
Makan malam berjalan dengan lancar. Michael dan Argon tengah membicarakan masalah serius bersama di sebuah ruangan. Tidak ada yang tahu apa isi pikiran Argon saat ini. Ayahnya selalu saja mengeluarkan sisi seorang penyayangnya hanya di saat mereka berdua seperti sekarang.
"Apa kau sungguh mencintainya?" tanya Argon langsung pada putranya, tanpa basa-basi. Pria tersebut berdiri di sebuah balkon, menatap ke arah luar, dengan pandangan tertuju tepat di mana seorang gadis tengah duduk di sebuah ayunan taman sendirian.
Entah mengapa ada sesuatu kenangan yang lain di saat Argon pertama kali melihat gadis tersebut. Sungguh suatu perasaan tak asing yang membuatnya cukup nyaman.
"Entah ini cinta atau bukan. Tapi aku akan mempertahankannya, Pa," jawab Michael yakin melangkah mendekati sang ayah dan berdiri di sampingnya.
"Bagaimana dengan wanita satunya tadi?"
"Mama yang membawanya kemari. Sebelumnya dialah yang dijodohkan denganku. Tapi, Papa pasti tahu cinta tak bisa dipaksakan." Michael menghentikan kalimatnya. Sungguh memalukan. Dia bahkan tak menyangka bisa mengucapkan kata-kata sebodoh itu.
Argon hanya mengangguk dan tersenyum lega. Apa yang dikatakan putranya tidaklah salah. Dia sendiri tidak bisa merasakan sebuah pernikahan yang bahagia karena dijodohkan dengan Lady, sedang cinta sejatinya entah menghilang ke mana membawa seluruh hatinya dan tak pernah kembali. Kali ini dia cukup bangga dengan keputusan Michael untuk permasalahan hidupnya sendiri.
__ADS_1
"Kalau kau benar-benar mencintainya. Sebaiknya segera nikahi dia. Jangan biarkan orang luar dengan mudah masuk ke kehidupan kalian! Jika kau tidak ingin menyesal seumur hidupmu," ucap Argon pada sang putra tulus. "Sepertiku," lanjutnya dalam hati.
Michael paham dengan apa yang dikatakan ayahnya. Dalam pikirannya, Argon merupakan sosok yang hanya mencintai satu wanita, yaitu ibu kandungnya. Meskipun mereka hanya menyebutnya gundik simpanan. Namun, apa yang terjadi di antara Argon dan Lady yang tak kunjung menghasilkan romansa terlalu jelas jika tidak dianggap sebagai cinta bertepuk sebelah tangan. Meskipun rasanya lucu, ketika dua orang tidak saling mencintai, tetapi masih tumbuh Nathan di antara mereka.
Keduanya pun kembali menatap pemandangan malam. Angin semilir membawa embusan angin dingin, tetapi sang gadis di seberang hanya terdiam dengan sesuatu yang berkecamuk dalam pikirannya tadi. "Apa yang dia pikirkan?" batin Michael dengan dahi mengkerut di kejauhan.
"James berulah lagi," kata Argon memecah kesunyian.
Michael hanya mengangguk. "Sejak awal dia dan anak buahnya selalu menerobos pertahanan kita dari belakang, di pimpin oleh Zack."
Namun, sepertinya dia masih menyimpan dendam akan Argon, hingga pria tersebut selalu saja membuatnya kewalahan. Hal itu pula yang menyebabkan didikan terhadap Michael lebih keras sejak kecil dibandingkan dengan anak seusianya.
Meskipun Argon seorang militer, ada beberapa kasus yang tak bisa disentuhnya secara langsung. Karena itulah, demi membantu negaranya dia mendirikan King Master. Mereka bertugas membantu militer secara diam-diam. Sebab itulah, Argon menjadi sosok yang cukup terkenal di kalangan bawah.
__ADS_1
"Pabrik pembuat senjata yang utama sudah berada di pihak kita. Tapi, besar kemungkinan mereka akan menyerang kembali dari belakang." Michael menyeringai kecil. "Khas dari mereka hanyalah seorang pengecut yang suka menyerang di kegelapan."
Argon tahu apa yang dipikirkan putranya. Michael selalu saja melampaui batas yang dia harapkan sebagai seorang pemimpin. Sayangnya, sang anak tak berniat mendaftarkan diri atau bergabung dengan kemiliteran dan Argon memahami hal itu.
"Kau sangat mirip dengannya," batin Argon tersenyum nyeri mengingat seseorang lain dalam hidupnya.
Di sisi lain, Laura yang duduk seorang diri di taman hanya terdiam menatap kegelapan. Fokusnya terhenti pada sebuah titik, tetapi pikirannya bekerja cukup keras seorang diri.
Dia mendongakkan kepala, semakin jauh angannya pada langit yang bertabur bintang di angkasa. "Ibu, apa masalahmu dengan keluarga ini?" batin Laura sambil memejamkan mata sejenak. Dia membayangkan kembali bagaimana sang ibu masih bisa tersenyum, meskipun ajal di depan matanya.
Tanpa sadar buliran hangat mengalir di sudut mata Laura setelah sekian lama. Kedua tangannya mengepal, hingga bergetar hebat. Perasaan hancur kembali merasuk dalam diri seorang gadis yang seharusnya menikmati kebahagiaan hidup.
"Aku akan membalas mereka semua dengan impas, Ibu. Restuilah aku dari surga!" ucapnya dalam hati, hingga tak lama kemudian suara seseorang pun membuyarkan lamunannya.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan di sini sendirian?"
To Be Continue....