
Berbeda halnya dengan Laura maupun Lady, Michael yang tengah mengurus kapal yang hilang juga harus melalukan tugas ganda karena berita tentang ayahnya yang menghilang juga telah sampai ke telinganya.
Hari di mana dia seharusnya menyelidiki apa yang terjadi dengan kapal pengiriman, malah menjadi hari di mana dia harus ikut bersama beberapa pasukan khusus kemiliteran untuk mencari Argon, serta beberapa kapal yang dikawalnya.
Mereka menghilang secara bersamaan di perairan Oyster. Menyebabkan guncangan hebat di pemerintahan. Entah apa yang terjadi sebenarnya, tetapi Michael hanya ingin membawa ayahnya serta pemimpin negeri ini untuk kembali.
Konspirasi di pemerintahan memang cukup mengerikan. Kebijakan yang ditetapkan tak dapat membuat semua pihak puas akan keputusan yang diberikan. Hingga berakhir dengan adanya beberapa orang yang melakukan segala cara demi mencapai tujuannya. Lagi-lagi perebutan kekuasaan harus terjadi di sini.
Michael dan beberapa kelompok militer laut itu, tengah berada di sebuah kapal selam dengan persenjataan lengkap. Namun, Michael tidak dapat menghubungi istrinya untuk memberikan kabar terlebih dahulu apa yang dia kerjakan karena memang sinyal yang terbatas serta terlalu berbahaya jika menunjukkan diri.
"Apa itu?" tanya Michael melihat banyaknya sebuah benda mengapung di air berbentuk bulat tak biasa.
"Ranjau laut. Matikan seluruh mesin dan jangan ada yang bersuara!" perintah sang kapten kapal.
Awak kapal yang lainnya pun menurut dan menjalankan tugas. Karena mereka menangkap di sana terdapat pendeteksi suara yang nantinya dapat memberikan sinyal keberadaan mereka pihak memasang seluruh jebakan di ke dalaman laut itu.
Suasana sontak menjadi hening dan menegangkan, mereka hanya bisa mengandalkan laju gerak gelombang air laut layak mobil yang berjalan tanpa menyalakan mesin. Hal terberatnya adalah harus menghindari setiap ranjau air yang terpasang di beberapa titik di sekitar mereka.
Tak lama kemudian, situasi menjadi normal. Setelah mereka berhasil melalui jalur mematikan itu. Akan tetapi, sedetik kemudian seorang awak kapal melaporkan apa yang dilihatnya tak jauh dari titik mereka berada. "Kapten."
Sang kapten segera mendekat, terdapat sebuah bangkai kapal yang dikenalnya sebagai salah satu kapal tim yang menjalankan tugas, tetapi menghilang sebelum Argon dikirimkan sebagai ganti selanjutnya.
"Apa ini? Jadi mereka menghilang karena ini," gumam sang kapten.
__ADS_1
Dengan kamera pengintai yang tersedia di kapal selam itu, mereka pun menyusuri bangkai kapal tersebut. Tanda-tanda kapal hancur dengan beberapa bekas lubang yang menerobos membuat mereka yakin, jika kapal tersebut menghilang bukan di karenakan kesalahan teknis ataupun menabrak batu karang. Kapal tersebut tenggelam karena sebuah serangan torpedo yang cukup jelas. Sebab beberapa lubang menjorok ke dalam menyatakan serangan berasal dari luar.
"Siapkan peralatan tempur," ucap kapten tersebut memerintahkan anak buahnya untuk menyiapkan dua misil yang memang tersedia di kapal mereka guna berjaga-jaga.
Para awak kapal bergerak sesuai dengan perintah sang kapten, sedangkan Michael menatap gambaran bangkai kapal beserta beberapa tulang manusia di dalamnya. Akankah ayahnya juga mengalami nasib yang sama. Sebagai seorang anak tentu saja dia berharap agar sang ayah masih kembali kepadanya dalam keadaan sehat dan selamat.
Tak lama kemudian, lagi-lagi seorang awak melaporkan temuannya dan mengatakan adanya tanda-tanda kehidupan di sisi lain bagian laut itu.
"Di mana tepatnya?" tanya sang kapten.
"Lima ratus yard tepat di atas kita," jawab sang awak.
Sedetik kemudian, awak kapal lainnya lagi-lagi mengatakan hal yang mengerikan menyebabkan semua orang di dalamnya terkejut seketika. "Kapten, mereka menembakkan sebuah torpedo air kepada kita. Jaraknya semakin dekat."
"Mereka menembaki kita?" tanya Sang Kapten seolah tak percaya mendapatkan serangan dadakan itu.
"Luncurkan pengelak! Menyelam enam puluh derajat ke bawah!" perintah sang kapten sambil bergerak ke sana ke mari mengamati situasi.
"Siap Kapten!" Para awak kapal sontak bekerja dengan keras saat ini. Pertempuran di bawah laut bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakukan. Mereka harus bisa bekerja sama dengan baik, kecepatan, ketepatan, serta keputusan yang bijak harus di ambil demi kelangsungan hidup seluruh awak kapal.
Suasana yang awalnya hening kini berubah menjadi menegangkan. Michael hanya bisa diam dan ikut serta hanyut dalam ketegangan. Ternyata pekerjaan sang ayah lebih sulit dari yang dia bayangkan sebelumnya. Seandainya boleh memilih, Michael pasti akan berpikir sama dengan Aragon yang lebih suka hidup bebas di daratan.
Tiga pengelak yang diluncurkan bekerja dengan cara mengacaukan dan mengalihkan arah torpedo yang dilayangkan oleh musuh agar tak mengenai sasaran. Benar saja, akhirnya mereka pun berhasil melewati sebuah serangan setelah torpedo itu tak lagi mengejar mereka.
__ADS_1
Namun, sang kapten kapal tak ingin berdiam diri ketika di serang seperti itu. "Luncurkan misil satu dan dua!"
"Siap, Kapten!"
Dua buah torpedo sebagai serangan balik segera terlepas, bergerak ke atas sambil dipindai dengan sonar. Misi pintar torpedo diluncurkan, benda tersebut meluncur dengan kecepatan tinggi bersiap menghancurkan kapal lawan. Namun, posisi mereka yang bersembunyi tepat di bawah bongkahan menyebabkan sonar tidak dapat mengidentifikasi posisi mereka dengan jelas.
Akan tetapi, pengalaman sang kapten dalam menelusuri lautan membuatnya dapat berpikir dengan tenang. Dia memerintahkan awak kapal untuk menyerang dari sisi lainnya, dan tak butuh waktu lama, torpedo itu pun berhasil mengenai sasarannya dan kapal lawan itu pun meledak di dalam air.
Sayangnya apa yang dilakukan menyebabkan, alat pengelak rusak. Hingga torpedo lawan sebelumnya pun kembali mengejar mereka.
"Melaju dengan kecepatan tinggi menuju bangkai kapal sebelumnya!"
Dengan cepat kapal itu pun kembali bergerak sesuai arahan sang kapten. Mereka kembali pada titik di mana menemukan bangkai kapal sebelumnya. Beruntung mereka tiba tepat waktu melalui kapal itu. Torpedo pun mendarat tepat di bangkai kapal, sedangkan mereka berhasil melewati masa kritis yang berlangsung cukup menegangkan.
Mereka kembali bergerak menulusuri lautan. Setelah cukup lama, lagi-lagi tanda kehidupan kembali terdengar. Sang kapten mengeraskan pengeras suara yang mereka dapatkan. Beberapa kali ketukan tampak terdengar dengan begitu jelas dari sebuah titik bangkai kapal.
Mereka pun perlahan mendekat dan mengangkat benda berupa kapal selam kecil penyelamat berisikan sumber suara. Tak lama kemudian, pintu terbuka dua, orang di dalamnya keluar dari sana, dan salah satunya sontak membuat semua orang di sana membelalak mata.
"Papa," sapa Michael seolah tak percaya dengan apa yang baru saja mereka temukan dan langsung memeluk sang ayah. "Syukurlah kau masih hidup."
"Mich, kau di sini?" tanya Argon sama halnya terkejut seperti sang putra.
"Kapten Argon, apa yang terjadi?" tanya sang kapten di kapal yang kini mereka tumpangi.
__ADS_1
"Gawat! Kita harus bergerak cepat! Presiden sedang dalam bahaya. Segera menuju ke perbatasan perairan untuk misi penyelamatan," ucap Argon menyebabkan beberapa orang di sana saling melemparkan pandangan bingung dengan situasi apa yang sebenarnya sedang mereka hadapi.
To Be Continue...