Istri Tawanan Tuan Arogan

Istri Tawanan Tuan Arogan
Chapter 94


__ADS_3

Berhari-hari Laura menggila dan menjadikan Nathan sasaran amukannya. Dia melatih sang adik dengan sangat ekstrim, bahkan tanpa mengenal lelah. Meskipun berulang kali Nathan mengeluh, nyatanya tak menyurutkan niat Laura untuk terus mengajarkan segala kemampuannya.


"Hei! Lakukan yang benar! Bukankah kau bilang mau jadi pemimpin di sini! Apa yang bisa kau lakukan kalau kau selemah ini?" Dengan kasar Laura membetulkan posisi kaki Nathan yang tengah berlatih bersama Leo kala itu.


Ingin rasanya Nathan menangis, melihat sang kakak ipar menampakkan taringnya, semenjak kedatangan pengacara sialan itu. Lagi pula, kenapa juga kakaknya memberikan wasiat perceraian yang cukup mengerikan. Menjadikan Nathan sasaran kemarahan singa betina saja.


"Aku tidak minat lagi menjadi pemimpin di sini, Kakak Ipar. Lebih baik melanjutkan kuliahku lagi saja sambil berjualan kacang goreng," gumam Nathan sambil mengerucutkan bibir.


"Dasar pemalas! Cepat berlatih! Jangan sampai aku melihatmu minum, meskipun hanya seteguk air, kalau sampai kau belum bisa mengalahkan Leo!" Laura meraih botol minuman yang memang disediakan untuk orang-orang yang berlatih.


Padahal tenggorokan Nathan sudah terasa kering. Namun, Laura masih saja selalu menyiksanya. Dia berusaha menutupi kekecewaan dengan melatih adiknya. Bukan tanpa alasan, Laura pasti memiliki pemikirannya sendiri.

__ADS_1


Tak jauh dari tempat Laura, berdirilah seorang pria paruh baya. Dia selalu menyaksikan apa yang terjadi di markas ini tanpa terlewat sedikit pun.


Perlahan langkahnya mendekati sang putri. Dia berdiri di samping Laura sambil memasukkan kedua tangan ke saku celananya. "Apa yang ingin kau lakukan selanjutnya?" tanya Argon tanpa basa-basi.


Untuk sesaat tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Laura. Sebagai seorang pria yang telah banyak memakan asam garam kehidupan, tentu saja Argon tahu tujuan Laura melakukan semua itu.


"Di mana dia menghilang?" Bukannya menjawab, Laura malah berbalik bertanya pada sang ayah.


"Kau ingin mencarinya?"


Apanya yang disebut mencari, Laura hanya ingin memberikan ganjaran setimpal, pada pria yang telah berani mencampakkannya begitu saja. Seandainya nanti, Michael berani datang dalam bentuk sebuah peti mati. Pasti Laura sendiri yang akan membakarnya karena telah berani mengingkari janji dengan meninggalkannya.

__ADS_1


Kebisuan Laura seolah mampu menjawab segalanya. Argon menghela napas berat, dia sendiri sudah mengerahkan beberapa anak buahnya, tetapi tetap tidak mendapatkan berita apa pun. Setidaknya bukan kabar buruklah yang datang pada mereka, sehingga masih memberikan setitik harapan di hati pria tua itu.


"Setelah melewati perairan laut Oyster, terdapat sebuah negara di mana semua peristiwa itu terjadi. Laut itu merupakan tempat di mana perbatasan ketiga negara berada dalam satu wilayah. Papa, mungkin tidak bisa memprediksi bagaimana kondisi Michael saat ini. Tapi mengingat tidak adanya kabar buruk yang datang pada kita. Semoga benar-benar menjadi sebuah keajaiban nantinya. Dari sini, Papa juga memerintahkan beberapa anak buah untuk menyebar dan mencari Michael."


Sejenak Argon menghentikan kalimatnya, dia menoleh kepada sang putri yang kini masih termangu, bergeming, dan tak bereaksi sama sekali. "Mungkin cintamulah yang akan membawa kalian kembali dipertemukan dan hidup bersama nantinya."


Untuk sesaat Laura menoleh pada pria paruh baya di sampingnya. Nyeri di hati bagaikan sebuah belati yang menyayat organnya secara perlahan. Tak lagi mampu membendung duka yang melanda, Laura menghamburkan pelukannya untuk pertama kali pada Argon. Air matanya tumpah ruah, tak lagi ditahan. Getaran di tubuh membuatnua berguncang hebat. "Papa, restuilah aku untuk mencari suamiku!" ucap Laura di sela sesenggukan.


Argon mengusap lembut kepala putrinya. Hal terberat dalam hidup manusia adalah kehilangan pasangan, yang seharusnya ada di saat-saat terpenting. Apalagi Laura tengah mengandung benih Michael. Argon pun tidak ingin membiarkan Laura memiliki nasib yang sama dengan Sanca. Melahirkan seorang anak tanpa suami di sampingnya.


"Pergilah, Nak! Bawa beberapa orang bersamamu dan kabari Papa jika kau memerlukan bantuan. Kau berhak bahagia dan meraih kembali cinta dari suamimu. Papa yakin, dia tengah menunggumu di suatu tempat untuk membawanya kembali."

__ADS_1


To Be Continue


__ADS_2