Istri Tawanan Tuan Arogan

Istri Tawanan Tuan Arogan
Chapter 42: Mencari Laura


__ADS_3

Berbeda halnya dengan Zack yang fokus mencari Laura saat ini. Michael harus bergerak dengan hati-hati karena keluarganya terus saja menghubunginya hanya untuk mendesak agar menikahi Nathalie. Padahal kondisi fisiknya saja belum pulih betul dan anak buahnya juga belum menemukan berita tentang Laura.


Kabar tentang pernikahan yang berakhir duka setelah acara sakral tentu saja membuat publik heboh dan mengutuk pernikahan pembawa petaka itu. Alih-alih mengabaikan berita simpang siur dan berduka atas kematian Argon. Lady malah terus membawa Nathalie ke kediaman Wilson. Padahal jelas-jelas wanita itu sudah menghabiskan malam bersama Nathan. Akan tetapi, masih saja serakah menginginkan Michael.


"Mama mencarimu lagi, Kak. Dengan wanita itu tentunya," ujar Nathan memasuki kamar Michael.


Sang kakak tengah melepaskan perban di tubuh karena luka tersebut sudah mengering. Hubungan kedua saudara itu memang semakin rapat, apalagi setelah Michael mengetahui cerita sang ayah yang ternyata hanya anak angkat di keluarga ini.. Tidak ada alasan bagi Michael untuk membenci Nathan karena posisinya sebenarnya sama dengan Argon, hanyalah orang lain. Lagi pula adiknya itu termasuk sosok polos yang masih suka bermain-main, tidak licik seperti ibunya. Namun, jelas bisa diandalkan di waktu yang tepat.


"Biarkan saja. Kau harus lebih berhati-hati dengan wanita mulai sekarang. Jangan terlalu sering bermain dengan mereka! Karena ketika mereka menginginkan sesuatu, maka dengan cara apapun mereka akan menjeratmu. Terutama wanita itu," ujar michael tanpa menoleh ke arah adiknya dan tetap menatap cermin di depannya.


Satu per satu masalah seolah datang bertubi-tubi dalam genggaman Michael. Selain dia harus mengawasi jalannya bisnis mereka, dan mencari berita tentang Laura bersama anak buahnya. Dia juga harus tetap waspada dengan pergerakan James Whale serta keluarganya sendiri.

__ADS_1


"Cih, mereka tidak akan mengejarku sepertimu. Entahlah, kenapa para wanita itu aneh sekali. Selalu saja menyukai pria datar yang membosankan sepertimu. Hanya Laura yang sepertinya tidak terlalu menyukaimu," ujar Nathan mencebik.


"Jangan sembarangan kalau bicara! Jelas-jelas dia tidak bisa menolak pesonaku." Michael segera memakai pakaiannya setelah selesai melepaskan perban. Tak lama kemudian, ponsel pun berdering di sakunya. "Katakan!" ucapnya setelah mengangkat panggilan tersebut.


"Master, mereka mengerahkan banyak pasukan di daerah Chameleon," lapor seorang anak buah di ujung panggilan.


"Chameleon," gumam Michael lantas menoleh pada sang adik. "Cari tahu peristiwa apa yang baru saja terjadi di daerah Chameleon."


Dengan kesal Michael memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. "Kau jaga Papa," pesan Michael pada Nathan.


Baru saja hendak melangkah keluar orang yang dimaksudkan sudah berada di ambang pintu. "Apa maksudnya, Mich?" tanya Argon.

__ADS_1


"Sepertinya hal buruk benar-benar terjadi pada Laura, Pa. Aku harus segera ke sana."


"Papa ikut!"


"Tapi, Pa—"


"Papa lebih mengenal daerah itu dibandingkan kamu, Mich." Sebuah alasan yang memang masuk ke logika. Sepak terjang Argon Wilson siapa yang tidak tahu. Apalagi daerah Chameleon memang berada di perbatasan dua negara.


"Baiklah, ayo kita berangkat! Tapi aku hanya mengizinkan Papa menunggu di mobil, bukan ikut mencari. Papa, masih belum pulih untuk melakukan aktivitas berat." Michal akhirnya memilih mengalah. Lagi pula memang dia sedikit belum memahami daerah itu.


"Baiklah. Jangan membawa banyak orang! Terlalu mencurigakan. Lebih baik kita menyamar."

__ADS_1


Nathan dan Michael saling melempar pandangan mendengar nasehat sang ayah. Namun, memang benar apa yang dikatakan pria paruh baya itu. Keduanya pun segera mengangguk paham dan melakukan penyamaran layaknya orang biasa sebelum bergerak menuju Chameleon.


__ADS_2