Istri Tawanan Tuan Arogan

Istri Tawanan Tuan Arogan
Chapter 84


__ADS_3

Di sisi lain, Laura yang tersadar dari pingsan lantas mengerjapkan mata. Dia mengedarkan pandangan ke segala arah di mana dirinya berada saat ini. Merasa cukup pusing membuat tangannya sedikit memukul kepala. Apa yang terjadi dengannya? Berapa lama dia tidak sadarkan diri?


Dia menoleh ke samping, tempat di mana seorang Michael selalu ada saat dirinya membuka mata. Namun, saat ini hanya kekosongan yang ada. Pandangan Laura sontak melirik ke atas meja kecil di samping ranjang. Tempat di mana biasanya sarapan serta secuil kertas berisikan kalimat cinta yang manis selalu menyapanya tersedia di sana. Akan tetapi, lagi-lagi semuanya kosong, hanya angan semata. Akankah apa yang dikatakan John adalah kenyataan? Di mana keberadaan suaminya saat ini?


Perlahan Laura mencoba menyibakkan selimut di tubuhnya. Dia berdiri, berjalan ke arah balkon, membuka tirai kehidupan dan menggeser pintu kaca yang menjadi pembatas dunia luar dan dalam bagian kamar.


Semilir angin seketika menyapa harinya, ramai lalu lalang orang membereskan bangunan yang runtuh terdengar begitu jelas dalam gendang telinga Laura.


Dia menatap ke bawah, tidak ada lagi mayat yang berserakan. Hanya menyisakan beberapa pekerja yang melakukan renovasi ulang bangunan itu.


"Laura, kau sudah bangun?" teriak seorang pria di bawah sana yang tak lain adalah Leo.


Laura hanya melihatnya sekilas. Kalau dia tidak bangun, bagaimana bisa berdiri di balkon saat itu, bodoh.


"Kemarilah!" lanjut Leo.


Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Laura. Wanita itu hanya melihat sekilas apa yang dilakukan Leo, lantas berbalik pergi meninggalkan balkon untuk bersiap-siap terlebih dahulu. Setelah semuanya selesai, barulah Laura ikut turun bersama dengan beberapa anak buah yang lainnya.


Kini perlakuan mereka dengan Laura semakin berbeda, di mana setiap Laura melangkahkan kaki, masing-masing anak buah membungkuk hormat seolah mengakui dia sebagai istri sesungguhnya dari pemimpin utama King Master.


Laura hanya mengamati sekilas masing-masing orang yang berlalu-lalang. Banyak dari mereka yang terluka dan tangannya masih diperban. Ada pula yang harus memakai alat penyangga karena patah tulang atau terluka cukup parah.


Beberapa anak buah dan para pekerja tampak bekerja sama membersihkan sisa puing-puing bangunan yang rusak. Ternyata apa yang dilakukan John cukup membuat tempat mereka porak poranda. Menyebalkan sekali, entah berapa banyak kerugian yang harus mereka hadapi.

__ADS_1


"Apa kau sudah mendapatkan kabar dari Michael?" tanya Laura tanpa basa-basi pada Leo.


Pria itu pun menggeleng kecil. "Belum ada kabar. Tapi aku sudah mengirimkan beberapa anak buah ke sana untuk memastikan jika Master baik-baik saja."


Hanya helaan napas kasar yang terdengar dari mulut Laura. Bagaimana tidak, rasa khawatir tentu saja menghantuinya jika sang suami tak kunjung kembali. Padahal hari berlalu sudah lebih dari yang dia bayangkan.


Tak lama kemudian, dering ponsel di saku Laura menghentikan obrolan kedua orang tersebut. Dahi Laura sontak mengkerut melihat nomor pemanggil yang tidak tersimpan di ponselnya.


Hal itu pula yang membuat rasa penasaran pria di sampingnya muncul. "Kau mengenalnya?"


Laura menggeleng kecil. Jemarinya bergerak menggeser bulatan hijau dan meletakkan ponsel tersebut di telinganya. Mana tahu panggilan penting dari Michael yang tengah mengalami kondisi tak terduga.


"Hallo, sepupuku tercinta? Bagaimana kabarmu sekarang? Ah, seharusnya aku memanggilmu Nyonya Wilson bukan?" Sebuah suara yang dikenal di seberang sana, sontak membuat kedua bola mata Laura membelalak, hampir saja keluar dari tempatnya jika bukan karena ciptaan Tuhan.


"Nathalie," ucap Laura dengan geram mengepalkan salah satu tangan. Ada apa gerangan wanita itu menghubunginya di saat-saat seperti ini. Entah mengapa firasat buruk sontak merasuk dalam diri Laura.


Entah apa niat Nathalie menghubungi Laura saat ini. Namun, firasat buruk Laura mengatakan jika panggilan ini bukanlah sesuatu yang baik. Mengingat di mana Nathalie dengan terang-terangan membuka identitasnya saat ini. "Apa yang ingin kau sampaikan?" tanya Laura dingin.


"Emth, apa ya? Sebentar sebentar. Sepertinya hadiah yang aku kirimkan untuk Nyonya Muda Wilson sebentar lagi akan tiba. Seharusnya tidak perlu selama ini. Ish, pihak pengiriman mengatakan lokasimu sekarang terlalu jauh untuk dijangkau. Jadi, mereka agak terlambat."


Laura dan Leo sontak saling melempar pandangan. Markas King Master memang berada di tempat yang cukup jauh dari pusat kota. Akan tetapi, apa yang kira-kira wanita itu kirimkan untuk mereka.


"Apa yang—" Belum sempat Laura menghabiskan kalimatnya. Sebuah mobil box pengiriman tiba-tiba saja benar-benar datang sesuai dengan apa yang diucapkan Nathalie.

__ADS_1


"Paket," ucap sang pengirim barang.


"Apa yang kau kirimkan?" tanya Laura dengan deru napas mulai tak beraturan.


"Sudah sampai ya? Sayang sekali aku tidak bisa menemanimu dan melihat ekspresimu ketika membuka hadiah itu secara langsung. Anggap saja itu sebagai hadiah pernikahan kecil dariku karena kau sudah berani mengacaukan semua rencana kami. Semoga kau puas dengan apa yang aku berikan. Aku akan menghubungimu satu jam lagi."


Tanpa basa basi, panggilan itu pun terputus secara sepihak. Bahkan Laura belum sempat mengatakan hal lainnya. Dia dan Leo lagi-lagi saling berpandangan setelah sebuah kotak besar di angkat ke hadapan mereka, sedangkan kurir pamit pergi karena tugas mereka sudah selesai.


"Apa yang mereka kirimkan?" tanya Leo penasaran.


Laura menggeleng kecil. Satu orang saja tak cukup kuat untuk mengangkat benda tersebut, hingga diangkat oleh empat orang sebelumnya, memberi makna jika sesuatu di dalamnya tentu saja benda yang berat. Akan tetapi, tidak mungkin sebuah hadiah yang baik jika itu berasal dari Nathalie.


Keduanya perlahan bergerak mengelilingi kotak itu dengan sama-sama penasaran. Perlahan Laura mengulurkan tangannya, tetapi dihentikan oleh Leo.


"Jangan! Kita tidak tahu apa isi di dalamnya." Leo lantas memanggil beberapa anak buah, dan meminta Laura untuk menyingkir dari kotak itu, karena takut benda tersebut berisikan sesuatu yang buruk atau bisa meledak sewaktu-waktu.


Dengan perasaan berdebar, beberapa orang anak buah mulai membuka plastik wraphitam yang membungkus kotak tersebut. Nyawa mereka sedang di pertaruhkan kali ini jika isi di dalamnya benar-benar bahan peledak.


Keempat orang memberikan isyarat untuk membuka tutup kotaknya secara bersamaan setelah semua plastik berhasil disingkirkan. Namun, mereka seketika menyingkir setelah kotak itu terbuka sepenuhnya dan berbalik karena merasa mual akibat bau yang di timbulkan.


Aroma busuk seketika menguar ke udara menyebabkan beberapa orang di sana sontak mengeluarkan isi perutnya. Tak terkecuali Laura yang langsung berbalik dan membiarkan perasaan tidak enak itu menguras habis makanannya pagi tadi.


Sementara itu, Leo hanya menutup hidungnya dan berusaha mendekati kotak untuk melihat apa yang ada di dalamnya. Pria itu seketika membelalak seolah tak percaya dengan kiriman yang baru saja mereka dapatkan.

__ADS_1


"Jangan bilang itu Michael!" teriak Laura tak ingin mendapatkan kabar buruk tentang suaminya.


To Be Continue....


__ADS_2