Istri Tawanan Tuan Arogan

Istri Tawanan Tuan Arogan
Chapter 89


__ADS_3

Perasaan terluka akibat harus menuruti keinginan sang ibu, serta tuntutan beban hidup yang terlalu besar menyebabkan sisi gelap dalam diri Nathan turut bangkit. Dia yang terlahir dengan karunia sebagai seorang wanita, tetapi harus mengubah meskipun tak menginginkan membuatnya merasa sangat terhina.


Awalnya dia sendiri bingung, kenapa sejak kecil harus berpakaian layaknya bocah laki-laki, padahal sesungguhnya dia adalah perempuan. Namun, di bawah ancaman ibunya, yang mengatakan jika keduanya bisa mati kalau sampai orang lain tahu fakta sebenarnya, membuat Nathan kecil tak berani berbuat macam-macam.


Sesekali dia juga ingin bermain boneka dan masak-masakan. Berbelanja, serta memakai gaun indah khas putri kerajaan. Sayangnya semua hanyalah angan semata, dia akan terkena pukul kalau sampai sang ibu tahu anaknya nekat membeli mainan perempuan.


Semakin bertambahnya usia, semakin Nathan tak mampu menahan dirinya. Perasaan menyukai pria tentu saja, rasa manja dan ingin dilindungi seperti seharusnya membuatnya mencoba mendekatkan diri pada Argon juga Michael. Berusaha menjadi sosok manja di bawah kasih sayang sang ayah. Hal itu pula yang mampu mengobati sedikit rasa sakitnya.


Nathan selalu iri melihat wanita cantik dengan segala aksesori melekat di tubuhnya. Menginjak remaja, terkadang dia diam-diam membeli apa yang diinginkan. Namun sayangnya, tak bisa dikenakan.


Hingga pada puncaknya, Nathan harus menerima kenyataan jika sang ibu mengubahnya menjadi transgender, sebab takut pertumbuhan bentuk tubuh Nathan akan berubah seiring bertambahnya usia dan orang lain akan menemukan apa rahasia besar itu.


Alih-alih menjalani pendidikan seperti yang orang lain ketahui. Nathan sebenarnya di kirim untuk prosedur perubahan diri itu, sedangkan untuk nilai akademis yang selama ini diperlihatkan, berasal dari seorang yang selalu menggantikan.


Merasa semua harapan hancur saat itu juga. Nathan memilih berpura-pura bodoh, acuh, serta tak mencoba untuk tidak tertarik dengan dunia yang digeluti Argon dan Michael.

__ADS_1


Akan tetapi, apa yang dialaminya terlalu menyakitkan untuk diabaikan begitu saja dan hal itu pula yang membuatnya berubah pikiran. Seandainya dia lebih kuat, mungkin semua ini tidak akan terjadi padanya. Seperti haknya sang kakak yang mampu bertahan di bawah tekanan Nenek Eli dan ibunya.


Lambat laun, diam-diam dia melihat bagaimana sang ibu berusaha menahan diri untuk tidak membantah apa yang dikatakan Nenek Eli. Meskipun, Nathan jelas tahu jika sang ibu selalu ditindas oleh wanita tua itu, tetapi Lady hanya bisa menahannya, mengingat rencana besar mereka tidak boleh gagal hanya karena sebuah kesalahan.


Tak ingin perjuangan sang ibu yang telah mengubahnya sia-sia. Lagi pula dia sudah terlanjur menjadi seorang pria seutuhnya dan tidak bisa kembali semula, Nathan pun memilih mengambil langkah yang salah dengan bekerja sama, serta mendukung penuh jalan yang diambil sang ibu. Meskipun artinya dia harus mengkhianati diri sendiri karena tanpa sadar kasih sayang yang diberikan Argon selama ini terlanjur tertanam dalam dirinya.


Ibarat pepatah, sudah kepalang basah, lebih baik terjun sekalian. Lagi pula tidak ada ruginya bagi Nathan melanjutkan jalan sang ibu. Melihat keberhasilan rencana mereka tinggal selangkah lagi. Apalagi penghinaan orang-orang di sekitarnya yang menganggap dia pria gemulai, membuatnya sakit hati.


Seandainya Nathan bisa, ingin sekali dia berteriak dan menunjukkan pada mereka jika dia memanglah seorang wanita. Naluri menyukai barang-barang feminim masih melekat begitu erat dalam dirinya, mau bagaimana pun dia mencoba menyanggah semua itu, yang namanya sifat manusia tentu tak dapat diubah begitu saja.


Nathan terdiam, dia sendiri tak tahu ke mana arah kemarahannya saat ini. Sesungguhnya dia hanyalah orang yang psikologisnya tengah terganggu karena semua beban hidup yang dia tanggung seorang diri itu terlalu berat. Hal itu pula yang menyebabkan mentalnya sedikit terganggu, apalagi tidak ada tempat baginya untuk berkeluh kesah.


"Entahlah! Yang pasti aku akan menjadi satu-satunya keturunan keluarga Wilson yang tersisa dan menikmati segala kemewahan yang ada beserta kekuasaannya," jawab Nathan mengucapkan hal yang selalu saja di tanamkan dalam pikirannya oleh sang ibu.


Laura merasa kasihan dengan apa yang dialami Nathan. Tentu saja, bagaimana seseorang bisa mengubah ciptaan Tuhan begitu saja, terlebih lagi hal itu merupakan sesuatu yang tak dikehendaki oleh orang itu sendiri. Dipaksa di usia yang masih cukup belia, menahan rasa sakit seorang diri demi bertahan di bawah tekanan. Miris memang nasib yang dialami Nathan.

__ADS_1


Tanpa sadar Laura merasa hidupnya lebih beruntung di bandingkan Nathan. Meskipun tak memiliki ayah, setidaknya ibunya tidak pernah memaksakan kehendak. Sekali pun itu hanya untuk sekedar memasak, hal yang paling di bencinya.


Akan tetapi, transgender di hadapannya saat ini. Entahlah wajah putus asanya terlihat begitu jelas, membentuk menjadi seorang yang tak berperikemanusiaaan.


"Bodoh. Kau masih terlalu polos, karena itulah kau hanya bisa menerima ketika ibumu memerintahkan. Pemimpin King Master? Kau hanya akan menjadi orang yang kesepian setelah mendapatkan semua itu. Ambisimu terlalu besar Nathan, ah salah. Haruskah aku memanggilmu Nathi saja? Ku rasa nama itu lebih cocok untukmu," ucap Laura mencoba memprovokasi, padahal sesungguhnya dalam hati kecil, dia merasa cukup kasihan pada adiknya itu.


"Kakak Ipar!" Dengan murka Nathan mendekati Laura, tangan yang awalnya memegang pistol berganti mengarahkan sebuah belati tepat di depan dada Laura. Namun, dengan sisa tenaga yang ada Laura mencoba menahannya. "Aku membiarkanmu hidup karena masih membutuhkan bantuanmu, Kakak Ipar. Ku pikir kau berbeda dengan mereka, ternyata sama saja. Menjengkelkan!"


Lagi-lagi senyum iblis yang sama terlihat begitu jelas di wajah Nathan. Dia semakin dalam menekan belatinya, tetapi Laura masih terus berusaha menahan. "Kau tahu apa yang ku pelajari di daerah Betharia? Tanpa lidah, kau tidak akan bisa menceritakan apa yang kau rasakan pada orang lain, dan aku akan membawa nyawa terakhirmu ke markas King Master. Dengan begitu, mereka akan mengakuiku nantinya. Pegang dia!" perintah Nathan pada Nathalie. "Anggap saja sebagai balas budi karena aku sudah mengeluarkanmu dari tempat itu dulu!"


Nathan semakin mendekatkan belatinya, sedangkan Laura mencoba menahan tangan itu, dan Nathalie memegang kepala Laura yang terus bergerak sejak tadi, padahal kondisinya sudah sangat lemah saat itu.


Akan tetapi, tampaknya nasib Laura memang memiliki keberuntungan yang baik. Sebuah tembakan dari arah lain, membuat belati di tangan Nathan terlepas hingga dia pun mengumpat kesal. "Siapa yang berani-beraninya mengacaukan ku, hah?"


Kondisi yang lemah membuat Laura hampir saja kehilangan kesadaran. Samar-samar dia melihat bagaimana seseorang berjalan ke arah mereka. Sosok yang sangat dia kenal, meskipun penglihatannnya mulai buram. "Catherine," ucap Laura sebelum akhirnya tergeletak di lantai dengan deru napas semakin sesak.

__ADS_1


to be Continue...


__ADS_2