
Setelah meninggalkan Michael, Laura duduk seorang diri di taman belakang. Siapakah orang yang benar-benar mengkhawatirkan dirinya? Mungkin hanya sang ibu yang dengan tulus melakukan semua itu. Lalu, siapa orang yang berniat memanfaatkannya. Entahlah, bukankah semua orang yang ditemui selama ini selalu memiliki niat lain di balik tindakan malaikat mereka.
Mengingat akan semua itu, seolah sebuah pedang tajam menghunus tajam hati Laura tanpa permisi. Perasaan dikecewakan, dikhianati, dan dimanfaatkan terasa mencincang kepercayaannya.
Tanpa sadar buliran hangat mengembun tertahan di pelupuk mata Laura, pedih. Akan tetapi, tidak dia biarkan jatuh begitu saja dengan mudah. "Aku juga ingin percaya. Tapi terlalu sering kalian melukaiku. Aku bukan wanita tangguh. Rasa juga sangat melelahkan berada di posisi ini setiap waktu. Aku pun ingin berhenti dan mencoba mempercayai. Tapi, bisakah kalian bersungguh-sungguh selalu dipihakku? Entah apa pun nanti yang kulakukan dan kenyataan siapa diriku," batin Laura tersenyum getir.
Laura memejamkan mata untuk sejenak, menetralkan kembali emosi yang merasukinya sejak tadi. Hening suasana taman menciptakan rasa nyaman, tenang, dan damai. Kepalanya seolah kembali tersiram air dingin, sejuk dan menyenangkan.
Namun, tak berlangsung lama karena sebuah langkah kaki terdengar mendekat ke arahnya. "Ayo kita berangkat!"
Ajakan Michael sontak mengubah arah pandang Laura dan membuka kelopak matanya. "Berangkat?" tanya Laura memastikan pendengarannya tidaklah salah.
"Kita akan kembali ke kediaman Wilson hari ini. Aku sudah meminta para pelayan mengemas barang-barangmu." Michael tersenyum. Dia tidak menampakkan kemarahan seperti sebelumnya.
"Kediaman Wilson? Kenapa mendadak?" protes Laura.
"Kau sendiri yang pergi sebelum aku mengatakannya. Lagipula, kau selalu memotong ketika aku berbicara."
"Alasan." Laura merajuk dan beranjak. Dia berniat meninggalkan taman tersebut, tetapi tangan kekar Michael dengan lembut menghentikan tangannya dan membawa tubuh mungil Laura ke dalam dekapan.
"Mungkin kau terlalu muak dengan janji yang terucap. Tapi, aku akan membuktikan, jika kau memiliki aku dalam hidupmu dan tak akan meninggalkanmu, apapun yang terjadi. Cukup diam, dan lihat pembuktianku padamu."
__ADS_1
"Lalu, kenapa kita kembali ke kediaman Wilson?"
Michael membalikkan tubuh Laura, hingga keduanya pun saling berhadapan saat ini. "Sudah cukup bagi kita bersembunyi. Dengan kembali ke keluarga itu, mereka yang terlibat dengan segala permasalahan antara kau dan ayah, juga diriku akan muncul. Mereka tidak akan tinggal diam melihat kita bersatu."
Benar apa yang Michael katakan. Tidak ada gunanya bersembunyi terlalu lama, pembalasan ini belum selesai untuk mereka. Kali ini Laura harus lebih berhati-hati dalam bertindak. "Bagaimana dengan Ibu dan Nenekmu?"
"Bagaimana kalau kita bermain-main dulu dengan mereka? Lagi pula mereka memiliki hubungan yang baik dengan Nathan. Hanya saja jangan terlalu kejam, kecuali jika mereka mengusik kita lagi."
Laura mengangguk paham, Nathan juga sudah bersusah payah untuk menyelamatkannya dan hampir kehilangan nyawa. Setidaknya, dua wanita itu berubah menjadi lebih baik mungkin lebih dari cukup. Hanya perlu memberikan mereka pelajaran kecil nanti. "Baiklah. Tapi, aku ingin pergi ke pusat perbelanjaan dulu."
"Ayo!" Michael dengan bangga menggandeng tangan Laura.
Sepasang suami istri tersebut dan Argon pergi menggunakan kendaraan yang berbeda karena tidak mungkin sang ayah mengikuti kencan pertama keduanya. Dia pun juga pernah muda, sehingga memilih memberikan waktu agar Laura dan Michael semakin dekat lagi.
"Hanya ingin cuci mata. Mataku terlalu kotor beberapa bulan ini," jawab Laura santai.
Michael hanya menghela napas kasar. Biasanya dari yang pengalaman sang adik, seorang wanita mengajak pria ke pusat perbelanjaan tujuan utamanya hanyalah menjadi mesin uang berjalan. Kadang malah alih profesi sebagai kuli pembawa belanjaan. Untungnya Michael bukanlah pria yang pelit dan sudah siap mengeluarkan beberapa kartu andalan yang tentu membuat wanita terkesima.
Keduanya berjalan melewati beberapa kios. Tidak seperti apa yang Michael bayangkan, tujuan utama Laura datang ke mari adalah guna mengerjai suaminya itu.
Toko-toko barang mewah sesekali Laura hampiri, tetapi dengan sengaja dia hanya mencoba dan tidak membeli. "Tidak ada yang cocok untukku. Ayo pindah, Mich!"
__ADS_1
"Sebentar," ucap Michael. Pria itu lantas mendekati pelayan yang tadi melayani istrinya dan menyerahkan sebuah kartu. "Tolong bungkus apa yang dicoba istriku!"
"Apanya yang bungkus?" Laura mengambil kartu yang hampir berpindah tangan itu dengan segera untuk ke sekian kalinya. "Aku tidak suka barang-barang di sini. Jadi untuk apa membelinya? Kita pindah toko lain."
Dengan sengaja Laura menyeret tangan sang suami keluar dari toko barang bermerk tersebut. Tentu saja hal itu menyebabkan beberapa karyawan mulai mencibir dan mencap mereka sebagai pasangan tidak mampu yang berlagak.
Apalagi berkeliling sejak tadi, tidak ada satu pun tas belanja barang ternama yang mereka jinjing dan hanya ada sebuah kantong plastik bertuliskan toko termurah di pusat perbelanjaan tersebut.
"Sayang, kenapa melarangku membelinya? Apa kau tidak dengar mereka menggerutu akibat tingkahmu?" protes Michael. Walaupun ada rasa malu, tetapi baginya lebih membingungkan sikap Laura saat ini.
Apalagi penghinaan para pelayan rendahan terhadap istrinya, tentu saja Michael tidak terima dan ingin sekali menyumpal mulut jahanam itu dengan uangnya. Namun, sepertinya Laura tak berniat membalas sama sekali dan malah menikmati setiap penghinaan wanita lain itu.
"Diamlah! Aku melakukan semua ini agar mereka menolakmu ketika kau membawa wanita lain kemari. Kita kunjungi semua toko supaya mereka mengenalmu sebagai pria miskin." Laura beralasan, sedangkan Michael hanya bisa menggeleng kecil dengan tingkah istrinya.
"Terserah kau saja."
Mereka kembali berjalan menelusuri setiap toko dan tibalah di tempat keramat para wanita penggoda iman. Michael menghentikan langkahnya sebelum memasuki tempat itu. "Jangan bilang kau akan kabur setelah mencoba pakaian! Karena jika kau lakukan itu, aku akan membeli seisi toko ini sekalian!" ancam Michael.
"Kali ini tidak." Laura berjinjit untuk membisikkan sesuatu di telinga sang suami. "Apa kau tidak memerhatikan kalau semua pakaian dalamku sangat jelek? Para pelayan itu memilih sesuatu yang buruk dan bukan seleraku."
Tanpa melihat reaksi lanjutan Michael, Laura langsung masuk begitu saja. Binar bahagia tentu saja terpancar di wajah Michael, tak sabar menantikan saat di mana sang istri mencoba pakaian dinas baru itu di depannya.
__ADS_1
"Haruskah aku juga mencari obat kuat malam ini?" batin Michael tersenyum lebar.
To Be Continue...