Istri Tawanan Tuan Arogan

Istri Tawanan Tuan Arogan
Chapter 87


__ADS_3

Laura mengemudikan mobil menuju alamat tempat yang diberikan Nathalie. Entah apa rencana wanita itu saat ini, tetapi dia pun harus tetap waspada dan selalu berjaga-jaga nantinya.


Pandangan Laura mengedar ke segala arah setelah tiba di lokasi. Dia mengerutkan dahi tatkala tak melihat satu pun orang berada di sana. Apa mereka bersembunyi, haruskah dia membawa senjata untuk berjaga-jaga? Tak mungkin bukan jika Nathalie menantangnya berduel seorang diri. Itu jelas namanya cari mati.


Perlahan wanita tersebut melangkah keluar dari kendaraan. Sebuah gedung terbengkalai yang tak lagi terpakai khas cerita di film-film yang pernah ditontonnya, menjadi tempat pertemuan mereka kali ini. Sesekali, Laura menyingkirkan alang-alang kering yang mengganggu jalannya. Pandangan Laura lantas menangkap sebuah mobil terparkir di sisi lain yang dikenalnya milik Nathalie.


Entah apa yang Nathalie inginkan saat ini, Laura pun tidak mengerti. Sebelumnya mereka bekerja sama begitu rapi dengan James sebelum akhirnya pria itu mati, sementara Jhon juga sudah tewas belum lama ini. Lalu mungkinkah masih ada orang lain yang berniat mengusik keluarga Wilson dan dia. Hanya dengan menemui Nathalie, Laura baru akan mendapatkan jawabannya.


Dering ponsel di saku membali menyala, menunjukkan siapa pemanggilnya. Lagi-lagi Laura meletakkan benda dtersebut di telinganya perlahan.


Suara seorang wanita terdengar begitu jelas menusuk indra pendengaran Laura. "Tidak ku sangka seorang Laurent ternyata cukup berani."


"Jangan banyak basa-basi! Katakan di mana Nathan!"


Bukan jawaban yang Laura dapatkan, melainkan sebuah gelak tawa yang lagi-lagi mengorek telinganya. "Tidak akan menyenangkan kalau kau menemukannya begitu saja. Bagaimana kalau kita melakukan satu permainan? Kita bermain teka teka sedikit. Aku ingin melihat seberapa cerdas adikku ini."


"Kau."


Sambungan telepon masih terputus. Sebuah notifikasi tiba-tiba saja masuk dan menunjukkan di mana Nathan tengah duduk di sebuah kursi dengan kondisi menunduk dan mulut di lakban serta tangan yang terikat di sebuah kursi.


"Jangan banyak berpikir, waktumu lima belas menit aku akan membunuhnya!" tulis sebuah pesan lagi tertera di ponsel Laura.


"Wanita sialan!"


Laura segera berlari menuju gedung terbengkalai dengan sangat cepat. Namun baru dia tiba di lantai pertama, tiga orang pria tiba-tiba saja melayang dari atas dan langsung menyerangnya.


Dia yang tak siap untuk serangan dadakan sontak mundur berbeberapa langkah guna menghindar. Laura terbatuk kecil di kala sebuah tendangan berhasil mendarat di dadanya.

__ADS_1


"Dasar pengecut! Beraninya kalian main keroyokan dan menyerang dari belakang." Tak ingin membuang waktu, Laura pun menyerang mereka secara bersamaan.


Dengan mudahnya Laura memiringkan tubuh di saat sebuah kepalan tangan mengarah ke padanya. Tak ingin membuang waktu dengan bermain-main bersama merek, Laura diam-diam mengambil belati kecil di saku celana.


Wanita itu membalikkan badan secepat kilat dan langsung menancapkan belati itu pada seorang pria dari belakang, tepat di lehernya. Salah satu pria pun seketika tumbang karena serangan fatal, sementara dua lainnya menghentikan serangan dan saling melemparkan pandangan.


Situasi menjadi menegangkan untuk sesaat, kedua tangan Laura terkepal kuat dengan sebuah belati masih digenggamnya, serta posisi siap melawan lengkap dengan sebuah seringai di wajahnya.


"Ayo!" Tangan Laura melambai pelan seolah menantang, dua pria maju ke depan. Akan tetapi, dengan cepat Laura mengayunkan kakinya tepat di samping kepala pria itu, hingga tubuhnya berputar dan ketika sang pria tumbang tanpa banyak berpikir belati kembali di tancapkan di mata kiri sang pria. "Dua kosong."


Satu orang pria yang tersisa pun tampak bergetar. Bagaimana tidak? Nyalinya menciut melihat kekejaman wanita di depannya hanya dalam sekali serangan. Bahkan tak segan-segan mencabut kembali belati yang berlumuran darah, hingga luka kedua temannya pun berakhir fatal dan tewas seketika.


"Masih ingin bermain-main denganku?" Tatapan tajam nan mengerikan tak lepas dari mata Laura. Pria tersebut tak berani melawan dan hendak melarikan diri. Akan tetapi, tampaknya Laura tak berniat melepaskannya.


Tangan Laura terayun ke depan, dan belati itu pun kembali melesat dengan sangat cepat serta berakhir menancap di kepala bagian belakang pria hendak melarikan diri itu.


Jangan salahkan Laura yang tidak memberikan maaf pada mereka. Lagi pula mereka sendiri yang datang padanya dan menyerang dari belakang. Dia hanya bisa mengembalikan apa yang di terima sebelumnya.


Tak ingin terlalu lama di tempat itu, Laura pun kembali bergerak menyusuri setiap tempat yang ada di gedung itu. Gedung terbengkalai gagal di bangun dengan lima lantai hanya berupa kerangka bangunan membuat Laura dengan mudah mengamati sekitar.


Dia harus tetap waspada, jangan sampai terjadi serangan seperti sebelumnya. Ternyata Nathalie cukup licik, tak jauh berbeda dengan ibunya yang juga jahat paripurna. "Lihat saja nanti, apa yang bisa aku lakukan pada kalian untuk mengambil kembali apa yang kalian curi," batin Laura.


Meski wanita tersebut melangkah dengan cepat, tetapi matanya dari tadi tak berhenti mengawasi persekitaran. Benar saja, sebuah tembakan lagi-lagi melesat dengan cepat ke arahnya tanpa di duga. Namun, Laura berhasil menghindarinya dengan bersembunyi di balik salah satu tiang besar yang ada.


"Laurent, tak ku kira setelah sekian lama tidak bertemu kau berubah menjadi sangat mengerikan." Suara Nathalie tiba-tiba saja menggelegar memenuhi tempat itu. Namun, sosoknya tak nampak begitu saja dan juga ikut bersembunyi.


Sesekali Laura mencerna dari mana arah sumber suara. "Jangan banyak bicara! Di mana Nathan!" teriak Laura.

__ADS_1


Hanya ada senjata tajam di bagian tubuhnya, dan sebuah pistol berpeluru terbatas. Jika dia menggunakan dengan segera bisa-bisa nanti hanya akan menjadi sia-sia. Lebih baik menggunakan di saat yang tepat.


"Nathan, kenapa kau begitu memedulikan pria letoy tak berkarisma itu. Menyebalkan, sebagai seorang pria dia bahkan tidak menarik sama sekali."


Sebuah bayangan di tempat lain berhasil samar-samar Laura tangkap dari tempat persembunyiannya. "Dapat," batinnya.


Dia pun segera bergerak dengan langkah seribu bayangan. Tak ada suara yang ditimbulkan, begitu hening. Hingga sesaat kemudian dia sudah tiba di depan Nathalie dan mencengkeram kuat leher wanita itu dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kiri lagi menahan pistol di tangan Nathalie.


"Lama tidak bertemu, Kakak Sepupu. Ku pikir kau akan menikmati hidupmu dengan semua kekayaan itu. Tapi, ternyata kau memilih mencari mati dengan bermain-main bersamaku." Laura mendekatkan kepala tepat di samping telinga Nathalie. "Bagaimana jadinya jika Ibumu tahu, dia hanyalah sebuah tameng yang kau gunakan untuk bermain bersama suaminya?"


"Kau!" Bisikan Laura sontak membuat Nathalie tercengang. Bagaimana bisa sepepunya itu tahu, sedangkan keduanya berusaha menutup rapat semua itu. Bahkan ibunya saja tidak memiliki rasa curiga sama sekali.


Akan tetapi, Nathalie tidak menunjukkan ketakutannya. Dia menyeringai licik dan menatap tajam pada Laura. "Kau pikir bisa menggertakku dengan omong kosongmu itu? Banyak hal yang hanya kau duga, tapi dengan bodohnya kau percaya jika semua itu adalah nyata. Kita tidak tahu siapa yang bisa keluar dari tempat ini hidup-hidup sebelum pertarungan selesai."


"Pertarungan." Dahi Laura mengkerut menyebabkan beberapa lipatan kulit terlihat begitu jelas, sedangkan Nathalie dari tadi menyeringai bangga.


Tak lama kemudian, lagi-lagi suara desing peluru melesat dari belakang begitu cepat tanpa di duga. Tiba-tiba datang dan bersarang tepat di punggung Laura.


Wanita itu melebarkan mata karena rasa sakit yang mendera, sedangkan satu tangannya merebut pistol milik Nathalie dan berbalik mengacungkan benda tersebut ke arah belakang.


Satu tembakan melesat begitu saja dari tangan Laura. Namun, bukan itu yang membuatnya tercengang melainkan sosok yang kini berdiri di depannya dan malah menyerang dari belakang tanpa diminta. "Nathan, kau."


Deru napas Laura tersengal menahan sakit di bagian belakang tubuhnya. Akan tetapi, Nathalie di belakangnya tiba-tiba saja menikam Laura.


"Jangan membunuhnya secepat itu! Kita masih membutuhkan dia," kata Nathan tanpa perasaan membuat Laura tumbang dan terasa lemas. Akankah dia kembali dikhianati?


To Be Continue...

__ADS_1


__ADS_2