
Malam semakin dingin, sepasang suami istri saling merapatkan dekapan dalam tidur mereka. Apa yang terjadi di masa depan tidak ada yang tahu akan bagaimana, dan yang sudah terjadi di masa lalu tidak bisa lagi diubahnya. Mereka hanya bisa menikmati masa-masa damai yang nyatanya tak berlangsung lama karena ombak, serta badai tampak segera datang menerpa secara bersamaan nantinya.
Entah bagaimana sepasang suami istri itu dapat melewatinya. Namun, kini keromantisan yang terjalin menjadi salah satu kekuatan bagi mereka untuk bersatu dengan kompak melawan apa yang menghalangi di depan dengan berani.
Hari masih gelap, waktu pun belum menunjukkan tanda-tanda fajar akan tiba. Namun, dering ponsel di atas nakas milik Michael terus saja berbunyi. Sayangnya, pria itu tidur seolah mencicil mati, sehingga sama sekali tak terusik akan suaranya.
Berbeda dengan Laura yang merasa terganggu akan ponsel sang suami sejak tadi, hingga membangunkannya dari tidur. Perlahan dia mengerjapkan mata, di mana tangan suaminya masih mendekap erat tubuh mungil itu, seakan tak berniat melepaskan walau hanya sekedar membiarkannya bernapas. Dasar pria, ketika sudah mencintai maka perlakuannya pun berubah seratus delapan puluh derajat dari sebelumnya.
"Mich, bangun." Suara parau khas orang bangun tidur dengan salah satu tangan Laura yang mencoba mengguncang tubuh suaminya, nyatanya tak membuat pria itu segera tersadar dari mimpi. Bukannya melepaskan, Michael malah semakin erat melingkarkan tangannya, merasakan sensasi hangat yang kini menjadi kewajiban agar mimpi buruk tak datang.
"Sebentar lagi, Sayang. Biarkan aku memelukmu lebih lama lagi," gumam Michael tidak jelas.
"Mich, bangun. Ponselmu berdering sejak tadi," ucap Laura masih berusaha membangunkan sang suami. Guncangan yang kuat mau tak mau menyebabkan nyawa pria itu kembali ke alam sadar.
"Emth." Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya Mich pun berusaha membuka mata. Mimpi indah yang baru saja dia rajut, terpaksa harus ditunda terlebih dahulu karena urusan dunia yang tidak tahu akan terjadi apa ketika mereka membuka mata.
"Ponselmu berdering. Coba angkat dulu! Siapa tahu penting," ucap Laura sedikit emosi. Mungkin karena terlalu lelah seharian bekerja, hingga suaminya tampak begitu pulas menikmati tidur.
Dengan malas, tangan Michael terulur, meraba, serta meraih ponsel yang sedari tadi tak berhenti berdering. Dia pun menggeser bulatan hijau dan meletakkan benda pipih tersebut di samping telinganya dengan nyawa yang baru terkumpul seperempatnya dan mata tertutup. Awas saja kalau sampai tidak penting dan berani mengganggunya.
Suara panik seseorang di seberang panggilan membuat Michael seketika membuka kedua matanya lebar-lebar. "Master, salah satu kapal kita hilang perairan Oyster."
__ADS_1
Seakan sengatan listrik baru saja mengalir di tubuh Michael. Dia pun segera beranjak dari posisinya dengan wajah datar dan kedua mata yang terbuka lebar. "Apa yang terjadi?"
"Seharusnya kapal itu sudah tiba di dermaga satu jam yang lalu. Tapi, ternyata mereka hilang kontak ketika melewati perairan Oyster," jawab sang anak buah. Beberapa saat ini, mereka memang tengah membeli persenjataan dari luar dalam jumlah besar. Namun, tampaknya ada yang berani mengusik karena tidak mungkin semua itu terjadi secara kebetulan.
"Cari tahu situasi dan posisi mereka saat ini! Aku akan segera ke sana."
"Baik, Master." Michael segera mematikan sambungan telepon, sedangkan sang istri yang melihat raut wajah suaminya pun ikut terjaga.
"Apa terjadi sesuatu, Mich?" tanya Laura khawatir.
Michael mengangguk. "Maaf, Sayang. Tapi sepertinya aku harus segera pergi. Kapal pengiriman senjata hilang kontak, aku harus ke sana sekarang. Kau tidurlah lagi." Sebuah kecupan mendarat di dahi Laura tanpa di minta, sedangkan sang istri hanya bisa pasrah menatap kepergian suaminya.
Jika sampai barang-barang itu jatuh ke tangan orang yang salah. Maka hancur sudah rencananya untuk memperkuat pertahanan perbatasan sesuai dengan perintah sang ayah. Terlebih lagi bagi mereka yang memiliki nyali tinggi hingga mengancam nyawa orang tak bersalah dengan senjata sebanyak itu. Michael tak hanya rugi secara materil, bahkan kondisi ke depannya dia sendiri tidak dapat membayangkannya. Belum lagi biaya yang sudah dia keluarkan untuk membayar semua benda berbahaya itu. tentu saja bukan jumlah yang sedikit.
Sementara itu, Laura yang ditinggalkan seorang diri hanya bisa menatap dari kamarnya ketika beberapa mobil tampak bergerak meninggalkan pelataran mengikuti sang suami. Dia tidak mungkin bisa kembali lelap dalam kondisi seperti ini. Bukan hanya merasa khawatir akan Michael, tetapi firasat buruk kembali menerpa dirinya, seakan sesuatu yang besar akan kembali mengobrak-abrik kedamaiannya.
"Semoga kau kembali dalam kondisi baik-baik saja, Mich," ucap Laura lirih dengan tangan yang mengusap kalung di lehernya, seandainya saja Laura bisa membantu meringankan beban sang suami. Dia pasti dengan senang hati bersedia melakukan apa pun.
Demi menghilangkan rasa khawatir yang mendera sejak kepergian suaminya. Laura memilih mencari udara segar dengan berjalan-jalan keluar. Padahal hari masih sangat gelap, tetapi wanita tersebut tidak takut menembus dinginnya malam dan berjalan setapak, membiarkan kakinya melangkah entah ke mana mereka ingin. Dia hanya mengikuti tubuh yang ingin bergerak itu secara alami.
Hanya berbekal pakaian tidur dengan sebuah hoodie hitam yang melekat di tubuh dan menutup kepalanya dia melangkah semakin jauh dari markas. Hingga tak lama kemudian, sayup-sayup Laura mendengar seseorang saling berbicara di suatu tempat.
__ADS_1
Laura dengan sangat hati-hati melangkah mencari sumber suara itu berasal. Suasana hutan yang dipenuhi dengan lolongan hewan liar membuat setiap bunyi yang ada di sana terdengar begitu jelas. Perlahan Laura bersembunyi di balik sebuah pohon rindang. Pandangannya menangkap di mana dua orang bersuara bariton tengah menghubungi pihak lainnya.
"Dia sudah pergi, Tuan. Situasi di sini sangat aman karena para petinggi mengikuti Master. Kita bisa mengambil alih kapan saja," ucap orang itu sontak membuat Laura tercengang. Apa ini sebuah konspirasi? Mereka menjebak dan menggiring agar Michael tidak ada di tempatnya. Lalu, berencana menyerbu King Master yang kini sedang kosong tanpa adanya pemimpin.
Sesaat kemudian, setelah berbicara tentang situasi di markas king master pria itu pun mematikan sambungan telepon.
Secara tak sengaja Laura menginjak ranting di belakang, hingga kehadirannya pun diketahui oleh mereka. "Siapa di sana?" teriak pria itu.
Dengan cepat layaknya angin melesat Laura bersembunyi, dia memanjat pohon sangat cepat hingga ketika kedua pria itu mendatangi pohon, tak ada apa pun yang mereka dapatkan.
"Mungkin hanya hewan liar lewat," ucap seorang pria meyakinkan temannya.
Mereka menoleh ke kanan dan kiri, tetapi tidak ke atas. Laura sampai mencoba menahan napasnya agar tidak ketahuan. Hingga dia pun melihat kedua orang itu pergi.
Laura turun dari tempat persembunyiannya, sayangnya lagi-lagi dahinya wanita itu harus mengkerut tatkala melihat seorang pria yang dia tahu tadi ternyata memasuki markas. "Mereka menanam mata-mata di sini," gumam Laura.
Dia pun memilih diam-diam mengikuti pria itu, mana tahu masih ada mata-mata lainnya. Kedua kaki Laura seolah tidak bisa diam berjalan ke sana ke mari dengan otak yang berpikir keras. Akankah mereka berusaha menyerang tempat ini karena Michael tidak ada?
"Jangan harap bisa bermain-main dengan Laura!"
To Be Continue ..
__ADS_1