Istri Tawanan Tuan Arogan

Istri Tawanan Tuan Arogan
Chapter 93


__ADS_3

Seminggu sudah Laura banyak berdiam diri. Selain memulihkan diri, rasa khawatir karena tidak segera mendapatkan kabar tentang Michael membuatnya semakin tertekan. Apa yang bisa dia lakukan untuk menemukan sang suami kali ini. Bahkan para anak buah yang dibawa pun telah kembali, tetapi hanya Michael yang tak kunjung menemuimu.


Laura duduk di taman seorang diri. Aktivitas yang selalu dilakukan demi menghirup udara segar, tetapi sayangnya tetap tak membuat sesak di dadanya terangkat meskipun hanha sejenak. Tak lama kemudian, suara seorang berlari ke arahnya membuat wanita itu sedikit melirik. Namun, tak kunjung mengubah ekspresinya yang dingin karena dia tak ingin sakit hati lagi sebab berharap orang itu membawa kabar tentang suaminya.


"Nyonya," sapa pria itu sambil terengah-engah.


"Ada apa?" jawab Laura dingin.


"Seorang pengacara datang ingin menemui Anda."


Sesaat, Laura mengerutkan dahi. Pengacara? Apa hubungannya dengan dia? Sedangkan Laura sendiri tidak merasa memiliki masalah dengan sesuatu yang harus melibatkan seorang pengacara. Tidak mungkin bukan dia datang membawa wasiat.


"Di mana dia? Aku akan ke sana."


"Di ruang tamu, Nyonya."


Perlahan Laura beranjak dari posisinya, dengan jantung yang berdegup cepat, dia melangkah menuju ruang tamu di mana Argon tampak duduk berhadapan dengan orang asing.


Melihat kedatangan Laura, pengacara itu sontak berdiri dan mengulurkan tangan. "Selamat siang, Nyonya Laura."


"Siang," jawab Laura singkat, dan menbalas uluran tangan itu. Lalu mengisyaratkan agar pria di hadapannya duduk kembali.


"Saya langsung saja ke intinya, Nyonya. Sebelumnya Tuan Michael sudah memerintahkan kepada saya agar kemari jika beliau tak kunjung memberikan kabar setelah satu bulan. Dihitung dari waktu beliau menghubungi saya pagi itu." Pengacara itu mengeluarkan sebuah dokumen berwarna coklat, dan menyerahkannya ke hadapan Laura.


Tentu saja Laura enggan untuk membuka apalagi menerima secara langsung berkas itu. Perasaan tak karuan kembali merasuk dalam dirinya. Sekuat hati Laura mencoba menahan gejolak dalam dirinya, dan tetap mengeluarkan ekspresi dingin.


"Apa ini?"

__ADS_1


"Itu adalah perjanjian pra nikah yang sudah diperbarui oleh Tuan Michael."


Perjanjian pra nikah? Dahi Laura memerlihatkan kerutan cukup banyak. Apa ini artinya Laura harus ikut dikubur dalam peti yang sama bersama Michael nantinya.


Perlahan tangan Laura terulur meraih benda di atas meja tersebut, dia membuka benang merah yang mengikat dan meraih beberapa kertas di dalamnya.


Sayangnya, bukan senyum yang merekah di wajah Laura, melainkan ekspresi syok dengan kedua mata membulat sempurna. Dia sama sekali tidak menyangka jika Michael berani berbuat seperti ini di belakangnya.


Sementara itu, para anak buah, Nathan, serta Catherine tampak menguping di balik dinding. Masing-masing dari mereka, cukup penasaran dengan apa yang didapatkan Laura, hingga mengeluarkan ekspresi seperti itu.


Tangan Laura meremas kertas dengan sangat kuat setelah selesai membaca poin demi poin yang tertera di atas kertas. Isinya sungguh berbeda dengan apa yang dia tandatangani bersama Michael hari itu. Tidak mungkin bukan pria itu tega mengambil keputusan seperti ini.


"Maksudmu. Jika dalam sebulan setelah menghubungimu dia tidak kembali, aku harus menandatangani perceraian ini?" Laura membanting berkas dengan sangat keras. Deru napas wanita itu tak stabil seiring dengan nada tinggi yang dia keluarkan. "Apa dia pikir kali ini aku akan menurutinya? Jangan harap! Sebelum dia kembali ke hadapanku aku tidak akan pernah bersedia diceraikan!"


Laura berdiri dari posisinya. Semua orang yang mendengar kalimat Laura tampak tercengang.


"Kau pikir suamiku sudah mati?" Dengan emosi penuh, Laura malah mengambil sebuah senjata tajam berupa katana asli kuno yang tersedia sebagai hiasan di ruangan itu. Tanpa ragu dia bahkan mengarahkan tepat di sebelah leher sang pengacara. "Jangan bicara sembarangan apalagi hanya karena sebuah asumsi! Aku tidak akan segan-segan membunuhmu saat ini juga, jika kau berani mendoakan kematian suamiku."


Hawa dingin dan mencekam sontak memenuhi ruangan itu. Tidak ada yang mengira jika Laura yang biasanya tenang, kini berubah menjadi sosok emosional yang tak lagi terkontrol.


Dengan susah payah pengacara itu menelan ludahnya sendiri. Rasa perih akibat goresan tipis di leher membuat nyalinya seketika menciut, di saat menyadari istri seorang Michael adalah wanita yang sulit di tangani.


Padahal dengan jelas, Michael menyerahkan seluruh asetnya pada Laura sebagai bentuk kompensasi perceraian. Karena jika tidak bercerai, maka perjanjian yang sebelumnya tentu saja berlaku karena dianggap tidak ada pembaruan atas permintaan Michael. Namun, nyatanya Laura malah menolak semua itu dan meyakini jika Michael masih akan kembali padanya.


"Sebaiknya kau segera keluar sekarang, sebelum kesabaranku di ambang batas." Perlahan Laura menurunkan senjatanya. Dia menunduk dengan tangan bergetar memegang gagang katana.


Tak ingin nyawanya dihabisi secara sia-sia. Pengacara segera meraih kembali tasnya dan hendak melangkah pergi. Namun, sedetik kemudian dia berhenti dan menoleh pada wanita yang masih menunduk itu.

__ADS_1


"Berkasnya saya tinggalkan. Jika Anda berubah pikiran, silakan hubungi saya nanti." Setelah mengatakan semua itu, dengan cepat seolah tak terlihat pengacara itu berlari ke luar dengan terbirik-birit. Bisa habis nyawanya kalau sampai Laura murka.


Benar saja, dengan sangat kasar Laura merobek setiap kertas di depannya hingga tak lagi berbentuk. Perasaan hancur di hati, membuat emosinya meluap seakan bersiap meledak kapan saja.


Dia menyebarkan potongan-potongan kertas itu ke udara dan berbalik begitu saja, tanpa memerhatikan ekspresi Argon di sampingnya saat ini.


Ketika Laura melewati para anak buah yang menguping pembicaraan. Dia berdiri dan menatap tajam pada sosok Nathan yanh berdiri di belakang Catherine.


"Nathan, ikut aku!" ucap Laura tanpa bisa di bantah bergerak kembali ke taman belakang.


"Hei! Apa Kakak Ipar ingin membunuhku," tanya Nathan cemas pada Catherine.


Akan tetapi, wanita itu hanya mengendikkan bahu, dan mendorong Nathan agar segera menyusul Laura. "Sudah sana cepat!"


Dengan susah payah Nathan melangkah menuju taman belakang. Ternyata kemarahan Laura lebih mengerikan dari seekor ayam yang baru saja menetaskan anak-anaknya. Sontak tenggorokan Nathan terasa kering kala itu juga, air liur seolah tak mampu membasahi kerongkongannya saat ini.


"K—kakak Ipar."


Sebuah tongkat kayu seketika terlempar dari tangan Laura tepat ke depan Nathan. Dengan ketakutan yang melanda, dia berusaha menerimanya. Wajah merah padam Laura benar-benar sangat mengerikan saat ini. Sesutu yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya.


"Bukan kah kau bilang ingin menjadi kuat! Ayo lakukan sekarang!" Tanpa aba-aba dengan membabi buta Laura mengarahkan ketananya pada Nathan.


Sontak Nathan hanya bisa mengambil langkah mundur, sambil terus mencoba memertahankan diri dari serangan Laura. Namun, katana dengan tongkat, tentu saja perbandingan senjata yang berbeda.


Tongkat di tangan Nathan semakin mengecil seiring serangan Laura yang tak ada hentinya. "Kakak Ipar, apa kau berniat membunuhku!"


To Be Continue

__ADS_1


__ADS_2