Istri Tawanan Tuan Arogan

Istri Tawanan Tuan Arogan
Chapter 51: Tragedi Tengah Malam


__ADS_3

Banyak orang yang tak memercayai adanya makhluk ghaib di dunia ini, terutama mereka yang sudah mengalami kemajuan teknologi. Menurut pandangan mereka, sesuatu hal yang terjadi di dunia ini pasti ada alasan sains yang mendukung terjadinya hal tersebut, sehingga tidak mudah percaya dengan adanya hal-hal mistis.


Mich baru saja hendak tertidur di sofa menjelang tengah malam. Dia merasa sangat lelah sekali dengan apa yang terjadi hari ini. Malam semakin dingin membuat Mich tidur dengan berselimutkan kain tipis miliknya sambil sesekali mengawasi gerak Laura di atas ranjang.


Baru saja terlelap dan memasuki alam mimpi, sekilas di pendengaran Mich menangkap suara yang sedikit mengganggu tidurnya. Tawa seorang wanita terdengar dengan jelas sambil menggumamkan sesuatu yang aneh di pendengaran. Mich perlahan membuka mata, suara itu terdengar dingin dan mengerikan. Dia pun mengalihkan pandangan ke arah ranjang di mana Laura berada.


Mata dari Laura menatapnya dengan tajam. Wanita itu tersenyum menyeringai menampakkan deretan giginya, sehingga Mich seketika tersentak untuk sesaat. Dia tidak percaya jika wajah cantik itu, kini berubah tampak sangat buruk dan menakutkan. Di bawah cahaya remang, kulit Laura berubah menghitam, terutama pada lingkar matanya dan tubuhnya pun tampak menyusut seolah tak diberi makan sebulan lamanya.


"Laura," panggil Michael sambil menyibakkan selimut di tubuhnya dan perlahan mencoba mendekati Laura, serta mengamati apa yang tengah terjadi pada diri sang istri.


"Mereka para pria adalah pengkhianat. Tidak pantas ada kata maaf untuk apa yang sudah mereka lakukan. Kematian adalah pengampunan terbaik, dan dia juga harus mati di tanganmu," gumam Laura dengan nada yang sangat cepat layaknya sebuah makhluk tak kasat mata yang sedang merapalkan mantra.


Namun, sedetik kemudian Laura berubah ekspresi dan suaranya pun menjadi parau. Dia mengalihkan pandangan pada Michael yang berusaha mendekat. "Mich, kenapa kau melakukan ini? Kenapa aku harus diikat, Mich. Lepaskan kumohon! Rasanya sangat menyakitkan, Mich," ucap Laura mendayu-dayu sambil merintih.


"Laura, kau benar-benar Laura?" Dengan cepat Michael mendekat, tetapi ketika hendak menyentuh tali yang mengikat Laura, dia kembali teringat akan pesan Pastor Vincent sebelum pergi tadi.


Iblis akan menipu manusia dengan segala tipu muslihatnya. Di tambah lagi sosok Laura yang kini di depannya sangat berbeda. Tidak, Michael memilih mengurungkan niat dan tidak langsung menuruti permintaan Laura untuk melepaskannya. Dia kembali memundurkan langkah sambil menggelengkan kepala.


"Mich, sakit," ucap Laura memelas sambil menggerakkan tangannya yang terikat dan mencoba terbebas. Bekas ikatan tak hanya memerah, tetapi juga meninggalkan luka yang akhirnya menyebabkan kulitnya lecet. "Tolong aku, Mich. Ini sangat menyakitkan."

__ADS_1


"Tidak! Kau bukan Laura," tegas Michael.


"Mich, tolong aku!" rintih Laura semakin meyakinkan.


Michael dengan cepat menjauhkan diri. Dia menggelengkan kepala dengan cepat dan mencoba menyadari jika apa yang ada di depannya saat ini hanyalah sebuah tipu muslihat. "Kau bukan Laura!"


"Mich, aku Laura. Apa kau gila lebih mempercayai kata-kata penipu itu!" Tiba-tiba Laura merintih dan menangis dengan sangat menyayat hati. Namun, tak ada yang keluar dari matanya. "Mich, apa kau sudah tidak mencintaiku lagi? Apa kau sekarang menganggapku sebagai perempuan gila, Mich."


Tidak percaya akan hal-hal gaib dan juga keimanan yang sedikit membuat Michael sontak terbuai dengan setiap kalimat bujuk rayu yang keluar dari mulut Laura. Dia dengan bimbang bingung harus melakukan apa. Akan tetapi, rintihan sang istri sungguh merobohkan pertahanan Michael saat itu juga.


Dia pun memilih kembali melangkah mendekat dengan perlahan, dan berusaha melepaskan ikatan tali tangan kanan Laura. Namun, ketika baru saja tali itu sedikit longgar. Suara pintu dibuka menyebabkan Michael menoleh ke belakang seketika.


Secara mengejutkan, tiba-tiba saja tangan Laura yang hampir terbebas langsung saja kembali mencekik leher Michael. "Kau harus mati! Kau pantas untuk mati!" ucapnya dengan nada penuh kebencian layaknya seorang iblis yang menemukan mangsanya.


Michael mengeluarkan pistol yang selalu ada di sakunya dan mengarahkannya pada Laura. Namun, wanita itu malah menantangnya. "Yah, benar! Lihatlah! Dia bahkan berniat membunuhmu dengan tangannya sendiri," rancau Laura bersuara parau.


"Kakak." Dengan cepat, Nathan berlari mendekati Michael yang sudah berwajah merah. Dia mencoba melepaskan diri, tetapi kekuatan cengkeraman Laura begitu besar melebihi seorang pegulat sumo, hingga Michael pun tidak mudah untuk melepaskan dan hampir saja kehabisan napas.


"Kakak Ipar, lepaskan!" Dengan sigap Nathan melepaskan tangan Laura sekuat tenaga dan kembali mengikatnya lebih erat lagi. Bukan hal yang mudah bagi Nathan untuk membantu Michael. Dia pun harus terluka akibat cakaran kuku sang kakak ipar yang tajam di tangannya, sebelum akhirnya benar-benar membebaskan Michael dari maut yang hampir saja merenggut nyawanya.

__ADS_1


Sesaat kemudian, suara tawa mengerikan menggelegar memenuhi ruangan. Bagi siapa pun yang mendengarnya pasti bulu kuduk mereka seketika meremang. Sementara itu, Michael berulang kali terbatuk karena tenggorokannya yang sakit. Belum sempat bekas cekikan sebelumnya sembuh kini malah kembali harus mengalami nasib yang sama. Bodoh memang Michael itu, bisa terjatuh ke dalam lubang yang sama setelah pengalaman sebelumnya.


"Kalian adalah para pengkhianat! Manusia hina yang seharusnya tidak pernah ada. Hanya bisa memanfaatkan orang lain demi kepentingan sendiri. Menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan. Tidak lebih baik dari iblis. Musnahlah kalian dari dunia ini! Kau bahkan berniat membunuh istrimu sendiri! Hahahaha." Laura terus menerus merancau tak karuan. Dia berteriak sambil meronta-ronta layaknya orang kesetanan.


Entah iblis apa yang tertanam dalam dirinya saat ini, hingga mengambil alih tubuh Laura. Beruntungnya Laura sebelumnya masih terbebas dari maut akibat ulah Zack, tetapi kini menjadi masalah yang lebih besar karena penduduk Betharia yang dikira menyelamatkannya ternyata berniat menjadikannya tumbal persembahan iblis yang mereka junjung.


Kemarahan, kesedihan, serta kesakitan hati dan pikirannya Laura yang dimanfaatkan oleh penduduk Betharia. Mereka mengirim roh jahat untuk bersemayam dalam diri gadis itu dan mengambil alih tubuhnya. Namun, dengan cepat Laura malah dibawa kabur. Maka iblis itu pun murka dan menampakkan kehadirannya.


Kini Michael pun paham, jika Laura terlalu larut dalam kekecewaan dan dendam hingga menyebabkannya menjadi seperti ini. "Hubungi Pastor itu! Aku mengizinkannya melakukan ritual pembersihan secepat mungkin, aku hanya ingin Laura kembali ke sedia kala," kata Michael pada sang adik.


"Baik, Kak."


Nathan lantas keluar dari kamar, awalnya dia memang mengunjungi kakaknya karena merasa ada yang tidak beres. Tidak menduga hal itu benar-benar terjadi di depan matanya. Sesuatu yang biasanya hanya dia lihat dalam film-film horor. Ternyata lebih menyeramkan ketika mengalami secara langsung.


"Setelah ini aku berjanji akan rajin beribadah ke gereja. Ternyata setan Betharia benar-benar sangat mengerikan," gumam Nathan sebelum meninggalkan kamar Michael.


Sementara itu, Michael yang ditinggalkan seorang diri kembali duduk lemas di atas sofa. Dia meletakkan kembali pistolnya dan mengusap kasar wajah. Melihat Laura yang terus saja meronta, ada rasa tidak tega, sayangnya dia tidak bisa berbuat apa-apa. "Aku akan menjagamu apa pun yang terjadi. Kau pasti kembali padaku Laura," ucapnya lirih putus asa karena menyesal hampir saja membunuh Laura di bawah bisikan ghaib itu.


To Be Continue...

__ADS_1


__ADS_2