
Berhari-hari bersama Michael di markas, tanpa melakukan kegiatan apapun dan hanya mengamati pekerjaan sang suami, membuat Laura sedikit bosan. Apalagi tak jarang Laura mendapat tatapan remeh dari beberapa anak buah Michael yang belum kenal siapa dia.
Sebagian dari mereka beranggapan bahwa wanita hanyalah sosok manja yang selalu merepotkan pria. Tidak jarang ketika Laura lewat juga mendapat decakan lidah dan ocehan merendahkan yang cukup menyakitkan. Akan tetapi, Laura memilih diam dan tidak mengadu atau pun membalas. Baginya, semua perlakuan itu tidak ada gunanya dan hanya membuang waktu jika ditanggapi. Anggap saja mereka sekumpulan orang bodoh yang tahu mencibir, sayangnya tidak memiliki kontribusi sama sekali. Bukannya berlatih mengembangkan diri supaya menjadi lebih baik lagi, malah berbangga hati serta mudah puas dengan apa yang dimiliki.
Satu hari dibiarkan, apa yang mereka katakan akan semakin banyak saja di hari selanjutnya. Sudah seperti bunga utang di bank yang membengkak jika tak segera dibayar, menyebalkan. Serasa di hampiri debt. kolektor setiap harinya. Ternyata mulut pria sama saja dengan wanita. Sama-sama hanya senang menilai segala sesuatu dari luar saja. Tanpa berniat menyelidiki apalagi menghormati orang yang penampilannya sangat biasa sepertinya.
Padahal beberapa petinggi mereka yang sudah melihat sendiri aksi Laura sama sekali tak berani mengeluarkan sepatah kata pun pada wanita itu, tetapi mereka yang berotak udang malah mulutnya seolah tak memiliki rem sama sekali. Oli yang bocor dari mulut mereka terlalu lumer hingga licinnya mengalahkan belut.
"Lihat! Lagi-lagi dia masih ada di sini. Sepertinya markas ini sebentar lagi akan berubah menjadi tempat para gundik berkeliaran." Sebuah suara sindiran dari seorang pria di ikuti gelak tawa yang lainnya, seolah membenarkan apa yang dikatakan temannya menyebabkan Laura menghela napas panjang. Lagi-lagi sindiran tak berkualitas harus dia dengar dari mulut comberan.
"Iya. Tidak diduga, Master memiliki selera gadis ingusan seperti itu. Bahkan bodynya saja tidak lebih baik dari ikan layur di pasaran. Ayo bertaruh! Berapa lama Master akan bertahan dengannya?"
Waktu berputar, menit berganti jam dan jam berganti hari, tetepi bisik-bisik remeh itu seolah tiada ujung. Niat awal Laura mengabaikan, kini berubah ingin menyumpal mulut mereka yang tidak tahu diri karena telah berani membuat telinga panas.
Namun, Laura mengingat apa yang dikatakan suaminya untuk tidak berbuat ulah di sini. Sayangnya, kali ini bukan dia yang memulai, tetapi mereka. Jadi, apa salahnya memberikan mereka sedikit peringatan. Jangan sebut namanya Laura jika dia mudah ditindas.
Perlahan Laura melangkah mendekat sekerumulan orang yang berkumpul itu. Dia berdecih tatkala melihat beberapa lembar uang kecil benar-benar terkumpul di depan mereka layaknya orang bertaruh. "Jadi, hanya segini kalian berani bertaruh?" sindir Laura melihat betapa rendahnya nilai pertaruhan mereka.
"Kau!" Seorang pria dengan tubuh kekar mengerikan hampir berdiri dari posisinya, tetapi masih di tahan oleh temannya.
__ADS_1
"Jangan cari masalah dengan perempuan ini sekarang! Dia masih menjadi kesayangan Master. Tunggu sampai dia dibuang, baru kita berikan dia pelajaran." Kalimat dengan nada sedikit mengancam dan lirikan memicing tak membuat Laura goyah sedikit pun. Meskipun para pria itu tergelak dengan cukup kuat dan sangat menyakiti gendang telinga, tak menyulut ketakutan dalam diri Laura
Bukannya takut, wanita itu malah mengeluarkan segepok uang dalam jumlah yang fantastis dari sakunya dan melemparkan tepat di depan mereka. "Kalau begitu aku ikut bertaruh. Berapa lama kalian menebak Master kalian tahan denganku?"
"Satu minggu," jawab seorang pria lainnya spontan mendapat tepukan kesal dari temannya, karena orang itu langsung saja menyela pembicaraan.
"Baiklah, satu minggu. Maka lebih dari waktu itu, akulah pemenangnya. Jika dia menendangku sebelum waktu yang kalian perkirakan. Aku akan memberikan kalian masing-masing sejumlah uang yang sama dengan itu." Tunjuk Laura pada segepok uang yang di lemparkan pada setiap orang di sana.
"Jika kami kalah?" tanya seorang lainnya, samb memicingkan mata.
Laura perlahan mendekati mereka. Dia menaikkan satu kaki dan meletakkan sikunya di sana. Perlahan wanita itu pun .embungkuk dengan sebuah seringai di ikuti oleh mereka yang berkumpul melingkar. "Maka, siapkan nyawa kalian sebagai ganti bayarannya. Aku sendiri yang akan menagihnya."
Tak ingin semakin panas dan berakhir dengan darah tinggi, Laura memilih berbalik setelah memberikan sedikit gertakan. Dia yang awalnya hendak menikmati tempat itu pun mengurungkan niat setelah memberikan mereka sedikit kata-kata ancaman yang elegan.
"Apa dia akan melaporkan apa yang baru saja terjadi pada Master?" tanya seorang anak buah.
Seorang pria menggeleng kecil, ternyata wanita yang selama ini hanya diam terasa cukup mengerikan ketika memberikan ancaman. Aura yang dikeluarkan tak kalah mengerikan dengan Michael. Apa kali ini mereka sudah salah langkah?
"Kau sih! Kenapa hanya menebak satu minggu? Bagaimana kalau sampai kita kala?" ucap seorang lainnya menepuk kepala pria yang suka keceplosan itu.
__ADS_1
"Maka kita yang akan membuat dia meninggalkan Master," kata seorang pria dengan sorot tajam membara.
Sementara itu, Laura yang bosan malah menyusul beberapa bawahan langsung Michael yang tengah melatih senjata anak buah lainnya.
"Nyonya," sapa seorang anak buah yang biasanya mengikuti Michael. Tentu saja mereka menghormati wanita yang usianya jauh di bawahnya itu. Selain melihat sendiri bagaimana aksi istri tuannya. Mereka cukup sadar diri, tanpa Michael Laura pun bisa menghabisi mereka kapan saja jika menginginkan. Apalagi Tuannya sedang dalam masa bucin-bucinnya dan tidak dapat di ganggu gugat.
Laura hanya mengangguk kecil, mengamati setiap senjata yang tersedia di sana dengan cara meraba sekilas sambil berjalan kecil. Tangan kecil itu mampu mengenali senjata yang bagus dan tidak hanya dalam sekali sentuh. Tentu bukan hal yang mudah karena Laura harus berlatih keras untuk semua hal yang berada di luar kepalanya.
"Apa Anda ingin mencobanya, Nyonya?" tanya anak buah itu.
Bukannya menjawab, Laura malah langsung mengambil sebuah senjata api laras panjang dan mengkat benda tersebut, menempelkan di pipinya, serta mengarahkan pada anak buah yang bertanya itu.
Pria itu seketika mengangkat kedua tangannya, melihat di man Laura sudah dalam posisi siap untuk menembak sasaran. Dengan susah payah dia menelan ludahnya sendiri. "Ny—"
"Berikan informasi tentang mereka padaku malam ini!" Tanpa aba-aba sebuah peluru melesat kembali pada segerombolan orang yang tadinya menyindiri Laura. Padahal jarak mereka saat ini cukup jauh, tetapi dengan sengaja Laura mengarahkan senjatanya tepat di bangku bulat yang mereka gunakan itu.
Para pria itu sontak terhenyak kaget, dan menatap ke arah peluru datang. Di mana Laura lantas menurunkan senjatanya, dan malah menyeringai sambil menunjukkan jari tengah.
"Senjata ini tak cukup bagus. Dia melesat terlalu lama dibandingkan yang lainnya," ucap Laura berkomentar tentang senapan yang baru saja dia gunakan, dan melemparkan kembali pada pria di sampingnya.
__ADS_1
"Aku tunggu informasinya nanti malam. Dan Jangan katakan apapun pada Michael!" Tak ingin terlalu lama berdiri, setelah puas memberikan sedikit peringatan. Laura pun melangkah pergi, meninggalkan orang-orang yang menatap heran ke arahnya karena beranggapan dia hanya bermain-main dengan senjata dan menggunakan sembarangan.
To Be Continue...