
"Kau yakin tidak ingin melihatnya?" tanya Catherine ketika membereskan pakaian Laura.
Laura hanya menggeleng kecil, tatapannya melayang ke jendela luar. Usia kandungannya masih cukup muda dan harus dia jaga. Tak ingin kembali terluka karena orang-orang terkasihnya satu per satu menghilang entah ke mana. Laura memilih untuk tidak melihat sang anak melalui USG terlebih dahulu.
"Mungkin nanti, setelah Michael kembali," jawab Laura lirih.
Catherine hanya bisa mengangguk kecil sambil memasukkan barang-barang milik Laura ke dalam tas. Hari ini, dia dan Nathan memang sudah diizinkan pulang karena kondisi mereka pulih dengan cukup baik.
Perlahan Laura mengambil sebuah ponsel di sampingnya. Dia melangkah mendekati Nathan yang masih duduk di ranjangnya dan mengulurkan benda pipih tersebut kepada pemiliknya, setelah beberapa waktu ini di sita oleh Catherine untuk berjaga-jaga agar pria itu tidak menghubungi ibunya.
"Nah aku kembalikan. Kau bebas sekarang. Hidupmu milikmu, kau berhak memilih jalan yang benar-benar kau inginkan. Tapi, jangan lagi mau menjadi boneka ibumu dengan segala obsesinya. Kau berhak bahagia, aku tidak akan menahanmu lagi." Setelah mengeluarkan semua kata-katanya, Laura pun berbalik hendak melangkah pergi, sedangkan Catherine bersiap menjinjing barang Laura.
Akan tetapi, sedetik kemudian Nathan bersimpuh di belakang Laura sambil menundukkan kepalanya. "Kakak Ipar, izinkan aku ikut denganmu. Aku tidak ingin kembali lagi ke sana. Mama pasti akan bertindak lebih. Ajari aku menjadi kuat sepertimu dan Kak Mich."
Kuat? Ingin sekali rasanya Laura tertawa untuk saat ini. Dia sendiri merasa sedang di titik terapuh dalam hidupnya. Hormon kehamilan membuat hatinya mudah tersentuh, ingin sekali berada di dekat sang suami. Namun, sayangnya dia bahkan tidak bisa melakukan apa pun untuk membantu suaminya. Jangankan membantu, sekadar mencari kabar dan posisinya saat ini saja tidak bisa.
Laura menghela napas berat, meletakkan kedua tangannya di bahu sang adik dan mengajaknya berdiri. "Kau masih terlalu muda. Nikmatilah masa-masa remajamu sebelum kau menyadari betapa kejam dunia ini!"
"Tidak mau! Pokoknya aku mau ikut denganmu!" tegas Nathan melingkarkan tangannya di lengan Laura dengan paksa.
__ADS_1
Sejenak Laura mengalihkan pandangan pada Catherine di sisi lain seolah bertanya pendapat wanita itu. Akan tetapi, dia hanya mengendikkan bahu karena memang segala keputusan ada di tangan Laura.
"Baiklah. Aku akan membawamu ke markas King Master. Tapi, apa pun yang nanti ku perintahkan kau tidak boleh mengeluh sama sekali."
"Siap, Kakak Ipar!" Telapak tangan tangan Nathan letakkan di ujung pelipis layaknya memberikan penghormatan.
Mereka lantas segera keluar dari ruangan karena semua urusan memang sudah di selesaikan. Untuk sejenak Laura menghentikan langkah, di kala sayup-sayup pendengarannya menangkap sebuah siaran berita di telivisi yang terpasang di rumah sakit itu.
Dia berhenti dan menoleh untuk sebentar. Benar apa yang dikatakan Nathan jika kudeta dalam pemerintahan sungguh terjadi di negara ini. Namun, mereka yang bekerja sama dan menjadi pengkhianat bangsa lantas diusut serta diberhentikan secara paksa dari jabatannya.
Akibatnya pemerintah pun merombak ulang jajaran kabinet pendukung serta menghukum orang-orang yang berniat menghancurkan stabilitas negara serta mengancam Presiden secara diam-diam itu.
Dalam perjalanan kendaraan itu terasa begitu sunyi. Tak ada obrolan dari keempat orang tersebut, sesekali ketiganya saling melemparkan pandangan heran, sedangkan Laura selalu membuang wajah ke arah luar. Apa gerangan yang terjadi dengan wanita itu.
Hingga tak lama kemudian, binar kebahagiaan terlihat jelas di wajah Laura di kala melihat beberapa mobil hitam yang dikenalnya terparkir di pelataran.
Setelah kendaraan berhenti, tanpa mengucap sepatah kata pun dia segera berlari masuk. Namun, sayangnya sosok yang berada di dalam markas bukanlah seseorang yang dia nantikan selama ini. "Papa," sapa Laura sedikit kecewa.
"Laura, kau baik-baik saja? Mereka bilang kau dirawat." Argon segera memeluk putrinya. Dia baru saja tiba setelah menyelesaikan semua misi, tetapi sayangnya tak berhasil membawa putranya kembali. Namun, ketika tiba di markas, para anak buah mengatakan jika Laura sedang di rawat.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja." Laura terdiam kembali untuk beberapa saat, membiarkan pria paruh baya di hadapannya memeluknya. Akan tetapi, rasa penasaran tak mampu lagi dia bendung. "Papa, apa Mich—"
"Maafkan Papa, Laura. Maaf Papa tidak bisa membawa Michael kembali pulang." Belum sempat Laura menghabiskan kalimatnya. Permintaan maaf Argon seakan menjadi hantaman peluru yang bersarang tepat di dada Laura.
Rasa sesak seolah menghimpit pasokan udara yang semakin menipis. Pedih di mata, serta deru napas terasa begitu berat bagi Laura. Tidak mungkin Michael pergi meninggalkannya begitu saja.
Perlahan Laura melepaskan rengkuhan Argon sambil membendung air mata yang terasa begitu penuh. "Papa, aku masih lemah. Aku mau ke kamar dulu beristirahat."
Tanpa menoleh ke belakang setelah mengatakan keinginannya. Laura mencoba menguatkan diri melangkah menuju kamarnya, sedangkan Nathan maupun Catherine yang hendak menyusul, di tahan oleh tangan Argon. "Biarkan dia sendiri dulu."
Siapa pun orang yang melihat ekspresi Laura saat ini, pasti tahu betapa hancurnya dia. Di saat benih cinta mulai tumbuh dan berkembang dalam perutnya, kabar tak pasti tentang sang suami malah tiba-tiba saja menerpa.Benar apa yang dikatakan Catherine sebelumnya. Ternyata perasaan cinta itu terasa begitu berat dan kini Laura tak mampu lagi menahannya.
Tangan Laura bergetar menutup pintu setelah memasuki ruangan. Dia seketika beringsut di lantai dengan napas tersengal. Rasa sakit yang menghujam seakan tak memberikan jeda baginya untuk bernapas walau hanya sedetik. Apa kini dia tengah patah hati? Mengapa rasanya sesakit ini?
"Tidak mungkin. Michael pasti masih hidup. Dia tidak akan membiarkan aku menjadi janda muda." Sejenak Laura mendongakkan kepalanya, menatap langit-langit kamar sambil mencoba menguatkan diri. "Mich, lihat saja! Kalau sampai kau tak kunjung kembali. Aku akan pergi darimu dan kau tidak akan menemukan ku meskipun kau mencari ke lubang tikus sekali pun."
Lain di mulut lain di hati. Apa yang dikatakan nyatanya tak sama dengan perasaan Laura saat ini. Wanita itu menunduk, memeluk lantai yang dingin dengan hujan air mata mendera jiwa. Berulang kali dia menepuk dadanya. Kenapa sakit sekali?
Jemari Laura menggenggam erat liontin kalung yang melingkar di lehernya. Seandainya bisa memutar waktu, mungkin Laura tidak akan mengulangi kesalahan yang sama dengan membiarkan suaminya pergi. Dia akan memilih selalu mengikuti, meskipun ke kamar mandi sekali pun.
__ADS_1
To Be Continue...