Istri Tawanan Tuan Arogan

Istri Tawanan Tuan Arogan
Chapter 62: Pesta Peluru


__ADS_3

Laura kembali ke kamar dengan menjinjing beberapa paper bag barang yang dibelinya tadi. Sebuah senyum mengembang di wajahnya tatkala memasuki ruangan itu. Siapa Lady? Hanya wanita tua yang mungkin sudah lupa caranya bersandiwara, dan Laura akan menggantikan sosoknya untuk debut di kategori akting terbaik dalam keluarga ini.


Suara bariton seorang pria tiba-tiba saja mengejutkan lamunan Laura yang tersenyum-senyum saat itu. "Kau kenapa, Sayang? Apa terjadi sesuatu?" tanya Michael mendekati sang istri, mencoba mengintip apa yang dibeli, tetapi dengan cepat Laura menyingkirkan benda itu.


"Bukan apa-apa. Seperti katamu, kita harus memberikan mereka sedikit pelajaran." Laura lantas duduk di samping Michael. "Ngomong-ngomong apa rencanamu selanjutnya?"


Bukan hal mudah bagi keduanya untuk saling percaya dan akrab seperti saat ini. Namun, perhatian Michael di saat merawat Laura tentu saja tak bisa dilupakan wanita itu begitu saja. Bukan suatu kerugian juga melangkah beriringan bersama Michael, lagi pula Laura sekarang tak memiliki apapun yang berharga untuk dipertaruhkan.


"Jika kita menunda waktu, mereka akan bergerak secara bersamaan, dan tentunya kita kewalahan menghadapi mereka. Setidaknya aku harus mengunjungi James Whale terlebih dahulu. Baru bisa menyingkirkan sisanya," ucap Michael menyibakkan anak rambut sang istri yang berkibar.


"Sisanya? Jadi selain mereka masih ada lagi?" tanya Laura memastikan.


Michael membenarkan pertanyaan Laura. "Mereka berkolaborasi dengan baik. Saling terikat karena keuntungan yang mereka dapatkan dari masing-masing posisi tak main-main, sedangkan Papa adalah sosok yang selalu menggagalkan rencananya. Terlalu berat beban yang Papa emban selama ini di militer."


Laura terdiam, mulutnya seakan terkunci rapat saat membahas Argon. Ya, sebagai seorang anak, sama halnya dengan sang ayah, tak tahu bagaimana perasaan satu sama lain. Pasti berat bagi Aragon memendam semua sendirian di bahu tuanya, sama seperti Laura. Mungkin inilah takdir Laura, menjadi pundak bagi Argon untuk berbagi suka duka, seperti yang kini Michael lakukan.


"Kapan kita bergerak mengunjunginya?"

__ADS_1


"Besok, aku akan berangkat pagi dan menjalankan semuanya secepat mungkin agar bisa segera kembali."


"Kau?" Laura berdiri dari posisinya. "Jadi, maksudmu kau tidak berniat membawaku?"


"Sayang, kau baru saja pulih. Mana mungkin aku tega membawamu? Bagaimana kalau sampai terjadi sesuatu denganmu nanti? Tenanglah, Papa juga tidak ikut, kondisinya pun baru saja pulih, tidaj baik bagi kalian jika harus turun tangan." Michael meraih tangan sang istri dengan lembut. "Kumohon kali ini percayalah padaku. Aku akan menyelesaikan semuanya untukmu."


"Tapi, Mich. Aku juga ingin ikut! Bagaimana kau bisa bersenang-senang sendirian tanpa mengajakku, hah?" Laura membentak sang suami dengan sangat keras. Bagi sosok Laura yang sebatang kara, pertempuran merupakan alternatif terbaik untuk melampiaskan amarahnya tanpa harus khawatir jika dia melukai orang yang tidak bersalah.


Lagi pula, sudah terlalu lama dia berdiam diri, sedangkan apa yang mereka perbuat selama ini tak mampu lagi untuk di maklumi. Tentu saja Laura berniat membantai dengan tangannya sendiri.


"Bersenang-senang? Apanya yang senang, kita itu sedang mau menyerang tempat mereka, bukan mengajaknya berpesta." Michael menggeleng kecil. Sebagai seorang pria tentu saja dia tak mengenal karakter wanita di depannya yang kini telah berubah sepenuhnya dari sebelumnya.


"Iya itu. Pesta peluru. Seharusnya kau juga mengajakku, dasar tidak adil. Tega sekali kau memberi harapan setelah itu mengempaskan begitu saja. Ibarat mengajak jalan-jalan tapi di saat aku sudah bersiap kau malah pergi sendiri. Dasar suami kejam."


Sontak Michael bingung dengan apa yang dikatakan sang istri. Apa hubungannya penyerangan dengan jalan-jalan. Bukankah seharusnya Laura tahu jika ini bukan tempat yang tepat untuk bermesraan.


"Sayang, jangan marah!" Michael masih berusaha membujuk sang istri. Namun, bukannya memerhatikan Laura malah mengabaikan bujukan suaminya.

__ADS_1


Michael menghela napas berat, semoga dengan mengatakan semua ini Laura mau mengerti. "Sebenarnya saat menyelamatkanmu dari Betharia aku melihat Catherine dan Zack juga melarikan diri dari sana. Aku benar-benar khawatir sesuatu terjadi padamu jika kau kembali ke sana. Kita tidak tahu apakah mereka masih hidup, sudah tewas, atau berubah. Kumohon kali ini menurut ya?" bujuk Michael berusaha meyakinkan sang istri.


"Terserah kau saja." Dengan kesal Laura melangkah menjauh untuk membersihkan diri, meninggalkan Michael yang masih bingung cara menghadapi kemarahan seorang wanita yang ternyata membingungkan.


Dalam bibir Laura mengatakan terserah, tetapi di hatinya siapa yang tahu. Tentu saja dia tidak akan bisa tinggal diam begitu saja meskipun Michael sudah memperingatkannya. Sebagai seorang wanita, dia punya seribu satu cara agar bisa ikut andil di permainan itu.


Catherine dan Zack, dua orang yang menggiringnya hingga mengalami kecelakaan maut itu. Tentu Laura tidak akan tinggal diam melihat mereka berkeliaran, apalagi Zack, sedangkan Catherine. Entahlah, rasanya sulit sekali membenci wanita yang sudah merawatnya seperti saudara sendiri itu. Terlalu banyak kenangan indah bagi mereka berdua, tetapi Laura sendiri tak menyangka jika ternyata semua hanyalah sandiwara belaka.


Sesaat kemudian, Laura keluar dari kamar mandi dengan pakaian tipis yang baru saja dibelinya. Sebuah pakaian dinas seorang wanita dengan motif ular kobra melekat di tubuh, menampakkan setiap lekuk bagian inti yang tentu saja menyebabkan Michael menelan ludahnya sendiri.


"Sayang, apa kau sengaja memakai itu untuk merayuku dan membawamu pergi besok?" tanya Michael.


"Merayu? Oh tidak. Apa kau tidak merasa gerah, Mich? Oh Tuhan kenapa malam ini panas sekali. Haruskah aku tidur tanpa busana?" ucap Laura melangkah menuju sisi lain ranjang dan langsung meletakkan diri di samping sang suami. Dia bahkan menyalakan pendingin ruangan, hingga semilir hawa dingin seketika merasuk ke kulitnya yang hanya berlapis kain tipis. "Aku mengantuk sekali hari ini, sepertinya aku harus segera tidur."


Dengan sengaja Laura tak berselimut dan menghadap pada suaminya. Padahal tubuhnya tampak begitu menggoda saat itu, sungguh menggoda iman seorang Michael setelah sekian lama.


Lekuk tubuh indah layaknya ayam tanpa bulu yang kini terpampang nyata di sampingnya, tentu saja menggoyahkan pertahanan Michael. Dia meletakkan ponsel, dan semakin mendekat hingga berbisik di telinga istrinya dengan tangan bergerilya ke mana-mana. "Sayang, kenapa tidak bilang kalau kau menginginkanku malam ini? Bagaimana kalau kita mulai permainan? Aku akan membawamu pergj bersamaku besok," bisik Michael menggoda.

__ADS_1


"Aku sedang datang bulan, Mich jangan macam-macam!" ucap Laura sambil tetap memejamkan mata tanpa memerhatikan ekspresi suaminya. Dia mematahkan segala bayangan erotis dalam benak Michael hanya dalam satu kalimatnya.


To Be Continue...


__ADS_2