
Pagi hari keluarga Whale menjalani rutinitas seperti biasanya. James, Zack, Catherine, dan Laura sarapan bersama di sebuah meja. Mereka memakan menu masing-masing dalam keheningan serta tak ada obrolan selama beberapa saat. Namun, sedetik kemudian, James membuka mulutnya dari berkata pada Laura.
"Laura, kau masih muda. Bagaimana jika kamu melanjutkan pendidikanmu?" ucap James memecah keheningan pagi itu.
Spontan Laura tersedak makanannya. Dia segera meraih gelas minuman di hadapannya dengan tenang. Kalau memang berniat menyuruhnya melanjutkan pendidikan, kenapa tidak menawarkan sejak dulu? Jelas ini semua hanyalah sebuah alasan untuk menyingkirkan sosok Laura sesegera mungkin.
"Ayah, apa itu tidak terlalu cepat? Sepertinya Laura sangat terkejut dengan tawaranmu." Catherine yang masih belum bisa membaca rencana ayah saat ini mengusap punggung Laura perlahan.
Gadis itu hanya tersenyum tipis di balik tertutup mulutnya saat ini. "Apa, Paman ingin merekomendasikan universitas untukku?" Dia mencoba memahami situasi. Pandangannya tak lepas dari sosok James.
Pria itu jelas paham jika Laura terlalu cerdas untuk dibohongi. Dia yang sudah merencanakan pembalasan dendam bertahun-tahun lamanya tidak mungkin membiarkan rencananya hangus begitu saja. Kegagalan malam tadi, jelas kemungkinan besar dilakukan oleh Laura. Oleh karena itulah, James memutuskan untuk menyingkirkan gadis itu sesegera mungkin.
"Tidak, Cathy. Justru aku ingin bertanya sebaliknya pada, Paman. Apa, Paman memiliki rekomendasi universitas yang bagus untukku?" jawab Laura santai.
__ADS_1
Inilah yang sebenarnya James sukai dari sosok Laura. Gadis cerdas yang mudah memahami situasi. Bahkan ketika dia berniat membuangnya pun gadis itu paham dan malah memberikan senyum. Tentu saja hal tersebut membuatnya geram, tangannya semakin kuat memegang garpu dan pisau. Sorotnya pun tajam melirik ke arah Laura.
"Kau bisa pergi ke universitas terbaik di daerah Chameleon."
"Ayah, bukankah itu sangat jauh. Lagipula daerah itu terpencil. Kenapa tidak mendaftarkannya di kota saja?" Keberatan Catherine menyebabkan suara dentingan alat makan dari tangan James menggema. Gadis itu lantas terdiam dan tak mampu lagi berkata-kata setelah mendapatkan lirikan tajam dari sang ayah.
"Aku akan pergi ke sana, Paman. Cathy, kau tak perlu merisaukan aku. Aku akan baik-baik saja di sana." Laura mengusap lembut punggung wanita yang sudah dianggapnya sebagai kakak sendiri itu.
"Bagus. Kemasi barangmu dan berangkatlah hari ini. Zack, akan mengantarmu." Tanpa menunggu penolakan dari Laura maupun Catherine, James lantas membawa kursi rodanya untuk pergi meninggalkan ruang makan tersebut. Tentu saja diikuti oleh Zack yang mendorong dari belakang.
Sejenak James menikmati sensasi yang diberikan tembakau bakar itu. Kepulan asap putih menguar di udara menyebarkan aroma khas para perokok aktif. Sementara itu, Zack hanya terdiam untuk waktu yang cukup lama di sampingnya karena tahu kondisi perasaan James sedang tidak baik hari ini.
Sesaat kemudian, barulah pria paruh baya itu mulai meletakkan cerutu ke asbak dan berbicara. "Zack."
__ADS_1
"Iya, Ayah."
"Pastikan gadis itu tidak akan kembali seumur hidupnya!" Perintah James.
"Baik, Ayah. Tapi, bagaimana dengan Catherine?"
"Kau ahlinya dalam memainkan situasi dan memanipulasi kondisi. Aku tidak perlu mengajarimu."
"Aku paham, Ayah." Zack lantas membungkuk hormat dan mundur beberapa langkah sebelum akhirnya melangkah pergi meninggalkan James seorang diri.
Sebagai seorang senior di dunia gelap, tentu saja dia memahami setiap perkembangan anak buahnya. Termasuk Zack, Catherine, dan Laura. Gadis itu memiliki perkembangan yang cukup pesat melampaui kedua kakaknya.
Namun, sayangnya Laura bukan berada di pihaknya. Dia terlalu cerdik untuk menipu seorang James Whale. Meskipun itu kali pertama, tetapi sandiwaranya sangatlah meyakinkan hingga tidak menyisakan celah dan James tidak akan membiarkan gadis itu menjadi batu sandungan kegagalannya.
__ADS_1
"Kau terlalu berbahaya jika dipelihara," gumam James meluapkan emosinya dengan memadamkan cerutu hingga hancur berkeping-keping.
To Be Continue…