Istri Tawanan Tuan Arogan

Istri Tawanan Tuan Arogan
Chapter 74


__ADS_3

Langit sore yang awalnya berwarna kuning keemasan saat senja, kini berubah hitam pekat tiada bintang.


Laura terduduk lesu di pinggiran kolam ikan. Dua kakinya masuk ke air, membiarkan para hewan air menggelitik telapaknya, sementara dua tangan di kanan dan kiri menyangga badan. Dia termenung sendiri, helaan napas berat terdengar cukup jelas dari bibir yang selalunya mengucapkan kalimat pedas. Padahal hari-hari biasanya ada saja tingkah wanita itu. Wajah berhias senyum dan tawanya pudar berganti aura suram nan mengerikan.


Hingga Leo dan kawan-kawan lain yang menyaksikan hanya bisa saling melemparkan pandangan heran. Apakah gerangan sesuatu hal yang mengusik pikiran wanita cantik itu. Padahal hubungannya dengan anak buah Michael yang lainnya semakin membaik.


"Kakak Ipar."


"Pergilah!" jawab Laura lesu. Tanpa menoleh wanita tersebut langsung saja mengusir Leo dan teman-teman. Namun, hal tersebut justru membuat mereka merasa khawatir.


Entah mengapa, Laura tidak ingin mengerjakan apa pun. Mood-nya tiba-tiba lenyap seolah manusia tanpa gairah hidup. Ditambah lagi, Ketidakhadiran Michael di sisinya, lantaran pria itu terlalu sibuk bekerja makin memperburuk suasana hati.


"Kenapa lama sekali kau kembali?" batin Laura menatap bulan yang kini ditemani banyak bintang. Namun, dia tetap saja kesepian.


Laura menghela napas panjang, riuh keramaian kegiatan para anak buah yang berlalu lalang tak membuatnya berminat lagi untuk mengacaukan apalagi bermain dengan mereka. Dinginnya air yang menembus kaki serta semilir angin malam seolah menyelimuti dirinya sejak tadi. Mengapa rasanya sangat menyebalkan ketika mulai merindukan seseorang.


Tangan Laura terulur, meraih segenggam pakan ikan dan menaburkan untuk yang kesekian kalinya. Jika saja mereka bisa berbicara, pasti para ikan itu akan protes karena diberi makan melebihi porsinya hari ini. Padahal jumlah mereka juga tidak seberapa.


"Enaknya jadi ikan, suamimu tidak akan meninggalkanmu hanya untuk pergi ke kolam lainnya. Kau bahkan bisa mengawasi kalau sampai dia menggoda betina lainnya." Laura bermonolog, menatap ikan-ikan yang sebagian sudah tak lagi berminat dengan makanan yang dia tebarkan.


Kaki wanita tersebut sebenarnya sudah memutih, mengerut, dan siap mengelupas kapan saja. Namun, tampaknya dia tidak berniat untuk beranjak, apalagi berpindah tempat dari posisinya. Karena dari kolam itulah, dia bisa melihat secara langsung ketika mobil Michael kembali ke markas itu.

__ADS_1


Benar saja, setelah satu jam menunggu lebih lama, sebuah mobil hitam Land Rover tampak mulai memasuki pelataran. Dengan semangat yang membara Laura beranjak dari posisinya. Akan tetapi, karena duduk terlalu lama menyebabkan dia meringis kesemutan. "Ish, jangan begini di waktu yang tidak tepat!"


Perlahan Laura segera menapakkan kakinya beberapa kali ke tanah. Ketika bagian depan mobil yang sudah terparkir itu terbuka, Laura segera berlari tanpa mengenakan alas kaki dengan senyum merekah dan berakhir mendarat di gendongan sang suami layaknya koala.


"Awh." Michael yang terkejut disambut langsung oleh sang istri malam ini sontak melepaskan barang di tangannya dan menyangga tubuh Laura dengan kedua tangannya.


"Kenapa pulangnya lama sekali?" rengek Laura langsung menunjukkan ekspresi kesal.


"Apa kau menungguku, Sayang?"


Dengan cepat Laura mengangguk. Sebuah pelukan erat dan hujaman kecupan dia berikan ke wajah suaminya. Entah mengapa, hanya dalam hitungan detik semua moodnya kembali semula. Tidak menyangka kehadiran Michael benar-benar mengobati kerinduan yang terpendam sejak tadi.


"Maaf, Sayang. Tadi ada hal mendesak lainnya."


"Lain kali aku lebih baik ikut bekerja denganmu. Di sini aku hanya bermain, membosankan."


Michael hanya tersenyum kecil. "Ya sudah ayo masuk!" Bukannya melepaskan, Laura malah semakin erat mengalungkan tangannya di leher sang suami. Hingga Michael pun terpaksa menggendong sang istri layaknya bayi kanguru baru lahir di depannya.


Rasa lelah akibat permasalahan yang tak ada habisnya seharian seolah lenyap seketika di saat mendapatkan sambutan manja dari istri tercinta. Suatu hal sederhana yang hanya bermodalkan sifat manja, tetapi memiliki efek penyembuhan luar biasa. Seandainya saja semua ini terjadi sejak dulu, mungkin Michael tidak akan tahu apa itu kesepian sebelumnya.


"Apa pekerjaanmu bermasalah, Mich?" tanya Laura setibanya kedua orang itu di kamar. Perlahan Laura membantu Michael melepaskan jaket hitam yang melekat di tubuhnya. Wajah lesu dan sedikit jerawat yang timbul, serta wajah kusam menandakan seberapa berat hari yang tengah dilalui sang suami.

__ADS_1


Sebagai seorang istri, Laura berusaha untuk mengerti. Dia hanya bisa berharap Michael juga bisa berbagi beban dengannya.


Sejenak Michael mendekap tubuh istrinya, menghirup aroma menenangkan untuk waktu yang lama. Keduanya berada di tempat ini tidaklah sebentar, tetapi masih belum ada kabar dari Argon yang menjalankan tugas di luar sana.


Setelah puas saling memberikan kekuatan, Michael melepas pelukannya dan memegang kedua bahu sang istri sambil tersenyum lembut. "Tidak apa-apa. Aku hanya mengkhawatirkan Papa. Kau tahu, sudah cukup lama dia pergi. Tapi, masih belum juga memberikan kabar sampai saat ini."


Laura cukup paham dengan apa yang dirasakan Michael, dia sendiri penasaran, tetapi ego membuatnya enggan untuk bertanya lebih dulu tentang kabar sang ayah. "Bagaimana dengan John?" tanya Laura.


Hanya gelengan kecil yang bisa Michael berikan sebagai jawaban. "Tidak ada pergerakan sama sekali."


Perlahan Laura membawa tubuh sang suami untuk duduk di ranjang. Dia menunduk, membantu sang suami melepaskan sepatu yang masih melekat di kaki pria itu. "Jangan kau kira mereka diam berarti tidak bertindak! Sebaliknya, kita harus waspada pada mereka yang terlihat diam. Karena diamnya seseorang, berarti dia merencanakan sesuatu yang besar dengan sangat berhati-hati, hingga pergerakannya pun tak mampu kita prediksi."


Michael meraih dagu istrinya yang masih menunduk, sebuah nasihat dari seorang wanita yang langsung membuka matanya. Hampir saja dia lengah dan terbuai dalam ketenangan beberapa bulan ini. Sepertinya Michael pun harus menyiapkan rencana cadangan dan mencoba menebak apa yang mereka lakukan.


"Beruntungnya aku memiliki istri cerdas sepertimu, Sayang." Sebuah kecupan mendarat di bibir Laura saat itu juga.


Dia tidak lagi menolak, bahkan secara suka rela membalas perlakuan sang suami. Berharap pernikahan ini benar-benar menjadi kebahagiaan yang sempurna di hidupnya hingga tak ada cobaan, apalagi perasaan harus kehilangan, dan pengkhianatan yang mendera.


Sudah cukup bagi Laura mengalami pengalaman yang luar biasa menyakitkan selama ini. Meskipun tidak sesuai dengan umurnya yang seharusnya masih bersenang-senang dengan gadis seusianya.


To Be Continue...

__ADS_1


__ADS_2