersayang. Apa kau menyukai hadiahku?" ucap Nathalie di seberang sana sedikit mengejek. "Dari ekspresi yang kau tunjukkan, tampaknya itu tak membuatnu terkejut. Ah iya, lagi pula nenek tua sialan itu memang sangat menyebalkan. Aku pun malas melayaninya."
"Apa yang kau inginkan?" tanya Laura dingin. Sorot mata kemarahan tergambar jelas di wajah Laura. Wanita di layar ponselnya selalu saja mengusik hidupnya sejak dulu. Entah apa yang kali ini dia inginkan, pastinya bukan sesuatu yang baik. Padahal Laura tak pernah mengusik hidupnya, kecuali merebut Michael tentunya.
"Hampir saja aku lupa, saking terlalu asyiknya merindukanmu." Layar ponsel pun berpindah ke kamera belakang. Tampaknya seseorang kali ini diikat di sebuah kursi dengan mulut di lakban dan tangan serta kaki yang terikat.
"Nathan," ucap Laura syok dengan apa yang diperlihatkan Nathalie. Dia lantas beranjak dari posisinya karena memang terkejut. Wajah pria yang begitu dikenalnya terpampang nyata dalam kondisi yang jelas tidak baik. Apa sesungguhnya motif utama Nathalie ini? Bukan hanya membunuh Nenek Elizabeth, tetapi juga menyekap Nathan.
Sebuah tawa menggelegar memenuhi indra pendengaran Laura. "Sepertinya kau berhubungan baik dengan adik iparmu yang satu ini?" kata Nathalie, dia bergerak semakin dekat pada Nathan yang meronta-ronta dan sedetik kemudian, membuka lakban yang menutup mulut itu dengan sangat kasar. "Ayolah Nathan! Sapa kakak Iparmu, kalian pasti juga saling merindukan bukan?"
"Kakak Ipar, aku tidak apa-apa. Kau jangan termakan omongan wanita iblis ini!" Kalimat yang diucapkan Nathan sontak menyebabkan Nathalie murka. Dia mendaratkan sebuah tamparan di pipi Nathan dengan sengaja untuk memprovokasi Laura.
"Berani-beraninya kau berkata seperti itu! Apa kau lupa aku ini sudah berbaik hati dengan membawamu ke mari? Seharusnya kau mengucapkan padanya betapa baiknya diriku memberimu makan." Dengan kasar Nathalie kembali menutup mulut Nathan menggunakan lakban. "Kau terlalu banyak bicara! Lebih baik sekarang diam saja dan kita lihat seberapa baik kakak iparmu itu bersedia menyelamatkanmu."
__ADS_1
Melihat betapa kejamnya Nathalie dalam video itu, sontak darah dalam diri Laura mendidih seketika. "Apa sebenarnya maumu, ha?" teriak Laura tak mengira jika Nathalie akan memperlakukan Nathan seperti itu.
"Laura. Bukan bukan, aku tidak suka nama itu, terlalu menjijikkan Laurent adikku tersayang, aku mengundang datang ke tempatku jika masih menginginkan nyawa adikmu ini. Pasti rasanya menyenangkan jika kita bisa reunian bertiga seperti sebelumnya sambil menikmati secangkir teh buatanku. Ingat jangan bawa siapa pun atau aku akan kembali mengirimkannya dalam bentuk hadiah yang sama seperti sebelumnya." Lagi-lagi panggilan terputus tanpa Laura sempat menjawabnya.
Sebuah notifikasi berisikan alamat yang harus di datangi, dikirimkan oleh Nathalie. Laura mengumpat kesal. Kenapa masalah datang setiap hari tanpa jeda? Apa mereka tidak lelah mengantri sepanjang hari hanya untuk mengganggunya.
"Sialan! Kenapa masalah tidak ada habisnya?" Dia pun segera meraih sebuah jaket hitam dan melangkah dengan tergesa-gesa menuju garasi. Bukan masalah menghadapi Nathalie seorang diri, lagi pula dia juga ingin tahu apa lagi yang mereka rencanakan kali ini.
Di luar Leo yang melihat Laura berjalan terburu-buru pun mendekat. "Apa yang terjadi?"
"Berikan kuncimu!" ucap Laura menengadahkan tangan dengan wajah panik.
"Kau ingin pergi?"
"Jangan banyak tanya! Aku tidak punya banyak waktu."
"Kalau begitu aku ikut."
"Apa kau mau meremehkanku lagi? Tenang saja, aku bisa mengatasinya sendiri. Hanya seekor cecunguk busuk dari selokan yang lupa dari mana dia berasal. Maka aku akan mengembalikannya lagi ke jembatan." Laura segera membuka pintu mobil dan masuk, tetapi setelah menyalakan mesin dia menurunkan kaca terlebih dahulu. "Kalian cari informasi tentang Nathalie Broccoli sedetail mungkin. Jika dalam waktu satu jam aku tidak kembali, datanglah menyusulku. Aku yakin di mobilmu pasti ada GPSnya 'kan?"
Tak ingin membuang waktu lebih lama, Laura bergegas menancap gas dan pergi meninggalkan markas, sedangkan Leo yang di tinggalkan hanya bisa bergumam sendirian sambil menggeleng kecil. "Memang istri dan suami sama saja. Mereka selalu saja tidak dapat di prediksi isi otaknya. Mungkin aku harus mengikuti apa yang mereka makan supaya bisa berpikir seperti itu."
Tak ingin terlalu banyak berpikir, Leo pun segera mencari anak buahnya untuk melakukan apa yang diperintahkan Laura. Meskipun merasa khawatir, tetapi sebagai seorang anak buah dia hanya bisa menjalankan tugas dari atasannya itu dan tidak berhak untuk melawan, selama mereka di jalur yang benar.
To Be Continue...
__ADS_1