
Sementara itu, di hari setelah kepergian Laura sebelumnya, dan tak kunjung kembali menyebabkan kepanikan di Markas King Master. Mereka segera bergerak mengikuti GPS yang terpasang di mobil Leo serta mencari tahu keberadaan Laura.
Beberapa kelompok bergerak bersama, tetapi ketika mereka tiba di lokasi hanya ada empat mayat tak mereka kenal yang tersisa di sana. Lalu di manakah Laura.
"Kakak, bagaimana ini?" tanya seorang anak buah pada Leo, setelah mencoba mencari di setiap sudut bangunan terbengkalai itu.
Leo hanya bisa mengacak-acak rambutnya kasar. Setiap sudut tempat sudah mereka telusuri, tetapi tak mendapati Laura di mana pun. Rasa bersalah sontak mengganjal hatinya seketika. Seandainya saja dia lebih cepat mengikuti Laura sejak awal. Pasti kejadian seperti ini tidak akan terjadi.
Bagaimana jika benar-benar terjadi sesuatu pada Laura? Bisa-bisa Michael benar-benar murka jika nanti kembali.
"Kakak, ada jejak darah di sana," teriak seorang anak buah melihat adanya tetesan darah kering yang menghitam di rumput alang-alang.
"Pergi cari ke rumah sakit terdekat terlebih dahulu. Kita berpencar, siapa pun yang menemukannya, jangan lupa memberi kabar!" perintah Leo dengan ponsel di tangan terus menempel di telinganya. Dia berusaha menghubungi Laura, tetapi hanya sahutan dari perempuan yang bertugas sebagai operator yang menyambutnya. Entah ke mana perginya Laura saat ini. Akan tetapi, mereka harus menemukan Laura bagaimana pun kondisinya.
Mereka mencari ke setiap layanan kesehatan, baik besar maupun kecil. Klinik, rumah sakit, bahkan tempat-tempat berobat lainnya. Namun, sayangnya setelah seharian mencari tak kunjung menemukan keberadaan Laura.
Sepanjang malam mereka mencari dan kesokan harinya, barulah mereka melanjutkan pencarian ke sebuah rumah sakit besar. Beruntung nama Laura benar-benar ada di sana, bersama dengan Nathan sekali, membuat mereka bernapas lega.
______________
Di sisi lain, Laura yang baru saja mengetahui kabar kehamilannya tentu saja terharu, tetapi lagi-lagi kalimat yang dilontarkan Nathan membuatnya merasa kesal. Hingga suara pintu terbuka menampakkan beberapa orang berpakaian hitam dengan wajah kusam akibat mencari Laura semalaman terlihat jelas di ambang pintu.
"Kakak Ipar, apa yang terjadi denganmu?" tanya Leo dengan panik langsung menerobos masuk begitu saja.
Pria itu bahkan tanpa sadar menyingkirkan Catherine yang masih duduk di depan Laura hingga hampir saja terjengkang, menyebabkan wanita itu hanya bisa mencebik karena tingkah Leo yang seolah menganggapnya tak pernah ada. "Memangnya aku jin yang tembus pandang," batin Catherine kesal.
__ADS_1
"Leo, kenapa kalian ke sini?" tanya Laura lemah, sekaligus terkejut melihat di mana anak buah Michael mendatanginya.
"Kami mencarimu dari kemarin, ponselmu pun tak bisa di hubungi. Jadi bagaimana bisa kami tenang? Syukurlah kalau kau baik-baik saja," ucap Leo lega.
"Baik-baik saja apanya? Apa kalian tidak lihat dia bahkan tidak bisa bergerak sama sekali. Cih, dasar mafia bodoh. Kenapa terlambat sekali menyelamatkan istri Master kalian?" Sindiran yang keluar dari mulut Catherine menyebabkan beberapa pria yang baru datang itu menatap tajam ke arahnya dan baru menyadari jika ada orang lain di sana. "Seharusnya alih profesi jadi tukang pijat saja kalau kinerja kalian tidak bisa lebih cepat."
"Siapa kau?" tanya Leo dengan wajah berang, dan menatap tajam pada wanita di hadapannya saat ini. Sangat mirip dengan sikap Laura ketika pertama kali menginjakkan kaki di markas king master. Menyebalkan.
"Tidak penting siapa aku. Tapi, satu hal yang harus kalian tahu. Jika bukan karena diriku, Laura mungkin sudah mati sejak kemarin. Kerja kalian terlalu lambat." sinis Catherine.
Leo sontak melihat kondisi Laura saat ini. Segala alat yang terpasang di tubuhnya beserta wajah pucat pasi sudah menjawab semuanya. Benar apa yang dikatakan wanita itu. Mereka memang datang terlambat.
"Maaf, Kakak Ipar." Leo menunduk malu, dan merasa bersalah karena gagal menjaga Laura, sedangkan Catherine hanya mencebik sambil berdiri bersedekap.
"Sudahlah. Yang penting sekarang aku baik-baik saja. Kalian juga pasti lelah mencariku sejak kemarin," kata Laura menenangkan.
"Dia sudah tewas di tempat itu. Kalian tidak perlu merisaukannya lagi. Lagi pula aku dan Nathan sudah baik-baik saja seperti yang kalian lihat saat ini." Sejenak Laura menghentikan kalimatnya. "Kalian pulang dan beristirahat lah dulu. Pasti melelahkan mencariku sejak kemarin."
"Tapi—" Leo sebenarnya enggan untuk meninggalkan Laura. Terlebih lagi wanita itu baru ditemukan, bagaimana jika terjadi hal buruk lagi.
"Setidaknya pergilah cuci wajah dan gosok gigi. Jangan membawa virus pada orang yang tengah sakit ini! Masak hal sekecil itu saja tidak tahu." Kalimat pedas yang keluar dari mulut Catherine benar-benar sangat memalukan. Persis seperti Laura dulu, menyebabkan para anak buah pun saling memandang wajah satu sama lainnya yang memang tengah buruk rupa.
Semua itu terjadi karena mereka terlalu kalap dalam mencari Laura, Leo dan teman-temannya tidak sempat untuk mengurus diri sendiri. Jangankan untuk pergi mandi, makan saja mereka lupakan sejak kemarin demi mencari sang Nyonya.
"Baiklah kalau begitu. Kami pergi dulu. Nanti kami akan kembali lagi. Kau! Kami harap kau menjaganya sampai kami kembali." tunjuk Leo pada Catherine.
__ADS_1
"Sana-sana," usir Catherine sambil menutup hidungnya.
Setelah kepergian Leo dan teman-temannya barulah Laura meminta Catherine untuk keluar juga. Meskipun dia hanya bisa memunggungi Nathan saat ini dan tak bisa melihatnya secara langsung, tetapi Laura berniat berbicara empat mata dengannya.
"Kenapa kau tidak mengatakan pada mereka jika aku yang melukaimu?" tanya Nathan mengawali perbincangan mereka.
"Apakah benar yang kau katakan, jika Michael tak akan kembali?" Hal pertama yang ingin Laura tanyakan tentu saja sang suami. Beberapa hari tak mendapatkan kabar serta situasi yang tak pernah tenang tentu saja membuatnya khawatir. Bagaimana jika benar-benar terjadi sesuatu dengannya? Akankah dia dan bayi dalam kandungnya harus kembali hidup tanpa seorang ayah.
"Aku hanya mendapatkan kabar itu dari mereka."
Tanpa sadar buliran bening mengalir dari sudut mata Laura. Rasa sakit yang dia rasakan tak sepadan dengan luka di hatinya setelah mendengar kabar sang suami. Akankah dia benar-benar menjadi janda di usia muda.
Untuk sejenak Laura menghela napas panjang. Beruntung Nathan tak melihat ekspresi menyedihkannya saat ini, sehingga tidaklah cukup memalukan.
"Aku sangat tahu bagaimana perasaanmu sekarang hingga memilih berkhianat. Jika aku menginginkan, mungkin sejak awal aku sudah membalasmu bahkan membunuhmu saat itu juga. Tapi, Nathan. Satu hal yang bisa aku pastikan. Kau adalah orang yang berharga bagi Michael dan Papa. Mereka menyayangimu dengan tulus, meskipun sikap mereka dingin." Lagi-lagi Laura menghentikan kalimat untuk mengambil napas karena kondisinya yang masih lemah.
"Aku tidak mau mereka membenciku karena kau mati di tanganku. Tapi, aku memberimu kesempatan agar kau bisa memilih, untuk mengikuti apa yang ibumu inginkan dan selalu berada di bawah tekanannya. Atau tetap menjadi Nathan yang ceria seperti sebelumnya. Mungkin aku tidak bisa membantumu mengubah masa lalu. Tapi, hal yang terjadi sebelumnya aku bisa menutupinya tanpa meminta apa pun darimu. Yang aku tahu, sesungguhnya kau adalah orang yang baik, bagaimana pun kondisimu saat ini. Kau juga berhak disayangi dan hidup bahagia."
Tanpa sadar apa yang dikatakan Laura berhasil menyentuh hati Nathan. Dia yang pada dasarnya adalah seorang wanita tentu saja tetap memiliki hati yang rapuh dan mudah terenyuh.
Namun, apa yang dikatakan Laura juga bukan omong kosong belaka. Dia sendiri cukup sadar betapa kasihannya nasib Nathan saat ini.
"Kau bisa menceritakan semua itu pada Papa dan Kakakmu. Aku yakin, mereka tetap akan menerima bagaimana pun kondisimu nantinya."
Sejenak Laura menghirup napas panjang. "Hanya saja, seperti yang kau katakan, entah mereka masih bisa kembali atau tidak. Tidak ada siapa pun selain Tuhan yang tahu. Tapi, jika kau benar-benar menginginkan King Master, di saat mayat Michael kembali pada kita. Maka dengan senang hati aku akan menyerahkan kelompok itu padamu. Sejak awal aku hanya menginginkan suamiku, bukan apa yang dia miliki. Tapi, satu pesanku, jangan gunakan kelompok itu untuk sesuatu yang diinginkan ibumu. Kau tidak pantas menjadi jahat, karena sesungguhnya kau tetaplah berhati lembut, seperti Papa."
__ADS_1
Laura sangat menyadari, bukan kapasitasnya untuk menghukum Nathan. Usianya masih terlalu muda untuk mengalami setiap tekanan itu, dan Laura yakin mental Nathan sudah terguncang sejak awal serta memerlukan penanganan yang tepat guna mengembalikan kepercayaan dirinya. Bukan sebuah tekanan terus menerus yang hanya akan membuatnya semakin menutup diri. Meskipun mereka tidak bisa mengubah kembali fisiknya seperti sedia kala, setidaknya Laura hanya ingin Nathan terbuka dan merasakan bebasnya kehidupan.
To Be Continue....