Istri Tawanan Tuan Arogan

Istri Tawanan Tuan Arogan
Chapter 72


__ADS_3

Pagi itu, Laura yang sudah terbangun dengan tubuh yang lebih segar. Dia lantas berdiri di depan kamar, menghadap luar di mana pemandangan orang-orang latihan terlihat langsung dari balkon ruangan itu.


Jari jemari kedua tangan Laura saling bertautan, dia tarik ke atas tangannya sambil menguap lebar, menikmati semilir angin pagi dan sinar mentari hangat yang menerpa tubuhnya. Sungguh sangat menyegarkan rasanya pagi ini. Setelah sebelumnya setiap malam hubungannya bersama sang suami menjadi semakin harmonis.


Dia pun kembali ke dalam setelah puas melihat cuaca cerah di luar hari ini. Lagi-lagi sebuah sandwich dan segelas susu hangat sudah tersedia di atas meja kecil menyambut paginya, lengkap dengan selembar catatan manis dari sang suami. Bibir wanita itu terangkat tatkala membaca setiap rangkaian kata yang tertera di atas kertas tersebut. Mungkin jika tidak mengalaminya secara langsung, Laura tak akan menyangka kalau sosok yang tampak garang seperti Michael ternyata memiliki sisi romantis layaknya remaja kemarin sore. Suatu rutinitas baru yang cukup memekarkan bunga-bunga di hatinya.


"Cih, dia sangat kuno," gumam Laura mencebik, lalu menyimpan kertas itu di laci bersama lembaran-lembaran sebelumnya. Meskipun dianggap kuno, nyatanya mampu membuat senyum di wajah Laura merekah setiap saat. Dia lantas memakan sarapannya, lalu membersihkan diri dan melangkah keluar.


Beberapa anak buah Michael yang berlalu saat itu seketika membungkuk di saat melewati Laura. Bukannya senang, dia malah mengernyitkan dahi dan bersumpah dalam hati untuk mengkebiri Michael, kalau sampai pria tersebut nekat ikut campur dengan urusannya dan para pria di sini.


"Kau! Di mana tempat pria yang biasa berkumpul di sana?" tanya Laura menunjuk sebuah tempat di mana Leo dan kawan-kawan biasanya berkumpul. Namun, tidak dengan hari ini, apa kesleo di leher saja bisa membuatnya mati, hingga menyebabkan Laura sedikit penasaran.


"Di sana, Nyonya," tunjuk pria itu.


Laura hanya mengangguk, seluruh penghuni di sini memang berisikan pria. Bahkan koki beserta asisten yang bertugas pun tak memiliki satu pun staf wanita. Hanya Laura lah, satu-satunya perempuan di tempat itu.


Tanpa ragu Laura memasuki ruangan Leo. Ternyata rekan-rekan yang lainnya juga berada di sana menemani pria tersebut. Mereka sontak menatap ke arah datangnya Laura, sedangkan wanita itu sendiri tampak membelalak melihat kondisi Leo saat ini.


"Hei! Apa yang terjadi padamu? Kenapa harus ada penyangga sekalian di leher itu? Kau mau bermutasi dari manusia menjadi jerapah? Kenapa tidak bilang dari kemarin sekalian? Aku akan dengan senang hati menarik lehermu sampai dua meter," sindir Laura sebagai sapaan pagi ini.


"Kau!" Seorang pria lainnya berniat membalas dendam pada Laura, tetapi Leo segera menahan dan menggeleng kecil. Urusannya dengan wanita di hadapannya saat ini tidak boleh ada campur tangan orang lain. Melihat di mana pagi ini Michael juga tidak mengatakan apa pun seolah tak tahu apa yang terjadi sebelumnya. Di mana hal itu berarti Laura bukanlah wanita pengadu.

__ADS_1


Setelah situasi kembali kondusif, barulah Leo mulai membuka mulutnya. "Apa yang Anda inginkan di sini, Nona?"


"Aku?" Laura menunjuk dirinya sendiri, perlahan langkahnya semakin mendekat, hingga menyebabkan beberapa pria lainnya mulai waspada dengan wanita tersebut. "Tadinya aku ingin mengajakmu bermain. Tapi, sepertinya aku harus memberimu hadiah lebih dulu sebelum bermain."


Dengan santainya, Laura melangkah ke bagian belakang Leo, dan kedua tangannya pun kembali memutar leher pria itu hingga suara ktetek pun terdengar langsung oleh beberapa orang yang ada di sana.


"Kakak."


"Auwh."


Seruan serta rasa sakit dan niat untuk menyerang Laura menyebabkan mereka segera memasang posisi. Namun, gadis itu seolah tak memiliki rasa takut sama kali. "Bagaimana? Lehermu itu tidak patah. Jadi apa gunanya memakai alat bodoh ini?"


Dengan keras Laura menepuk penyangga leher yang melekat pada Leo. Beberapa pria sontak berteriak karena merasa kasihan padanya. Namun, bukannya merasa sakit, Leo malah merasakan jika lehernya telah kembali semula.


"Bagaimana?" tanya Laura.


Leo sontak menatap tajam ke arah Laura. Perasaan sembuh membuatnya mengingat ternyata terluka terasa begitu menyakitkan. keduanya saling melemparkan pandangan tak terartikan untuk waktu yang cukup lama. Menyebabkan suasana kembali terasa tegang.


Akan tetapi, sedetik kemudian Leo langsung mendekati Laura dengan wajah garang, dan menghunuskan tatapan tanpa kedipan itu dari jarak yang cukup dekat. Tanpa di duga bukannya marah, ternyata Leo malah menekuk lutut, dan bersimpuh di bawah kaki Laura.


Hal itu tentu saja membuat Laura mengambil langkah mundur sambil menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal. Apa yang dilakukan Leo? Apa kesleo di leher membuatnya sedikit tidak waras?

__ADS_1


"Kakak Ipar," sapa Leo menunjukkan wajah perdamaian hingga beberapa pria lainnya pun mengikuti apa yang dia lakukan dan bersimpuh di depan Laura.


Sontak Laura membelalak, mafia memang memiliki sikap yang membingungkan. Kemarin merendahkan seperti sampah, hari ini malah menyembah layaknya sesepuh yang baru keluar dari goa.


"Apa yang kau lakukan, hah? Cepat berdiri!" teriak Laura merasa dirinya seolah menjadi juragan tirani di pagi hari. Padahal seharusnya mereka menganggapnya malaikat, atau bidadari tak bersayap juga boleh.


"Kakak Ipar, maafkan ketidaksopanan kami sebelumnya. Harap terima permintaan maaf ini!" Dengan tegas Leo mengucapkan permintaan maaf yang tulus dari hati, dia bahkan tak segan untuk bersujud di hadapan Laura. Diikuti pria lainnya begitu saja.


"Hei! Cepat bangun! Aku akan memaafkanmu jika kalian bermain bersamaku hari ini. Jangan seperti ini! Aku bukan Tuhan."


"Siap, Kakak Ipar." Mereka pun segera berdiri tegak layaknya seorang jendral yang memimpin pasukannya.


Laura pun melangkah keluar, diikuti Leo dan kawan-kawan. "Enaknya kita bermain apa hari ini?" Dia mengedarkan pandangan ke segala arah sambil mengusap dagu.


Pandangan Laura pun berhenti di kala melihat beberapa motor trail terparkir rapi di sebuah sudut tempat itu. "Kita bermain itu, ambil kuncinya!" perintah Laura sambil menunjuk apa yang diinginkan.


Mereka sontak membelalak, apa wanita itu juga bisa naik motor trail. Namun, bukan Laura namanya jika penampilan tidak bisa mengejutkan orang lain.


Dengan cantiknya Laura mengikat rambutnya ke atas terlebih dahulu. Dia lantas memakai helm dan menyalakan mesin motor.


Suara bising motor trail mulai bersahutan, Laura pun bergegas memutar gas dan bergerak dengan mengangkat roda depan kendaraan itu.

__ADS_1


Semua pria yang menyaksikan pun dibuat kagum karenanya. "Apa dia masih gadis ingusan yang kemarin kau hina, Kak?" tanya pria bermulut comberan pada Leo yang juga tercengang akan pemandangan di depannya.


To Be Continue...


__ADS_2