Istri Tawanan Tuan Arogan

Istri Tawanan Tuan Arogan
Chapter 97


__ADS_3

"Marcel, kau ke mana saja? Aku Mengkhawatirkanmu." Seorang wanita lantas berhambur memeluk kekasihnya yang baru saja tiba. Wajahnya terlihat begitu cemas, hingga masih belum menyadari pakaian pria yang kini dalam pelukannya penuh dengan noda darah.


"Aku menolong seseorang tadi."


Meskipun Marcel kini sudah berada di hadapan Sarah. Nyatanya bayangan bayi mungil yang baru saja terlahir ke dunia seolah mengambil alih pikirannya. Entah mengapa, ingin rasanya dia kembali danmenjaga mereka tadi.


Menyadari bau anyir darah yang mengering, Sarah lantas melepaskan pelukannya. "Kau tidak apa-apa 'kan? Apa ada yang terluka? Kenapa tubuhmu penuh dengan darah?"


"Tidak apa-apa? Tadi ada ibu hamil yang terluka, aku harus mengantarkannya dulu. Ayo pulang! Aku masih banyak urusan setelah ini."


"Baiklah. Ayo."


Keduanya lantas meninggalkan taman dan melajukan kendaraan menuju tempat tinggal mereka, sedangkan Catherine yang mendengar berita buruk menimpa Laura, langsung datang ke rumah sakit.


"Kau sudah sadar," tanya Catherine setelah semalaman menjaga Laura.


Jika hanya melahirkan, mungkin Laura tidak akan terlalu lemas seperti sekarang dan bisa sadar lebih cepat. Namun, kondisinya yang terluka membuat tim medis menambah dosis anestesi agar pasien tidak merasakan sakit dan bisa beristirahat. Meskipun setelah sadar dia juga tetap akan merasakannya.

__ADS_1


"Cathy, di mana anakku?" Hal pertama yang dipertanyakan seorang ibu, tentu saja anaknya. Meskipun perutnya masih belum sepenuhnya mengecil, tetapi bisa dia rasakan jika sang bayi sudah tidak ada di dalam kandungannya. "Dia baik-baik saja 'kan?"


"Tenanglah dulu! Kau belum boleh terlalu banyak bergerak. Putramu baik-baik. Nanti pasti juga akan dibawa ke mari," ucap Catherine menenangkan. "Ada Ibuku menjaganya di ruang perinatologi."


"Pu–putra?" Seolah tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Laura memastikan jika pendengarannya tidaklah salah. Samar-samar sekilas bayangan orang yang membantunya kembali terngiang dalam pikiran. "Tunggu, kau sudah tahu siapa yang membawaku kemari?"


Catherine kembali mengingat, nama seorang pria yang tertera ketika dia bertanya pada perawat sebelumnya. "Marcel?"


"Marcel? Cari tahu siapa pria itu! Dan untuk Bibiku—"


"Aku sudah membereskannya. Kau tak perlu khawatir. Kita masih memberikan dia kesempatan tapi malah berani-beraninya mencelakaimu."


"Sebentar, aku tanyakan pada dokter."


__________


Beberapa hari berlalu, seorang pria menatap dirinya di pantulan cermin. Dia kembali ke tempat tertinggi sebuah hotel berbintang setelah mengantarkan kekasihnya pulang. Tangan pria itu bergerak mengikat dasi ke lehernya. Tepat setelah semuanya siap, bel di luar kamarnya pun berbunyi.

__ADS_1


Dia lantas meraih setelan jas pelengkap penampilannya dan melangkah keluar. "Sarah, kenapa kau di sini?"


"Aku ingin ikut denganmu. Bukankah kau ingin menemui orang yang sebelumnya saja kau selamatkan, Sayang? Biarkan aku ikut. Aku ingin melihat bayi mungil itu juga." Tanpa permisi, Sarah langsung melingkarkan tangan di lengan Marcel.


Pria itu hanya mengangguk kecil, lantas keduanya pun melangkah menuju tempat parkir. Marcel memang ingin mengunjungi wanita yang dia selamatkan sebelumnya dan memastikan jika dia juga bayinya sudah dalam keadaan baik-baik saja.


Entah mengapa bayangan keduanya selalu saja hinggap di pikiran Marcel. Dia berusaha untuk santai, tetapi hatinya terus menerus mengkhawatirkan kondisi mereka. Mungkin setelah menjenguk keduanya, hati Marcel juga akan tenang nantinya.


"Pasti rasanya menyenangkan jika nanti kita menikah dan memiliki anak seperti wanita itu. Hanya saja, kenapa dia terluka, Sayang?" tanya Sarah merasa penasaran.


"Entah. Mungkin dia mengalami tindak kriminal," jawab Marcel sambil fokus mengemudi, sedangkan Sarah di sampingnya terus saja berceloteh ria membayangkan kelak berkeluarga.


Keduanya lantas menyusuri memasuki area rumah sakit. Mereka bertanya terlebih dahulu dan memastikan jika sosok yang dicari masih dirawat di rumah sakit itu. Beruntungnya, Laura dan bayinya sungguh masih di sana.


Dengan sekeranjang buah di tangan dan wajah dingin, tetapi jantung berdegub cepat. Marcel melangkah menuju ruangan, sedangkan Sarah terus saja mengapit tangannya. Pria itu lantas mengetuk pintu, dan membuka setelah mendapatkan jawaban dari dalam.


"Permisi—" Belum sempat Marcel mengucapkan niatnya datang, sebuah apel merah menggelinding tepat di depannya begitu saja dari tangan seorang wanita yang duduk di kursi.

__ADS_1


Dua wanita di ruangan itu terbelalak melihat pemandangan di depannya, sedangkan Sarah yang mendapati ekspresi tidak biasa semakin erat melingkarkan tangannya.


To Be Continue...


__ADS_2