
"Kau yang membuatku marah! Mati saja sana!" Laura mengulurkan tangan, menodongkan senjata api dan berniat menekan pelatuk menggunakan jarinya. Wajah merah padam dengan sorot menghunus tampak begitu meyakinkan bagi siapa pun yang melihatnya saat ini juga.
Namun, dengan tenang Mich melangkah mendekati sang istri perlahan, kedua tangan diangkatnya ke atas kepala. Jika dia langsung menyambar dari jarak yang cukup jauh, pasti Laura malah bertindak nekat nanti.
"Tolong, Sayang, letakkan kembali benda itu! Itu berbahaya untuk kesehatan. Kalau aku mati, kau bisa jadi janda nanti. Apa kau mau jadi janda di usia muda? Tidak 'kan? Tanpa diriku siapa yang akan jadi bantal tidurmu?"
"Lebih baik aku jadi janda kaya daripada jadi istri pria sialan sepertimu! Berbantal uang warisanmu lebih empuk daripada lenganmu itu. Berhenti di sana!"
Michael bergeming setibanya di atas ranjang dengan lutut ditekuk, padahal tinggal sedikit lagi dia bisa mendekati Laura. Akan tetapi, wanita tersebut malah mendekat dan menodongkan senjata tepat menempel di dahinya.
"Sekali saja kau bergerak akan ku habisi senjatamu!" Tangan Laura bergerak ke bawah. Mengarahkan tepat di depan sotong yang kini tertutup celana bokser itu. Hal yang membuatnya marah karena merasa dipermainkan oleh Michael, dan kini saatnya menuntut balas. "Ucapkan selamat tinggal pada burung yang kau banggakan itu!"
Sontak Michael terbelalak, kesungguhan hati terpancar jelas di wajah Laura yang menyemburkan rona merah padam. Tangan wanita itu, bahkan tak gentar sedikitpun untuk berpindah arah.
"Sayang, dia bahkan belum mencetak penerus bangsa. Bagaimana bisa kau mengancamku dengan hal itu."
"Tiga." Pelatuk langsung tekan jemari Laura, dengan cepat Michael menutup kejantanan sambil menutup rapat kedua matanya. Namun, ternyata hal yang diduga tak kunjung tiba dan ketika membuka mata, wajah Laura sudah tersenyum tepat di depannya hanya berjarak embusan napas. "Serangan balik! Dua satu."
Suara tawa menggelegar memenuhi ruang kamar sepasang pengantin yang masih dalam masa pendekatan itu. Senyum mengembang di wajah Laura karena memang sejak awal pistol di tangannya tak memiliki peluru sama sekali. Dia pun hanya berniat menggoda seorang Michael, ternyata reaksinya sama saja. Menggemaskan.
"Kau. Beraninya ya." Sontak Michael menyambar tubuh sang istri dan menindihnya. Tangan kekar Michael bergerak menggelitik pinggang Laura yang kini berada di bawah kungkungannya.
__ADS_1
Laura menggeliat tak karuan karena Michael menggelitik pinggangnya. Dia tertawa lepas, seolah melupakan segala beban yang selama ini mengganjal di hati. "Sudah, Mich. Hentikan! Geli."
"Tidak! Berani-beraninya kau mengerjaiku dua kali. Tidak akan kubiarkan kau lepas kali ini." Tangannya Michael terus bergerak entah ke mana, padahal wanita di bawahnya sudah menyerah.
Tawa yang tak henti menyebabkan air mengalir di sudut mata Laura. "Mich, hentikan. Aku bisa ngompol." Dia langsung berdiri begitu saja dan berlari kamar mandi, sedangkan Michael yang ditinggalkan seorang diri hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah sang istri.
"Beruntungnya aku." Michael lantas pergi ke walk in closet untuk berganti pakaian. Sesaat pria tersebut menyeringai kecil menatap ke arah pintu kamar mandi. Ya, sepertinya aksi jahil pasangan itu tidak hanya akan berhenti di sana.
Sesaat kemudian, Laura yang sudah selesai membersihkan diri lantas mengulurkan tangan. Dia meraba tempat di mana handuk biasanya tersedia. Namun, naas, terbiasa dilayani oleh Michael membuatnya lupa jika kali ini dia pergi tanpa membawa handuk sama sekali.
"Oh, sial! Mimpi apa aku pagi ini." Tanpa adanya kain yang digunakan untuk menutup tubuh, Laura memilih memanggil Michael. Meskipun dia lebih berharap jika pria itu sudah pergi.
"Mich."
Lagi-lagi tidak ada sahutan. "Aman," pikirnya.
Dengan berjingkat hati-hati, Laura melangkah menuju lemari tempat di mana handuk terbiasa disimpan. Namun, baru dia hendak menarik gagang suara siulan terdengar jelas di balik tubuhnya.
"Apa kau sedang menggodaku, Sayang?" Ternyata sejak tadi Michael berada di sisi lain ruangan itu. Dia sengaja berdiam diri karena ingin tahu apa yang akan dilakukan Laura selanjutnya. Benar saja, bonus pagi-pagi sudah diterima dengan melihat tubuh mulus penuh air dan tanpa sehelai benang pun yang menutupi.
"Hei! Dasar pengintip! Aku doakan matamu bintitan!" Laura segera mengambil handuk dan menutup tubuhnya dengan panik. Namun, secepat kilat Michael mendekat dan malah menahannya.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kita pemanasan dulu, Sayang."
"Pemanasan kepalamu? Apa kau tidak ingat Papa sudah menunggu di bawah sejak tadi!"
Sudut bibir Michael berkedut. Dia merasa senang karena akhirnya Laura mau memanggil Argon dengan sebutan Papa. Artinya dokumen itu cukup berguna sebagai pembuktian dan tanda maaf Laura.
"Baiklah, aku tidak akan mengganggumu! Cepatlah berganti pakaian! Nanti kau masuk angin." Michael meletakkan sebuah handuk kecil di atas kepala Laura sambil sedikit mengusapnya.
Kedua pandangan mereka saling bertemu. Meskipun sudah terbiasa dibantu oleh Michael, nyatanya jantung Laura tetap saja berdebar mendapatkan perlakuan manis sekaligus menyebalkan dari pria di hadapannya. "Aku akan menagihnya nanti malam saja. Tapi, sekarang, aku harus mendapatkan jaminannya dulu."
Tanpa aba-aba di saat Laura hanya menatapnya. Michael langsung saja memegang pipi dingin sang istri. Dia mendaratkan bibir di tempatnya. Awalnya Laura berniat memberontak, tetapi Michael menahannya.
Akal sehat Laura ingin sekali menolak manisnya bibir kenyal dan lembut sang suami, tetapi naluri dalam hatinya memilih untuk menurut.
Pertama kali setelah sekian lama bersama, akhirnya sepasang suami istri tersebut saling bertukar saliva dalam keadaan sadar. Bukan di bawah paksaan. Apalagi sebuah sandiwara. Benar-benar awal yang memebahagian.
"Cukup untuk saat ini. Terima kasih, Laura," ucap Michael menyatukan kedua dahi mereka, sedangkan tangannya masih melekat di pipi sang istri yang kini sudah lebih hangat. "Cepatlah berganti pakaian! Aku menunggu di bawah."
Mich lantas melangkah pergi, meninggalkan Laura seorang diri. Wanita tersebut masih bergeming di tempatnya, hingga sesaat setelahnya, barulah dia mengerjapkan mata berulang kali sambil menepuk pipi yang terasa semakin panas saja. "Apa yang baru saja terjadi? Apakah kami baru saja berciuman?" gumamnya syok. Lalu, duduk di depan cermin.
Laura yang kesal lantas mengusap kasar kepalanya. "Apa kau gila Laura?Kenapa malah menikmatinya?" Dia bertingkah aneh, tetapi sedetik kemudian kembali terdiam sambil menyentuh bibirnya sendiri. "Tapi rasanya manis."
__ADS_1
Dia memegang kedua pipi layaknya seorang remaja yang baru saja jatuh hati. Ternyata kearoganan seorang Michael bisa meluluhkan hatinya tanpa dia duga. Padahal selama ini Laura sudah berusaha untuk tidak goyah. Sayangnya terbiasa diperlakukan manis membuatnya terlena akan segala perlakuannya.
To Be Continue...