
Pertarungan tanpa pemimpin utama menyebabkan Leo menjalankan rencana cadangan. Markas utama yang sudah berdiri sejak lama tidak boleh jatuh begitu saja. Nama baik Michael kini menjadi taruhan bagi mereka. Para penghuni di dalamnya juga harus menunjukkan pada pihak lawan, jika meskipun tidak ada pemimpin utama di tempat itu, mereka juga tidak mudah untuk di jatuhkan dan tempat tersebut tetap berbahaya seperti seharusnya.
Nantinya Leo akan membawa Laura bertemu dengan beberapa anak buah yang memang di khususkan untuk tindakan darurat. Masing-masing anggota King Master memiliki tugasnya sendiri. Bahkan pertahanan mereka pun sudah diatur sejak awal oleh Michael, hingga anak buah yang berjaga hanya tinggal menjalankan rencana saja. Soal hasilnya, semoga seperti apa yang diharapkan.
Mata-mata yang ditanam di tempat itu tentu saja sudah terendus sejak awal dan karena Laura yang tak sengaja menemukan penyusup itu. Maka pihak Leo dan kawan-kawannya pun bisa bergerak lebih cepat untuk membersihkan mata-mata di markas yang memang sudah diberikan tanda sejak awal olehnya.
Laura lantas di bawa ke sebuah ruangan setelah wanita itu berganti pakaian. Tidak mungkin baginya mengenakan baju tidur di saat seperti ini, hingga dia pun sama seperti yang lainnya sekarang. Menggunakan pakaian senyaman dan seaman mungkin sebagai salah satu fungsi perlindungan diri juga berlapis anti peluru, dengan rambut yang terikat ke atas.
"Aku tidak bisa selalu menjagamu. Kau pilihlah senjatamu sendiri," ucap Leo membuka sebuah pintu di mana terdapat banyak persenjataan lengkap yang memang dikhususkan untuk situasi darurat.
Laura pun bergerak, melihat dan mengamati apa yang menurutnya cocok di segala situasi. "Apa Michael juga sudah memprediksi siapa yang akan menyerang kali ini?" tanya Laura sambil mengangkat sebuah pistol dan mencoba memainkannya karena ada begitu banyak jenis senjata yang tersedia di sana.
"John. Dia salah satu kandidat paling memungkinkan untuk berkhianat," ucap Leo sambil mengambil sebuah senjata juga.
Tangan Laura terulur memasukkan beberapa senjata kecil jarak jauh ke setiap sisi tubuhnya yang tertutup pakaian. "Jika memang dia yang menjadi dalangnya. Maka sisakan nyawanya, dan biarkan aku yang menghabisinya." Laura meraih lagi sebuah pistol dan mengisi amunisi secara penuh lalu memasukkan ke dalam sakunya. "Aku memiliki urusan pribadi yang hanya bisa diselesaikan dengan kematiannya," lanjut Laura dengan sorot tajam.
Dendam yang terjadi di masa lalu belum terselesaikan. Bagaimana Laura bisa membiarkan pria itu mati dengan mudah nanti. Entah keberuntungan atau bukan, tetapi pertempuran kali ini jika memang Johnlah yang menyerang. Maka menjadi kesempatan bagi Laura untuk membalaskan dendam yang masih mengganjal di hatinya.
Leo hanya mengangguk, meskipun tidak tahu kenapa Laura berubah ekspresi ketika membahas John, tetapi asalkan wanita tersebut tidak melepaskan pengkhianat, maka Leo akan membiarkan Laura mengambil tindakan. Dia sendiri cukup penasaran apa yang akan wanita lakukan jika sudah menunjukkan taringnya.
__ADS_1
Beberapa anak buah Michael bukan tidak mengerti siapa John sebenarnya. Meskipun pria itu selalu di samping Argon, nyatanya ambisi akan kekuasaan dari pria itu terlihat jelas di mata mereka dan Argon sendiri selalu memperingatkan. Segala bentuk pengkhianatan di King Master selalu berujung kematian, hanya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk setiap balasan.
John diam-diam mencoba membujuk anak buah Michael maupun Argon agar berada di pihaknya. Namun sayang, beberapa pasukan khusus yang setia merupakan kalangan turun temurun dari Argon dan Michael bukanlah orang-orang yang mudah untuk di suap. Karena pada dasarnya mereka mengikuti Argon atas warisan kepemimpinan dari Aragon, sedangkan pihak seperti John tidak tahu akan hal itu, bahkan Michael sebelumnya juga tidak menyadari jika jalan yang dia pilih sama dengan ayah kandungnya.
"Baiklah. Aku akan memberimu kesempatan nanti. Tapi, jangan melepaskannya!" Untuk sesaat Leo menyernyitkan dahi melihat banyaknya senjata yang terselip di balik tubuh kecil itu. Layaknya gadis kecil yang baru saja memborong banyak bungkus permen coklat, padahal jelas-jelas semuanya merupakan senjata berbahaya. "Kau yakin bisa menggunakan semua itu?" ucapnya sedikit meremehkan.
Sontak kedua mata memicing melirik Leo di sampingnya. "Kenapa pria tua sepertimu selalu saja meremehkan gadis kecil sepertiku? Pantas saja tidak laku. Mana ada wanita yang mau dengan lelaki yang suka merendahkan orang sepertimu. Dasar perjaka tua!" gerutu Laura lantas bergegas keluar setelah dirasa senjata yang dia bawa lebih dari cukup.
"Hei gadis tengik! Jangan kira karena sebelumnya aku memanggilmu kakak ipar jadi aku takut padamu ya? Ingat aku juga lebih tua darimu!" teriak Leo menatap punggung Laura yang semakin jauh.
Laura hanya melambaikan tangan di balik punggungnya. Dia memang mengetahui data setiap kelompok Leo sejak mereka belum seakrab sekarang. Satu hal yang Laura sukai dari sosok seperti Leo. Di mana pria itu benar-benar memfokuskan dirinya untuk membantu Michael dan tidak ragu bertindak jika memang ada hal yang menghalangi atau mengusik suaminya itu. Sayangnya, terlalu sering di markas menjadikan Leo sosok bujang sejati karena Michael juga tak pernah mengizinkan wanita tinggal di markas, apalagi menjadi anggotanya.
Padahal saat ini menyalahi tugasnya dengan membiarkan Laura ikut campur. Bisa di pastikan jika terjadi sesuatu dengan gadis itu, dia akan dipenggal oleh Michael. Namun, tidak masalah, resiko bisa dia tanggung nanti setelah semuanya selesai. Leo juga ingin tahu seberapa pantas Laura bersanding dengan pemimpin yang mereka hormati.
__________________
Di sisi lain setelah berhasil menyingkirkan Nenek Elizabeth dan menguburnya di halaman belakang, Lady seolah menjadi penguasa di kediaman Wilson. Dia bahkan tak lagi segan atau menyembunyikan apa yang dilakukannya bersama John di hadapan beberapa pelayan yang mulai berlalu lalang menjalankan tugas.
"Kalian akan bergerak hari ini?" tanya Lady membantu John memakai jaket kulit di tubuhnya.
__ADS_1
"Iya. Michael tidak ada di markas itu. Hanya menyisakan gadis ingusan yang dia sebut sebagai istri. Anak buah mereka selalu saja arogan dan begitu setia. Kita lihat saja, jika di ambang kematian, mereka akan berbalik dan mengkhianati Michael atau memilih mati." John berbalik dan memegang bahu Lady sambil menatapnya seakan mereka sepasang suami istri.
Kisah cinta yang terjalin di antara mereka memang sudah berlangsung lama. Rasa kesepian akan pengabaian Argon membuat Lady berbalik. Dia yang awalnya hanya ingin memanfaatkan John untuk mengambil hati Argon malah terjebak dalam jerat pria itu sendiri.
Karena itulah, John juga selalu menuruti apa pun keinginan Lady, termasuk menyingkirkan setiap wanita yang berhasil meraih hati Argon. Dari luar John mungkin tangan kanan Argon, atas perintah Elizabeth sebab keduanya sama-sama di angkat dari jalanan.
Namun, ambisi yang kuat menjadikan John dan Lady pasangan gelap yang semakin serakah akan apa yang di miliki keluarga Wilson. Bahkan mencoba meraihnya dengan cara apa pun. Termasuk bekerja sama dengan James dan Bean untuk mengacaukan pemerintahan, bisnis, dunia mafia, maupun kedamaian keluarga itu sendiri.
"Aku berjanji setelah semua ini selesai. Tidak akan ada lagi hal yang akan mengusikmu. Kau adalah satu-satunya ratu di kediaman ini dan tak perlu lagi mendengar perintah orang lain. Apalagi berpura-pura baik. Wanita tua itu telah berhasil kita singkirkan. Tinggal sedikit lagi bagi kita untuk menguasai kekayaan dan kekuatan mereka. Setelah itu, kau juga bisa mempertahankan posisimu sebagai wanita berkelas tanpa perlu memikirkan akibatnya. Aku akan selalu ada di sampingmu."
Lady tersenyum puas. Dia memeluk erat pria yang selama ini menjadi pelipur laranya. Keduanya memiliki ambisi yang tinggi dalam menguasai kediaman Wilson, tetapi tak cukup sekedar menjadi Nyonya Wilson, melainkan seluruh harta, bisnis, serta semua kegiatan penghasil uang di dalamnya.
John lah pria yang selalu mendengarkan, segala keluh kesah Lady sejak masih pertama kali menginjakkan kaki di kediaman Wilson. Mereka benar-benar saling mendukung dan bertindak secara hati-hati hingga sampai di titik ini.
Bukan perkara yang mudah bagi keduanya mengelabui keluarga Wilson. Bahkan harus merelakan identitas asli anaknya demi tujuan yang kini tinggal di depan mata.
"Nathan juga bisa jadi dirinya sendiri setelah ini," ucap Lady mengeratkan pelukan.
To Be Continue...
__ADS_1