
Bersama Catherine, Elena, dan beberapa orang lainnya, Laura memutuskan untuk keluar dari zona nyaman. Mereka meninggalkan markas King Master di bawah kepemimpinan Nathan serta di awasi oleh Argon.
Dengan begitu, setidaknya para anak buah tidak akan kehilangan arah, di saat pemimpin utama mereka tidak ada dan operasi bisnis pun tetap berjalan sebagai mana mestinya.
Laura memutuskan untuk mengeluarkan kembali aset-aset yang sebelumnya dijalankan oleh Catherine. Keduanya memulai secara terang-terangan bisnis-bisnis yang menggurita dan berpeluang menjelajahi berbagai tempat di ketiga negara secara bergantian.
Hanya saja, untuk posisi kembali lagi menjadi seorang pembalap, tentunya Laura tidak lagi diizinkan oleh orang-orang di sekitarnya. Selain kondisi kandungan Laura yang semakin membesar, kegiatan itu terlalu berbahaya karena dunia bisnis sama kejamnya dengan mafia. Nyawa Laura bisa terancam kapan pun oleh pesaing mereka, sebab kemunculan Laura memang terlalu cepat menerobos pasar bisnis.
Seorang wanita berbadan dua berdiri di sebuah kantor gedung perusahaan yang baru saja diambil alih. Sebagai seorang investor, cara tercepat bagi Laura melaju adalah mengakuisisi perusahaan-perusahaan yang hampir bangkrut dan merombak menjadi tempat yang nyaman bagi dirinya sendiri.
"Bagaimana dengan proyek baru kita?" tanya Laura pada Catherine di depannya.
"Lumayan, kau membuat bisnis penerbangan. Tentu saja bukan waktu yang singkat untuk mewujudkan semua itu. Hanya saja, memang minat para investor lain tampak sangat tinggi dengan apa yang kita kerjakan saat ini."
Laura hanya menyeringai, sekilas dia membaca kembali apa yang memang ingin dilakukannya dan beberapa berkas dari klien yang ingin mengajukan kerjasama.
__ADS_1
"Aku tidak beminat!" Laura menyerahkan kembali beberapa berkas itu kepada Catherine.
Catherine pun menerima sambil menghela napas berat. "Kau masih ingin mencarinya?"
Laura terdiam, perempuan berwajah dingin dengan perut yang semakin membuncit menyebabkan dia seperti janda kaya raya. Tanpa seorang suami di sisi, tak terasa bayi dalam kandung Laura hanya tinggal menghitung hari untuk keluar dari zona nyaman.
Bukan usaha yang mudah bagi Laura untuk mendapatkan kabar dari Michael. Bahkan, hanya berita seorang melihatnya di suatu tempat pun tak pernah Laura lewatkan begitu saja. Namun, hasilnya sama saja. Semua hanya berakhir dengan harapan kosong tak berkesudahan.
"Ish." Laura mendesis kesakitan beberapa hari ini, sesuatu yang menyakitkan seolah hadir tanpa aba-aba di bagian inti tubuhnya.
"Kenapa? Sakit lagi?" tanya Catherine khawatir.
"Cathy, bisakah kau membantuku menemui klien baru. Aku sedang tidak mood berurusan dengan mereka." Laura menyerahkan sebuah map pada sahabatnya, sedangkan Cathy menerima dengan paham.
"Serahkan semuanya padaku! Jangan terlalu lelah dan beristirahatlah!"
__ADS_1
"Aku ingin mencari udara segar."
"Haruskah aku meminta beberapa anak buah untuk menemanimu?"
"Tidak perlu. Kau tahu aku lebih suka menyendiri."
Tidak ada yang bisa Catherine lakukan jika Laura sudah membuat keputusan. Semenjak kepergian Michael, Laura memang membiasakan diri tanpa kehadiran pria itu di sisinya. Meskipun hanya secarik kenangan yang mereka miliki. Namun, hadirnya buah hati membuatnya percaya, jika sang suami akan menemukan jalan pulang.
"Aku lelah, Mich." Tanpa terasa buliran hangat berkumpul di pelupuk mata Laura. Dia yang saat ini sudah berada di sebuah taman setelah meninggalkan perusahaan, duduk di tepian danau yang sunyi seorang diri. Tempat ternyaman baginya menenangkan diri.
Laura menangkupkan kedua tangannya, menundukkan kepala dengan mata terpejam. Dia bukanlah orang suci, entah kapan terakhir kali Laura melakukan kewajibannya dalam beragama. "Tuhan, aku tidak meminta semua kekayaan ini. Kau memberikan aku segalanya yang aku butuhkan. Tapi, bisakah aku bernegosiasi dan menukarnya dengan suamiku? Semua harta ini tidaklah berarti tanpa dia di sisiku. Jika menurutmu semua ini masih belum cukup. Maka aku akan mengumpulkan lebih banyak lagi untuk mencicilnya. Tolong kembalikan suamiku dalam keadaan utuh," batin Laura berdoa.
Rasa nyeri yang semakin menjadi, menyebabkan Laura memutuskan untuk segera kembali saja. Dia berbalik dan hendak melangkah pergi, tetapi tiba-tiba saja seorang wanita berpakaian serba hitam berdiri tepat di hadapannya.
"Sepertinya kau begitu menikmati kehidupanmu setelah kematian putriku."
__ADS_1
Laura terbelalak, tangannya sontak memegang area perut, di mana sebuah pisau di genggaman wanita itu sudah bersarang di tubuh Laura. "Kau—"
To Be Continue...