Istri Tawanan Tuan Arogan

Istri Tawanan Tuan Arogan
Chapter 81


__ADS_3

Perpaduan serangan antara Laura dan Leo berhasil menggulingkan kendaraan John. Meskipun tidak menduga wanita di sampingnya bisa bertindak seperti itu, tetapi harus Leo akui, jika keberhasilan pertarungan kali ini tak luput dari kontribusi Laura yang memang patut menyandang gelar istri seorang Michael. Setidaknya Laura bukanlah seorang wanita yang hanya bisa merengek lantas merepotkan pria, Michael pun tetap memiliki sikap yang sama dan tidak menjadi budak cinta hingga mengabaikan prinsip seorang mafia.


Keduanya lantas menghentikan kendaraan, dan bergerak melangkah turun menyusul John ke bawah. Akankah pria itu mati hanya karena sebuah benturan ringan? Tentu saja tidak. Orang jahat biasanya masih memiliki umur yang panjang. Karena malaikat kematian pun mungkin enggan menerimanya.


John yang berada di kursi bagian belakang sontak terguling-guling tak karuan seiring dengan kendaraan yang berbalik beberapa kali. Akan tetapi, tampaknya kematian benar-benar belum berpihak padanya. Mobil yang terbalik membuatnya menendang pintu sekuat-kuatnya untuk keluar.


Dengan susah payah menahan sakit dan tubuh bergetar bersimbah darah John segera keluar dari kendaraannya. Satu orang pria dan wanita berjalan dari atas menghampirinya. Tangan John lantas terulur, tetapi kondisinya yang parah menyebabkan dia melesatkan peluru tak tentu arah, sedangkan kedua orang di hadapannya dengan mudah bisa menghindari serangan yang dia berikan.


"Dasar wanita sialan! Kenapa kau selalu saja menghancurkan rencanaku? Seharusnya aku tidak menuruti James dengan membiarkanmu hidup sejak dulu! Harusnya kau mati saja bersama ibumu hari itu! Sia-sia saja apa yang aku lakukan selama ini!" teriak John tak karuan sambil terus menekan pelatuknya, hingga tak tersisa lagi, dan dia pun membuang benda tersebut sambil mendengus. "Sialan!"


Umpatan John tentu saja berhasil menyulut emosi dalam diri Laura. Lebih dari lima tahun lamanya dia memendam ketakutan itu seorang diri akibat peristiwa terberat yang terjadi karena ulah pria di depannya. Namun, tampaknya kekejaman memang sudah mendarah daging dalam diri John. Tidak ada lagi kata maaf yang tersisa untuk pria seperti itu.


"Pria tua sialan!" Sebuah peluru dari pistol milik Laura bersarang tepat di paha John.


Pria itu langsung bersimpuh di tanah, kedua tangan memegang luka di mana timah panas itu berada. Darah segar mengalir tanpa henti. Dia terdiam sejenak merasakan sakit yang merambat di tubuhnya. Akan tetapi, sedetik setelahnya dia tertawa terbahak-bahak layaknya orang kesetanan. Bagaimana bisa dia yang menjajaki dunia mafia puluhan tahun dikalahkan oleh seorang gadis ingusan kemarin sore. Padahal nyawa Laura dialah yang melepaskannya lima tahun lalu dengan berpura-pura tidak mengetahui keberadaannya. Kenapa Argon beruntung sekali memiliki keturunan yang selalu saja terampil dan sulit untuk dikalahkan.


Hal itu tentu saja menyebabkan Leo dan Laura saling melemparkan pandangan. Apakah pria itu menjadi gila karena nyawanya sudah di ambang batas?

__ADS_1


"Kau pikir dengan membunuhku hidupmu bisa kembali semula? Tidak!" Suara tawa semakin renyah menggelegar, mengerikan. John mengangkat pandangannya lurus pada Laura, sorot tajam penuh kebencian terlontarkan dan tak henti-hentinya dia menyeringai seakan mengejek wanita di hadapannya saat ini. "Kau akan kehilangan lebih banyak dariku!"


Sejenak John menghentikan kalimatnya guna mengambil napas. Kesakitan menyebabkan pasokan oksigen di paru-parunya menipis dan mengakibatkan rasa sesak di dada. Beberapa kali dia terbatuk, satu tangannya menekan luka yang mengalirkan darah terus menerus.


"Apa maksudmu?" tanya Laura dingin.


"Bertahun-tahun aku mengikuti ayahmu. Memisahkan dia dengan wanita yang dicintai, bahkan menyingkirkan kalian dari pandangannya. Sayangnya, lagi-lagi dia menemukan kalian yang ternyata bersembunyi. Padahal di depan mata dia jelas-jelas tahu kalau aku mengambil istrinya. Tapi, apa yang aku dapatkan, hah? Hanya penghinaan terus menerus tanpa adanya rasa puas dari mereka! Dia berperan seolah pria terhebat dan berpura-pura tidak tahu hubungan kami."


"Aku di sini bukan untuk mendengar ocehanmu!"


Tawa John semakin lebar, Laura yang geram mendengar pun menembakkan lagi pistolnya mengenai kaki yang sebelah.


"Apa yang kau terima saat ini adalah buah dari tindakan kedua orang tua mu yang suka ikut campur dengan urusan orang lain itu. Papamu, Suamimu, Nenekmu, dan semua orang sialan itu! Mereka sedang dalam perjalanan mengunjungi ibumu di alam baka." Lagi-lagi John tertawa lebar. "Dan kau! Hanya akan sendirian di sini. Kesepian seorang diri, meskipun kau membunuhku nyatanya mereka tidak akan bisa kembali lagi padamu! Kematianku tidak akan meredam amarah orang-orang yang menginginkan kehancuran keluarga Wilson. Tapi, sebaliknya. Kau yang sendirian akan kewalahan menghadapi mereka. Kenapa? Karena kau lagi-lagi harus sebatang kara."


Mendengar perkataan John, Laura sontak terasa lemas. Wanita tersebut hampir terhuyung ke belakang, tetapi dengan sigap Leo memegang tangannya. Apa maksud perkataan John suaminya pergi ke alam baka. "Kalian membuat masalah secara bersamaan agar kami terpisah dan menyerang dari belakang?" bentak Laura seolah tak percaya akan fakta yang baru saja dialaminya.


"Iya. Sebentar lagi mungkin kabar tentang kematian Michael akan datang padamu. Buktikan saja kalau tidak percaya."

__ADS_1


Tak ingin agar John lebih banyak berbicara, Leo pun menembakkan pistol tepat ke kepala pria itu. Hingga dia jatuh, tewas tergeletak di atas tanah dengan bersimbah darah dan kedua mata yang terbuka lebar.


"Jangan percaya omong kosongnya! Master dan Tuan Besar pasti baik-baik saja," ucap Leo mencoba meyakinkan Laura. Melihat di mana Laura tampak begitu syok mendengar apa yang dikatakan John.


Laura seakan kelu, otaknya tak mampu lagi berpikir jernih, pandangannya langsung melayang entah ke mana. Bayangan harus kembali kesepian membuat rasa sesak di dada semakin menyiksanya. "Tidak mungkin. Dia pasti bohong," gumam Laura.


"Ya, dia pasti bohong. Master pasti kembali pada kita."


"Ambil kepalanya sebagai hadiah untuk Lady. Sisanya bakar saja sekalian bersama mobil itu!" ucap Laura dengan mata memerah dan buliran air yang berkumpul di pelupuk matanya. Sulit sekali bagi wanita tersebut menahan rasa nanonano di jiwa dan raganya.


Leo mengangguk, pria tersebut lantas mengisyaratkan pada anak buahnya agar mengikuti apa yang diperintahkan Laura, sedangkan Laura sendiri mencoba kembali berjalan menaiki tanah yang terjal dengan susah payah. Tulang betisnya terlalu berat untuk berpindah. Engsel penghubung kaki, seolah putus dan tak mau lagi bekerja.


Perkataan John benar-benar berhasil mengguncang jiwa wanita itu. Bayangan kematian sang ibu tepat di depan matanya kembali tergambar jelas, menyebabkan Laura sedikit memegang kepala yang sontak terasa pening. Hingga pandangan Laura mengabur dan tubuhnya terasa lemas seketika. Dia pun ikut tumbang sebelum kembali ke jalan.


"Laura." Leo yang terkejut sontak menghampiri dan mengangkat tubuh wanita itu, sedangkan beberapa anak buah lainnya melakukan perintah sebelumnya. "Bereskan semuanya, setelah itu segera kembali."


"Baik, Kakak."

__ADS_1


To Be Continue..


__ADS_2